Pelanggaran kebebasan beragama di 2014 turun karena musim pemilu

Senin, 29 Desember 2014 14:29 Reporter : Faiq Hidayat
Pelanggaran kebebasan beragama di 2014 turun karena musim pemilu Simbol ruang ibadah bersama umat beragama. ©flickr.com

Merdeka.com - Direktur Wahid Institute, Yenny Wahid, menilai penurunan angka pelanggaran kebebasan beragama, berkeyakinan (KBB) dan intoleransi pada tahun 2014 karena bertepatan pemilu legislatif dan presiden 2014. Janji-janji kontestan politik dinilai menjadi faktor yang berpengaruh.

"Momentum pileg dan pilpres kemarin mendorong banyak pihak, khususnya kontestan pemilu berlomba-lomba menunjukkan diri sebagai pihak yang pro terhadap isu-isu toleransi dan antikekerasan. Justru isu pemurnian agama yang diusung salah satu kandidat pemilu atau pengawasan kampanye negatif di masjid-masid banyak mendapat kritikan masyarakat," kata Yenny Wahid dalam peluncuran laporan tahunan kebebasan beragama 'Utang' Warisan Pemerintah di Taman Amir Hamzah, Jakarta, Senin (29/12).

Selain itu, menurut dia, isu toleransi tidak menjadi fokus utama dalam berita media cetak, online, radio dan televisi sehingga mengakibatkan isu-isu kebebasan beragama, beragama dan intoleransi berkurang.

"Dalam konteks pemilu legislatif dan presiden 2014, isu toleransi tidak menjadi satu-satunya berita di media massa. Jadi adanya penurunan jumlah peristiwa," ujarnya.

Dia menambahkan, gerakan masyarakat sipil dalam memantau, menyuarakan dan mempublikasikan kasus-kasus pelanggaran KBB dan intoleransi cukup berhasil membangun kesadaran publik.

"Masyarakat sipil itu tidak hanya korban, pegiat dan organisasi HAM, tetapi juga tokoh dari organisasi keagamaan, media massa dan masyarakat umum."

Wahid Institute menyampaikan lembaganya pada tahun 2014 mencatat telah terjadi pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB) dan kasus intoleransi di 18 provinsi di Indonesia. Salah satunya, GKI Yasmin di Bogor yang dilarang untuk beribadah lantaran permasalahan perizinan bangunan, kendati pengadilan sudah mengesahkannya.

Temuan pelanggaran KBB tersebut didapat melalui pemberitaan media cetak maupun elektronik dan juga pengaduan dari masyarakat melalui SMS.

"Tahun ini kami menemukan peristiwa pelanggaran KBB terjadi di 18 wilayah yakni Jawa Barat, Jakarta, Banten, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Maluku Utara, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah, Aceg, Sumatra Barat, Sumatra Utara, NTB dan NTT."

Dia menambahkan adanya jumlah penurunan peristiwa pelanggaran KBB dan intoleransi pada tahun sebelumnya. "Tahun 2009 ada 121 peristiwa, 2010 ada 184 peristiwa, 2011 ada 267 peristiwa. Lalu tahun 2012 ada 278 peristiwa, 2013 ada 245 peristiwa dan 2014 ada 154 peristiwa." [ren]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini