Pelacur setengah bugil dalam akuarium di Red Light District

Sabtu, 14 Juni 2014 09:07 Reporter : Wisnoe Moerti
Pelacur setengah bugil dalam akuarium di Red Light District Red Light District. ©2014 Merdeka.com/Wisnoe Moerti

Merdeka.com - Ada sensasi tersendiri saat menjelajah pusat Kota Amsterdam menjelang malam. Hari masih terang meski jam tangan sudah menunjukkan pukul 19.00. Walaupun matahari belum terbenam, geliat kehidupan malam di pusat Kota Amsterdam sudah mulai berdenyut.

Tidak dipungkiri, kawasan prostitusi Amsterdam sudah tersohor dan menjadi bagian dari destinasi wisatawan. Entah sekadar melihat secara langsung bebasnya pelacuran di kawasan ini, atau ikut larut dalam lingkaran maksiat. Cukup berjalan 10 menit dari Amsterdam Centraal Station atau Stasiun Kereta Amsterdam, atau sekitar 1 kilometer ke arah barat stasiun, sudah memasuki kawasan dengan lampu-lampu berwarna merah redup. Karena alasan itulah kawasan ini dikenal dan dinamakan Red Light District atau Zeedijk dalam bahasa Belanda. Letaknya tak jauh dari dam square di jantung Amsterdam.

Kawasan ini cukup tersohor sebagai pusat prostitusi bebas di Belanda. Sama tersohornya dengan kawasan Dolly di Jawa Timur yang disebut-sebut sebagai kawasan prostitusi terbesar di Asia Tenggara. Bisa dibilang, pemerintah kerajaan Belanda sangat liberal soal pelacuran. Prostitusi dilegalkan secara hukum. Karena itu ada aturan hukum yang mengikat pekerja seks. Mulai dari batasan usia hingga kewajiban mengikuti test kesehatan.

Tidak hanya itu, mereka juga wajib membayar pajak cukup tinggi. “Pelacurnya ada izin khusus dan mereka bayar pajak atas pekerjaan mereka. Mereka bayar 33 persen (dari pendapatan) tapi dijamin dari perawatan juga,” ujar Burhan, warga Belanda keturunan Indonesia, saat berbincang dengan merdeka.com akhir pekan lalu.

Model pelacur di kawasan ini pun beragam. Mulai dari berambut pirang, rambut hitam terurai, berbadan kurus atau gemuk, berwajah Eropa hingga Asia. Semua tersedia tergantung keinginan lelaki hidung belang. “Sepanjang jalan banyak perempuan nakal (pelacur),” katanya.

Di kawasan ini, ada dua jalan yang dipisahkan sungai dengan air tenang. Sepanjang mata memandang, baik di kanan maupun kiri jalan, berjajar rumah-rumah prostitusi pemuas syahwat. Salah satu keunikan dari Red Light District, pelacur tidak menjajakan diri di tepi jalan, melainkan di dalam ruangan kaca di rumah tersebut. Mereka menjajakan diri seperti dagangan di sebuah etalase kaca toko. Layaknya ikan hias dalam sebuah akuarium. Untuk menarik perhatian, mereka tampil nyaris telanjang. Hanya berbalut bra dan celana dalam untuk menutupi tubuh mereka.

Tentu saja ini menarik perhatian setiap orang yang melintas di kawasan itu. Dari balik kaca, perempuan berambut pirang dengan bra dan celana dalam warna merah jambu, bergoyang mencari perhatian pengunjung, mengumbar birahi. Tatapannya nakal menggoda setiap mata lelaki yang melintas di depannya. Bila pengunjung tidak melihat ke arahnya, tanpa ragu dia mengetuk kaca berharap pandangan pengunjung mengarah pada dirinya.

Di sisi jalan lain, seorang pria Asia nampak berbincang dengan si pelacur. Pintu dibuka, transaksi pun dimulai. Tak berselang lama, pria itu langsung masuk ke dalam rumah, disusul perempuan penjaja syahwat yang meninggalkan ruang kacanya.

Tarif pelacur di Red Light District cukup menguras kantong. Tapi tergantung negosiasi sebelum transaksi. Salah satu pelacur di kawasan itu membanderol harga sekitar 80 Euro atau sekitar Rp 1.279.000. Tarif itu masih bisa dinego. Tawar menawar hal lumrah dalam sebuah transaksi, termasuk transaksi pemuas syahwat. “Itu untuk short time,” katanya salah seorang pelacur saat melakukan tawar menawar. Sementara untuk long time, banderolnya bervariasi, bisa menembus di atas 250 Euro atau sekitar Rp 3.995.000. [war]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini