Pasar Senen dulu, tempat tongkrongan preman hingga seniman

Sabtu, 26 April 2014 06:05 Reporter : Laurencius Simanjuntak
Pasar Senen dulu, tempat tongkrongan preman hingga seniman Pasar Senen. tropenmuseum.nl

Merdeka.com - Orang Jakarta dulu menyebutnya Pasar Snees. Dibangun pada 1735, pasar yang kemudian dikenal dengan nama Pasar Senen ini memang awalnya hanya buka pada hari Senin. Namun mulai 1766, pasar yang ramai dikunjungi ini akhirnya dibuka untuk hari lain selain Senin.

Pada 1930-an, pasar ini kemudian bukan hanya menjadi sekadar pasar, tempat transaksi jual-beli. Tetapi juga 'pasar gagasan' para intelektual muda era pra-kemerdekaan yang gemar berdiskusi di sudut-sudut bangunannya. Kalau pun mereka bertransaksi, barangkali paling sering jual-beli buku di tukang loak 'Nasution', belakang bioskop Grand.

Di pasar di pusat Stovia itulah sejumlah intelektual muda berkumpul. Chairul Saleh, Adam Malik, sampai Soekarno dan Mohammad Hatta , disebut kerap menggelar pertemuan di kawasan ini.

Setelah era kemerdekaan atau sekitar 1950-an, pasar ini juga menjadi tempat tongkrongan favorit para seniman, sebelum mereka akhirnya 'bergeser' ke Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, yang didirikan pada 1968. 'Seniman Senen' ini juga yang disebut sebagai sang pemula aktivitas kebudayaan di TIM.

Gaya hidup para 'Seniman Senen' ini pernah dituangkan lewat 'Keajaiban di Pasar Senen' (1971), kumpulan cerita pendek karya Misbach Yusa Biran. Dipenuhi sindiran yang jenaka, Misbach, yang lebih dikenal sebagai sutradara ini, menghadirkan sebuah refleksi berharga untuk memikirkan ulang apa arti 'menjadi seniman'.

Jika seniman adalah wajah Pasar Senen yang berbudaya, maka premanisme adalah sisi buruk pasar kalangan kelas menengah bawah yang tak pernah tertidur. Dengan roda perekonomian yang tak pernah berhenti, Pasar Senen jelas lahan basah bagi para preman. Bahkan dulu ada lelucon, jika Anda dicopet di Jakarta, carilah barang Anda itu di Pasar Senen, tempat para preman dan pencopet itu berkumpul.

Sejumlah nama preman sempat tersohor di Pasar Senen. Sebut saja Imam Syafei alias Bang Pe’i, yang terkenal kesaktiannya pada 1950-an. Sebuah sumber menyebutkan, setelah terkenal sebagai bos pencopet dan begundal, Bang Pe'i ikut berjuang melawan penjajah dan akhirnya masuk tentara.

Selain Bang Pe'i, banyak lagi preman yang kemudian bermunculan. Saking banyaknya, persaingan antar-preman membuat blok-blok kekuasaan di pasar tertua tersebut, bahkan berdasarkan etnis mereka.

Setelah seratusan tahun, sebagian bangunan pasar yang kondisinya memprihatinkan itu ludes dilalap api. Pada 2010, kebakaran di Blok VI menghanguskan 250 kios dan 80 lapak pedagang kaki lima (PKL), dengan kerugian ditaksir mencapai Rp 8,5 miliar. Setelah peristiwa itu, Blok VI belum pernah direnovasi hingga sekarang.

Kemarin, giliran Blok III yang dilanda kebakaran hebat. Diperkirakan 2.000 kios ludes terbakar, meski api tidak akan pernah bisa memusnahkan sejarahnya. [has]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Kebakaran Pasar Senen
  3. Kebakaran Pasar
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini