Pasang surut hidup Sultan Hamid II pembuat lambang Garuda Pancasila

Kamis, 1 Juni 2017 07:45 Reporter : Ramadhian Fadillah
Pasang surut hidup Sultan Hamid II pembuat lambang Garuda Pancasila Sultan Hamid II. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Sosoknya ganteng, tegap dan perlente. Di darahnya mengalir darah ningrat Kesultanan Pontianak. Dia satu dari sedikit orang pribumi yang bisa lulus Akademi Militer Belanda di Breda, Belanda. Sultan Syarif Hamid Alqadri dilahirkan 12 Juli 1913. Putra Sultan Syarif Muhammad Alkadri, Sultan keenam Pontianak.

Dia sempat masuk Technische Hooge School (THS). Tetapi akhirnya lebih memilih menjadi perwira tentara Belanda yang disebut Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL). Hamid muda memutuskan masuk ke Koninklijke Militaire Academie di Breda. Dia mengaku sangat tertarik dengan kehidupan militer.

Setelah lulus, Hamid menjadi Letnan II. Hamid juga menikah dengan wanita Belanda bernama Marie van Delden. Wanita yang dikenal dengan nama Dina Van Delden ini putri Kapten seorang tentara Belanda.

Masuknya Jepang, menghancurkan kekuatan Belanda di Nusantara. Hamid yang sempat berperang di Balikpapan ini kemudian dijebloskan Jepang ke penjara di Batavia. Dia ditahan dari tahun 1942-1945. Baru bebas setelah Jepang dikalahkan sekutu.

Setelah Belanda ingin berkuasa kembali ke Indonesia tahun 1946, Hamid kembali menjadi tentara Belanda. Pangkatnya dinaikkan menjadi Kolonel, kemudian Jenderal Mayor. Mungkin dia pribumi dengan pangkat militer tertinggi.

Tapi akhirnya dia melepaskan diri dari dinas militer dan memimpin rakyat Pontianak.

Diakui Hamid, sebuah keputusan yang berat meninggalkan dunia ketentaraan. Apalagi dia diangkat menjadi ajudan istimewa Ratu Belanda Wilhelmina. Menurut Hamid sendiri, jabatan ini membuatnya tak selalu berpihak pada Belanda. Dia mengaku sempat protes saat tentara Belanda bersikap tak pantas pada Keluarga Soekarno.

Kemudian Sultan Hamid menjadi Ketua Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO). Forum negara-negara federal di Indonesia. Banyak pihak yang menganggap BFO adalah boneka Belanda, walau pendapat ini tak selamanya benar.

Saat Republik Indonesia Serikat (RIS) terbentuk, Hamid diangkat Soekarno untuk menjadi menteri negara. Tugasnya menyediakan gedung dan menciptakan lambang negara.

Hamid menyerahkan rancangannya. Wujud seorang manusia yang berkepala Garuda dan menggenggam perisai Pancasila. Itulah desain awal Pancasila. Soekarno kemudian memberikan beberapa usul, manusia Garuda diubah sepenuhnya menjadi burung garuda. Tapi saat itu burung garuda masih 'gundul' dan tidak berjambul.

Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.

Soekarno terus memperbaiki bentuk Garuda Pancasila. Pada tanggal 20 Maret 1950 Soekarno memerintahkan pelukis istana, Dullah, melukis kembali rancangan tersebut. Beberapa yang diperbaiki antara lain penambahan jambul pada kepala Garuda Pancasila. Selain itu mengubah posisi cakar kaki yang mencengkram pita dari semula di belakang pita menjadi di depan pita.

Banyak yang menduga Soekarno menambahkan jambul karena kepala Garuda gundul dianggap terlalu mirip dengan Bald Eagle, Lambang Amerika Serikat.

Karir politik Hamid sendiri berakhir tak lama berselang.Dalam Buku Sejarah Nasional Indonesia jilid VI yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 1975, Hamid disebutbersekutu dengan Westerling.

Mereka berencana untuk menyerang sidang kabinet di Pejambon tahun 1950. Hamid memerintahkan Westerling membunuh menteri pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX , Kepala Staf Angkatan Perang Kolonel TB Simatupang dan Sekjen Kementerian Pertahanan Ali Budiarjo.

Percobaan pembunuhan itu gagal. Saat komplotan Westerling menyerang, rapat sudah selesai.

Sultan Hamengkubuwono IX lalu menangkap Sultan Hamid II. Dia diadili tahun 1953. Dalam penutup pledoinya, Sultan Hamid II mengaku siap menerima putusan hakim tanpa kehilangan rasa kecintaan pada tanah airnya.

"Saya akhiri pembelaan saya dengan menyatakan, bahwa saya tetap merasa berbahagia sebagai putera Indonesia, yang telah mendapat kehormatan sebesar-besarnya untuk dapat turut serta di dalam perjuangan mencapai kemerdekaan bagi nusa dan bangsa.

Bagaimanapun bunyinya putusan Mahkamah Agung nanti, apakah saya akan bebas ataupun akan dijatuhi hukuman, tenaga saya tetap saya sediakan, apabila kelak negara membutuhkannya. Dengan uraian-uraian di atas, nasib saya sekarang saya serahkan kepada Mahkamah Agung dengan penuh kepercayaan," katanya menutup pledoi.

Pledoi itu ditolak. Dia diganjar hukuman 10 tahun penjara dipotong masa tahanan.

Nama Sultan Hamid II pun dikenal sebagai pemberontak. Begitu yang tertulis di buku-buku sejarah selama ini. Jasanya menciptakan burung Garuda seolah dilupakan. Pihak keluarga dan Kesultanan Pontianak selama ini berusaha untuk meluruskan soal cap pemberontak pada Sultan Hamid II.

Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di Pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang. [ian]

Baca juga:
Meski libur, pelajar ikuti upacara Hari Lahir Pancasila di sekolah
Jokowi sebut berita bohong ancam kebhinnekaan di Indonesia
Pesan Gubernur Aher di hari lahir Pancasila
Djarot sebut Pancasila mensejahterakan dan memberikan rasa adil
Djarot sebut puasa bukan halangan bagi PNS DKI untuk upacara
Jokowi umumkan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila
Ganjar ajak warga mengawasi jalannya Pancasila

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Hari Pancasila
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini