Pegiat Antikorupsi Harap Hakim Vonis Edhy Prabowo Lebih Berat dari Tuntutan Jaksa

Kamis, 15 Juli 2021 14:53 Reporter : Bachtiarudin Alam
Pegiat Antikorupsi Harap Hakim Vonis Edhy Prabowo Lebih Berat dari Tuntutan Jaksa Edhy Prabowo Dituntut Lima Tahun Penjara. ©2021 Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Merdeka.com - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, akan mendengarkan vonis hakim hari ini. Edhy terjerat kasus dugaan korupsi Benih Benur Lobster (BBL).

Peneliti Transparency International Indonesia (TII), Alvin Nicola, berharap hakim menjatuhkan hukuman lebih tinggi dari tuntutan jaksa. Sebelumnya, jaksa menuntut politikus Partai Gerindra itu dengan hukuman 5 tahun penjara.

"Kami berharap majelis hakim menjatuhkan hukuman yang melampaui tuntutan jaksa yang terlampau rendah," kata Alvin saat dihubungi merdeka.com Kamis (15/7).

Menurut Alvin, tuntutan lima tahun penjara sangat tidak sebanding dengan yang diperbuat Edhy Prabowo. Terlebih, kasus ini terbongkar di tengah Pandemi Covid-19 dan diyakininya sangat melukai rasa keadilan.

"Hal ini mengingat korupsi yang dilakukan EP sangat melukai rasa keadilan, dilakukan saat pandemi, menggunakan kekuasaannya sebagai Menteri serta jumlah yang sangat besar," ujarnya.

Senada dengan hal itu, Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gadjah Mada (Pukat UGM) Yuris Rezha Kurniawan menilai kalau tuntutan lima tahun penjara terbilang sangat ringan.

"Tuntutan pidana dari jaksa ini sebetulnya masih cukup ringan, karena kalau kita bicara pasal 12 a UU Tipikor sebagai salah satu pasal yang disangkakan, hukuman maksimalnya bisa sampai seumur hidup atau setidaknya 20 tahun penjara," ujarnya.

Dia mengkhawatirkan beberapa tuntutan ringan oleh jaksa akan menjadi tren bagi hakim menjatuhkan vonis lebih rendah lagi pada tersangka kasus korupsi.

"Jangan-jangan ke depan juga akan mulai diikuti dengan tren tuntutan ringan oleh para jaksa. Ini sangat tidak baik jika dikaitkan dengan semangat penegakan hukum tindak pidana korupsi di tengah kondisi korupsi yang semakin masif," tegasnya.

Perlu diketahui saat ini sidang pembacaan vonis yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Albertus Usada terhadap terdakwa Edhy Prabowo beserta keenam terdakwa lainnya yaitu Staf Khusus Edhy, Safri dan Andreau Misata Pribadi, pemilik PT Aero Citra Kargo (ACK) Siswadhi Pranoto Loe. Lalu staf istri Edhy, Iis Rosita Dewi bernama Ainul Faqih serta Direktur PT Dua Putra Perkasa, Suharjito, juga sekretaris pribadi Edhy yaitu Amiril Mukminin masih berlangsung

Sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berharap majelis hakim menyatakan Edhy Prabowo bersalah dan mempertimbangkan seluruh fakta hukum yang disampaikan tim jaksa penuntut umum pada KPK dalam tuntutan.

"KPK tentu berharap majelis hakim akan memutus dan menyatakan terdakwa bersalah dengan mempertimbangkan seluruh fakta hukum sebagaimana uraian analisis yuridis JPU dalam tuntutannya," ujar Plt Juru Bicara KPK Ipi Maryati Kuding dalam keterangannya, Kamis (15/7).

Diketahui, jaksa penuntut umum pada KPK menuntut agar mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo dijatuhi hukuman 5 tahun penjara denda Rp400 juta subsider 6 bulan kurungan. Edhy juga dituntut untuk membayar uang pengganti sejumlah Rp9.687.447.219 dan USD 77 ribu.

Edhy dianggap terbukti bersalah menerima suap Rp25,7 miliar terkait izin ekspor benih bening lobster (BBL) atau benur di KKP. Duit suap itu diberikan guna mempercepat proses persetujuan pemberian izin budidaya lobster dan izin ekspor BBL kepada PT DPPP dan para eksportir BBL lainnya.

Dituntut 5 tahun penjara, Edhy Prabowo menyampaikan permohonan maaf kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan Menteri Pertahanan (Menhan) yang juga Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto.

"Permohonan maaf secara khusus saya sampaikan kepada Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Bapak Prabowo Subianto, yang selama ini telah memberikan amanah atau kepercayaan kepada saya," kata Edhy Prabowo saat membacakan nota pembelaan (pleidoi) dari Gedung KPK yang tersambung secara daring dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jumat (9/7). [lia]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini