Dunia Penerbangan Indonesia 7

Para pahlawan devisa paling sering dipalak di bandara

Sabtu, 7 Desember 2013 15:06 Reporter : Novita Intan Sari
Para pahlawan devisa paling sering dipalak di bandara Aktivitas TKI di bandara. (c) merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Saat ini terdapat jutaan warga negara Indonesia harus meninggalkan Tanah Air tercinta, guna berburu pekerjaan. Alasannya di Indonesia tidak tersedia lapangan kerja memadai.

Karena merantau ke luar negeri, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) otomatis jadi elemen masyarakat yang sejak lama mengandalkan fasilitas bandar udara. Jauh sebelum bisnis maskapai murah meledak di Tanah Air pascareformasi.

Ironisnya, data dari badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) menunjukkan kelompok buruh migran ini kerap mengalami perlakuan tidak menyenangkan, sebelum maupun sesudah menaiki pesawat.

Kasus pemerasan yang terjadi pada TKI paling rentan terjadi pada transportasi udara tersebut. Artinya, ketika mereka berada di bandara justru ancaman terhadap pemalakan ataupun pemerasan sangat besar.

"Sekarang ini di bandara, TKI di bebaskan untuk pulang baik melalui jalur BNP2TKI atau mandir (pulang sendiri atau dijemput keluarga. Nah, yang agak rentang itu yang pulang sendiri karena mereka sering gunakan taksi gelap yang bisa memeras TKI tersebut," ungkap Kepala BNP2TKI, Jumhur Hidayat kepada merdeka.com, Jakarta, Jumat malam (6/12).

Jumhur mengakui, setiap tahun banyak pengaduan tentang kasus pemerasan TKI di bandara. Dia menyesalkan, mengapa otoritas pengelola bandara bertindak tidak tegas, dan membiarkan calo nongkrong di sekitar terminal keberangkatan maupun kedatangan.

"Mereka (orang tidak jelas tapi bisa ada disitu) sering menggiring TKI saat pulang untuk menaiki taksi gelap. Bahkan, mereka sambil bilang bahwa gedung BNP2TKI sudah ditutup sehingga mereka (TKI) yang berniat pulang lewat BNP2TKI jadi kejebak pulang naik taksi gelap. Jadi wilayah steril bandara harusnya tidak ada orang-orang tidak jelas itu (calo)," keluhnya.

Diperkirakan saat ini terdapat 6 juta warga negara Indonesia yang bekerja sebagai buruh migran di 178 negara. Dari jumlah tersebut, ada 20 negara dengan jumlah kiriman uang tergolong besar.

Adapun jumlah kiriman uang yang mengalir ke Indonesia dari para TKI pada 2013 saja, sudah mencapai Rp 100 triliun.

"Para TKI benar-benar menjadi pahlawan devisa. Mereka (TKI) dapat mengurangi pengangguran sekaligus setidaknya menghidupi 30 juta orang di tanah air dan membuat multiplier effect bagi perekonomian daerah," kata Jumhur.

Menurut dia, artinya TKI secara tidak langsung membantu Indonesia mengurangi angka pengangguran. Namun pada kenyatannya tak sedikit masalah yang dihadapi oleh TKI, mulai dari persiapan pemberangkatan, pemberangkatan, penempatan, pembinaan di negara tujuan sampai kembali di Indonesia belum mendapat perhatian pemerintah secara optimal.

"Padahal bekerja di luar negeri tidak sepenuhnya menyenangkan," ucapnya.

Belum lagi para TKI masih menjadi bulan-bulanan para calo, atau oleh oknum petugas. Mereka harus membayar sejumlah uang agar dapat terkirim ke luar negeri. Sebagai TKI legal ataupun illegal. Jumlahnya sampai jutaan, sebagian harus merogoh kantong sampai puluhan juta.

"Soal mereka TKI yang diperas di tanah air, memang sungguh hal yang menjengkelkan. Itu kriminal murni namun bila itu terkait dengan otoritas kami seperti dilakukan mitra usaha TKI seperti PPTKIS, travel, dll pasti kita kenakan sanksi tegas," tandas mantan aktivis yang pernah dipenjara Orde Baru ini. [ard]

Topik berita Terkait:
  1. Maskapai Penerbangan
  2. TKI
  3. Bandara
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini