Pemerintah Diminta Kaji Ulang Konsep TMII Setelah Mengambil Alih Pengelolaan

Rabu, 14 April 2021 12:40 Reporter : Iqbal Fadil
Pemerintah Diminta Kaji Ulang Konsep TMII Setelah Mengambil Alih Pengelolaan Memanfaatkan libur panjang Tahun Baru Islam di TMII. ©2020 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Setelah Presiden menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan pengelolaan TMII dilakukan oleh Kemensetneg bukan lagi oleh Yayasan Harapan Kita.

Sastrawan Esha Tegar Putra menilai pemerintah harus melakukan pemetaan ulang potensi TMII secara keseluruhan, jika memang tempat tersebut diwacanakan sebagai cultural theme park dengan standar internasional.

"Puluhan tahun TMII sebenarnya sudah menjadi lokasi pengenalan budaya Indonesia, meski terkesan sentralistik, dan terdapat anggapan bahwa ragam situs bangunan dan kreasi budaya yang ditampilkan di TMII adalah gambaran dari Indonesia utuh," kata penyair nasional ini dalam keterangan tertulisnya, Rabu (14/4).

Menurutnya, konsep ke-Indonesia-an ini harus dikaji ulang secara bersama melalui pemetaan potensi tersebut. Terutama soal keragaman, jika memang pemerintah ingin memperlihatkan keragaman dan toleransi Indonesia melalui TMII ke depan.

"Sebetulnya sejauh ini TMII hanya menjadi ikon dari keragaman budaya, namun tidak sepenuhnya menunjukkan keragaman, karena ada bagian dari Indonesia yang hilang melalui bangunan situs dan program-program yang ada di sana. Contohnya saja, bangunan ikonik beragam rumah adat di sana mengeliminir keragaman bangunan rumah adat lain yang sebenarnya lebih beragam lagi di sebuah provinsi. Hal utama yang akan mengubah wajah dari TMII ke depan adalah kandungan nilai edukasi mengenai kebudayaan Indonesia dan tidak semata pada bangunannya. Hal ini tentu akan tercapai melalui program-program edukasi budaya yang diselenggarakan di sana nantinya" jelas Esha.

Esha menambahkan, Pemerintah juga harus paham bahwa investasi pada kebudayaan berbeda dengan investasi terhadap benda yang secara langsung dapat memberi kontribusi pada keuangan negara.

"Investasi kebudayaan merupakan penanaman nilai-nilai kebaikan dan rasa berkebangsaan. Hasilnya tentu saja menjadikan manusia Indonesia lebih baik, paham akan keragaman, menghargai bahwa Indonesia multikultur. Tentu saja untuk mencapai niat tersebut pemerintah harus berdialog dengan banyak orang, tidak hanya dengan para teknokrat, tapi juga dengan para budayawan dan seniman. Mindset mengenai TMII harus dipikirkan ulang secara bersama" pungkasnya.

Sementara itu, seniman Jumaldi Alfi berharap, TMII dapat memberikan peluang dengan mendirikan infrastruktur, bangunan yang representatif dan pengelolaan yang profesional dan baik.

"Saya berharap di sana ada sebuah museum yang layak untuk menampung karya-karya seni anak bangsa. Sudah seharusnyalah Indonesia mempunyai museum Seni Rupa sekelas Singapore Art Museum atau MOMA, Museum of Modern Art New York yang pernah saya kunjungi. Dan Pemerintah Indonesia mampu untuk hal itu, kalau mau," katanya.

Dia mengharapkan, perhatian yang lebih mendalam dari pemerintah terhadap aset Seni dan Budaya bangsa Indonesia. Tidak hanya pada kepedulian pada aset-aset yang berupa artefak namun juga kepedulian pada pencapaian-pencapaian dari perkembangan Seni dan Budaya Kontemporer atau masa kini seniman dan budayawan Indonesia.

"Tidak menutup mata, dalam kancah pergaulan Seni Rupa Internasional, seniman-seniman Indonesia telah memberi warna dengan pencapaian-pencapaian artistik, estetika dan konseptualnya. Terbukti pada event-event perhelatan Seni Rupa Dunia, baik itu event wacana konseptual seperti Bienalle, Trienalle, yang mengundang Seniman Internasional dari penjuru dunia, seniman Indonesia termasuk penampil yang di nantikan kehadiran karya-karyanya. Pun begitu jua dalam event Wacana Art Market atau Art Fair, Seniman Indonesia cukup mendapat apresiasi yang besar" tutup Jumaldi Alfi.

Diketahui, setelah hampir 44 tahun dikelola oleh Yayasan Harapan Kita dan tidak memberikan kontribusi kepada negara maka Pemerintah Jokowi mengambil alih TMII untuk memperbaiki pengelolaan agar lebih bermanfaat dan memberikan kontribusi signifikan kepada negara.

Melalui Perpres Nomor 19 Tahun 2021 tersebut, Kemensetneg berkomitmen menjadikan TMII sebagai kawasan pelestarian dan pengembangan budaya bangsa, sarana wisata edukasi bermatra budaya nusantara, menjadi cultural theme park berstandar internasional, serta fasilitas lain yang mendorong inovasi dan kreativitas budaya anak bangsa. [bal]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. TMII
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini