Pascagempa, Gubernur Bali fokus tangani pasien RS dievakuasi keluar gedung

Senin, 6 Agustus 2018 12:59 Reporter : Moh. Kadafi
Pascagempa, Gubernur Bali fokus tangani pasien RS dievakuasi keluar gedung Gubernur Bali Made Mangku Pastika. ©2018 Merdeka.com/Moh Kadafi

Merdeka.com - Terjadinya gempa di Lombok Utara Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan berkekuatan 7 SR, Minggu (5/8) malam, yang dampaknya terjadi di Bali, hingga membuat panik masyarakat dan juga ada beberapa bangunan rusak.

Gubernur Bali, Made Mangku Pastika menyampaikan untuk dampak gempa atau total kerugian masih diinventalisir oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provisi Bali.

"Untuk saat ini sedang diinventalisir dimana yang perlu dilakukan tindakan segera. Terutama, yang betul-betul rusak dan butuh pertolongan segera," ucapnya, di Denpasar. Senin (6/8).

Ia menegaskan fokus utama penanganan pasca gempa yakni pasien pasien yang berada di rumah sakit umum, seperti RSUD Sanglah dan Bali Mandara atau Rumah Sakit Umum lainnya yang ada di Bali. Sebab, saat gempa terjadi pasien dievakuasi keluar gedung.

"Terutama yang ada di rumah sakit ini, kita harus fasilitasi sedemikian rupa. Kalau di rumah sakit yang dibawa keluar ini kan oksigennya terbatas. Tidak bisa lama-lama. Karena oksigen portabel itu jumlah tidak seberapa dan bisa satu jam sudah habis oksigennya," ujarnya.

Maka dengan persoalan tersebut, Pastika menyampaikan untuk oksigen portabel akan di perbanyak dan untuk Rumah Sakit Umum juga sudah disiapkan tenda-tenda darurat untuk mengantisipasi jika terjadi gempa lagi.

"Oleh karena itu kita antisipasi segera oksigen portabelnya. Karena itu solusinya, kalau nanti terjadi lagi kita sudah siapkan tenda dan tadi malam sudah ada tenda," jelasnya.

"Kalau terjadi lagi tenda yang paling aman untuk para pasien. Kemudian juga harus di persiapkan genset dan sebagainya untuk di di rumah sakit jika pada saat terjadi operasi terjadi gempanya dan lampu mati. Ini juga menjadi persoalan. Jadi aspek-aspek teknis itu harus kita antisipasi," tambah Pastika.

Dari hasil laporan, menurut Pastika yang paling besar terkena dampak adalah di wilayah Kabupaten Karangasem, karena memang wilayah yang terdekat dengan Lombok.

"Ada beberapa Pelinggih atau Pura yang roboh dan juga rusak. Kalau kita yang lain kebanyakan hanya plafon-plafon saja," ujarnya.

Sementara untuk korban gempa yang meninggal ada dua orang yang pertama seorang perempuan asal karangasem, Ni Kadek Yuliani. Korban dikabarkan meninggal akibat tertimpa tembok di indekosnya di Banjar Juet Sari, Desa Pemogan Denpasar.

Kemudian, korban kedua adalah pengunjung Resto Golden Palace Kuta di Jalan Raya Kuta, bernama Drs Witjaksono yang tercatat sebagai warga Jakarta kelahiran 1954. Korban Witjaksono yang merupakan wisatawan lokal meninggal diduga akibat serangan jantung akibat kepanikan yang terjadi saat gempa mengguncang.

"Untuk korban jiwa ada satu yang langsung akibat gempa tertimpa robohnya tembok, dan satu lagi meninggal di rumah sakit Sanglah karena terkena sakit jantung karena kaget," ungkap Pastika.

Untuk kedepannya, Pastika mengimbau bagi masyarakat Bali, agar tetap tenang menghadapi situasi tersebut. Selain itu, bagi warga yang berada di pesisir Pantai tetap waspada.

"Imbau pada warga, iya harus tenang dan terutama yang tinggal di pantai, potensi tsunami selalu ada karena yang paling bahaya tsunami. Karena pulau kita dikelilingi oleh laut dan ada bahaya di situ," ujarnya.

"Sejauh ini (Aktivitas) berjalan normal tidak ada laporan atau kegiatan yang dibatalkan. Seperti penerbangan (pesawat) berjalan seperti biasa. Walaupun kemarin sempat ada kepanikan penumpang tapi waktu singkat kembali normal lagi," tutup Pastika. [rhm]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini