Hot Issue

Pandemi Covid di Indonesia, Jalan Mendaki Tak Berujung

Rabu, 15 Juli 2020 08:03 Reporter : Fikri Faqih
Pandemi Covid di Indonesia, Jalan Mendaki Tak Berujung Diagram Perkembangan Covid di Sejumlah Negara. ©2020 worldometers.info

Merdeka.com - Prancis, China dan Inggris merupakan beberapa negara yang telah melewati fase puncak pandemi Covid-19. Negara yang telah melalui puncak wabah ini sebelumnya menerapkan upaya keras untuk menahan persebaran virus, seperti lockdown dan melakukan uji Covid-19 secara masif.

Sementara di Indonesia, diprediksi akan melalui fase puncak pandemi pada September 2020 mendatang. Prediksi ini disampaikan oleh Presiden Joko Widodo sendiri. Namun sebelum prediksi tersebut, Badan Intelijen Negara (BIN) juga sudah sempat mengeluarkan kajian mengenai puncak pandemi yang akan selesai pada akhir Juli.

Presiden Joko Widodo memprediksi puncak pandemi Covid-19 di Indonesia bakal terjadi pada Agustus atau September 2020. Sebelum itu, Badan Intelijen Negara (BIN) juga sudah sempat mengeluarkan kajian mengenai puncak pandemi yang akan selesai pada akhir Juli.

diagram perkembangan covid di sejumlah negara

©2020 worldometers.info

Kajian BIN ini pertama kali disampaikan Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo pada 3 April 2020. Dalam kajian tersebut, diperkirakan puncak penyebaran virus corona pada akhir Juni atau akhir Juli 2020.

Saat itu, kasus Covid-19 di Indonesia tercatat bertambah 196 orang, sehingga total menjadi 1.986 kasus. Untuk total pasien yang sembuh 134 orang. Sedangkan kasus kematian 181 orang.

Penambahan kasus positif perlahan tapi pasti terus mengalami penambahan. Pada awal bulan Mei, tepatnya Minggu (3/5), terdapat penambahan pasien 349 yang dinyatakan positif virus corona, sehingga total ada 11.192 orang. Kemudian total pasien yang sembuh 1.876 orang, dan kasus kematian 845 orang.

Pada pertengahan Bulan Mei, atau Minggu (17/5), terjadi penambahan 489 orang, sehingga total menjadi 17.514 kasus. Untuk total pasien yang sembuh 4.129 orang. Sedangkan kasus kematian 1.148 orang.

Angka ini terus naik terutama setelah tidak adanya larangan mudik lebaran 2020. Meskipun pada akhirnya pemerintah memutuskan untuk melarang mudik. Angka kenaikan tertinggi terjadi dua pekan setelah Idul Fitri yang jatuh pada 23-24 Mei 2020.

Tepatnya pada tanggal 9 Juni, terjadi penambahan sebanyak 1.043 kasus sehingga total pasien positif Covid-19 30.076. Untuk total pasien yang sembuh 11.414 orang. Sedangkan kasus kematian 1.923 orang. Dan semenjak itu, penambahan kasus positif Covid-19 jarang di bawah angka 1.000.

diagram perkembangan covid di sejumlah negara

©2020 worldometers.info

Penyebaran virus asal Wuhan, China ini terus naik setelah diterapkannya pola kehidupan baru atau new normal. Salah satunya dibuat oleh Gubernur DKI, Anies Baswedan yang menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi pada 4 Juni 2020. Kebijakan ini kemudian diikuti daerah penyangga lainnya seperti Bekasi dan Kota Bogor.

Dua pekan kemudian, Kamis (18/6), jumlah kasus baru positif Covid-19 di Indonesia bertambah 1.331 orang, sehingga secara total menjadi 42.762 orang. Total pasien yang sembuh 16.798 orang. Sedangkan kasus kematian 2.339 orang.

Sementara untuk Jakarta sendiri, terjadi penambahan kasus positif Covid-19 sebanyak 176 orang, sehingga total menjadi 9.385 pasien. Sedangkan 574 orang dinyatakan telah sembuh, dan 594 orang meninggal dunia.

Penyebaran Covid-19 masih belum menunjukkan penurunan, Pemprov DKI membuka kebebasan kepada masyarakat untuk dapat menikmati Car Free Day pada 21 Juni 2020. Keputusan ini menuai proses dari banyak pihak, salah satunya DPRD DKI Jakarta.

Dan dua pekan kemudian, Minggu (5/7), jumlah kasus baru positif Covid-19 di Indonesia bertambah 1.607 orang, sehingga secara total menjadi 63.749 orang. Total pasien yang sembuh 29.105 orang. Sedangkan kasus kematian 3.171 orang.

Untuk Jakarta, pada tanggal yang sama, terjadi penambahan kasus positif Covid-19 sebanyak 256 orang, sehingga total menjadi 12.295 pasien. Sedangkan 7.663 orang dinyatakan telah sembuh, dan 658 orang meninggal dunia.

1 dari 4 halaman

Prediksi Jokowi

rev2

Presiden Joko Widodo memprediksi puncak Pandemi Covid-19 di Indonesia bakal terjadi pada Agustus atau September 2020. Prediksinya bisa saja meleset jika masyarakat tidak mematuhi protokol kesehatan.

Berdasarkan hasil survei, 70 persen masyarakat di Jawa Timur beraktivitas di luar tanpa menggunakan masker. Dan kini provinsi yang dipimpin Khofifah Indar Parawansa itu menduduki posisi pertama, dengan 16.877 kasus positif Covid-19, di atas DKI Jakarta.

Prediksi Jokowi ini, sejalan dengan apa yang disampaikan ilmuwan di Singapore University of Technology and Design (SUTD). Khusus di Indonesia, pandemi corona akan berakhir pada September 2020.

Grafik Indonesia menunjukkan pandemi Virus Corona jenis baru akan selesai 97 persen pada 13 Juni 2020, lalu berakhir 99 persen pada 1 Juli 2020 dan secara teori berakhir keseluruhan pada 23 September 2020. Sementara di Singapura, pandemi diprediksi selesai 100 persen pada 12 Juni 2020.

diagram perkembangan covid di sejumlah negara

©2020 worldometers.info

Sementara berdasarkan catatan merdeka.com, penambahan kasus positif Covid-19 masih terus menanjak di Juli. Pada Rabu (1/7), jumlah kasus baru positif Covid-19 di Indonesia bertambah 1.385 orang, sehingga secara total menjadi 57.770 orang. Total pasien yang sembuh 25.595 orang. Sedangkan kasus kematian 2.934 orang.

Sepekan kemudian terjadi lonjakan kasus. Tepatnya Kamis (9/7), jumlah kasus positif Covid-19 bertambah 2.657 orang, sehingga total mencapai 70.736 pasien. Sementara total pasien yang sembuh 32.651 orang. Sedangkan kasus kematian 3.417 orang.

Sementara data terakhir pada Selasa (14/7) menunjukkan, kasus Covid-19 di Indonesia sudah menembus angka 78.572 orang. Terjadi penambahan sebanyak 1.591 kasus baru.

Jumlah pasien sembuh dari Covid-19 bertambah 947 orang. Penambahan ini membuat total kasus sembuh di Indonesia mencapai orang orang. Sementara kasus kematian karena Covid-19 juga bertambah 37.636 orang. Total akumulatif kasus kematian akibat Covid-19 menjadi 3.710 orang.

2 dari 4 halaman

Puncak Pandemi Tak Bisa Diprediksi

tak bisa diprediksi rev2

Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono menilai, puncak pandemi Covid-19 tidak bisa diprediksi.

"Puncaknya Pak Jokowi sama puncaknya saya, lain. Dia puncaknya presiden. Kita sekarang sudah tidak bisa menentukan puncak lagi karena variabelnya itu sesuai yang presiden mau," ungkapnya saat dihubungi merdeka.com, Selasa (14/7)

Dia menilai, prediksi yang Jokowi sebutkan sebenarnya merupakan sebuah target agar para menteri-menteri Jokowi bisa bekerja lebih keras. Ia berharap para menteri bisa mengerjakan apa yang diperintahkan Jokowi.

Sejak Covid-19 ini mewabah di Indonesia, Pandu pernah memprediksi bila puncaknya terjadi pada bulan Mei dan Juli. Namun ternyata prediksinya salah. Menurutnya, prediksi para ahli pernah kemukakan berdasarkan asumsi-asumsi yang mereka kumpulkan.

Para ahli awalnya berasumsi jika masyarakat Indonesia bisa disiplin mematuhi protokol kesehatan, namun kenyataannya, hanya sedikit yang benar-benar mematuhi, seperti memakai masker misalnya.

Bila dilihat saat ini, masih banyak masyarakat yang ditemukan tidak memakai masker. Padahal memakai masker menjadi salah satu variabel dalam memprediksi puncak pandemi Covid-19.

Jumlah penduduk yang memakai masker harus sudah mencapai 80 persen, bila kurang dari itu maka bisa-bisa puncak pandemi ini tidak terjadi.

Pandu menilai, pemerintah masih kurang mengedukasi masyarakat untuk betul-betul menerapkan protokol kesehatan. Ia sudah beberapa kali meminta kepada pemerintah untuk segera mengkampanyekan protokol kesehatan secara langsung ke masyarakat. Jadi tidak hanya menyuarakan lewat media sosial atau media elektronik saja. Ia melihat masih banyak masyarakat yang tidak mempunyai televisi, gadget, apalagi bisa mengakses internet.

Menurutnya, para selebriti dan influencer tanah air memiliki pengaruh yang sangat besar untuk mengedukasi masyarakat. Masyarakat cenderung mengikuti perilaku para selebriti.

Maka dari itu, ia meminta agar pemerintah mengajak selebriti untuk memberikan literasi ke masyarakat tentang pentingnya mematuhi protokol kesehatan.

3 dari 4 halaman

Membumikan Masker dan Cuci Tangan

dan cuci tangan rev2

WHO mengakui ada bukti Covid-19 bisa menyebar melalui udara. 239 ilmuwan di 32 negara menguraikan bukti yang menunjukkan partikel virus yang mengambang di udara dapat menginfeksi orang yang menghirupnya.

Karena partikel-partikel lebih kecil yang diembuskan itu dapat berlama-lama di udara. Pimpinan teknis WHO untuk pencegahan dan pengendalian infeksi, Benedetta Allegranzi, mengatakan ada bukti yang muncul terkait penularan virus corona melalui udara, tetapi itu tidak pasti.

"Kemungkinan penularan melalui udara di tempat publik - terutama dalam kondisi yang sangat spesifik, padat, tertutup, ruangan berventilasi buruk, tidak dapat dikesampingkan," jelasnya.

Penyebaran virus melalui udara, membuat kemungkinan menerapkan pola hidup baru atau new normal semakin rumit tanpa adanya kesadaran masyarakat.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan, penggunaan masker merupakan satu keharusan bagi mereka yang ingin beraktivitas, bukan sekadar menggunakan pelindung wajah atau face shield.

Dia menganalogikan droplet ini laiknya asap rokok. Dalam suatu ruangan tertutup yang sirkulasi udaranya tidak bagus, maka asap rokok akan tertahan lama di dalam ruangan tersebut.

Hal yang sama juga terjadi untuk micro droplet. Oleh karenanya, bagi siapapun yang memasuki ruangan tersebut dengan hanya mengenakan face shield tanpa masker, maka akan tetap akan menghirup micro droplet yang penuh dengan Covid-19.

"Kurang lebih demikianlah droplet dari Covid-19 ini. Oleh karena itu penggunaan masker mutlak harus dilakukan. Harus dikerjakan, bukan face shield karena kita tahu pada micro droplet dia akan mengambang di udara," jelas Yurianto.

4 dari 4 halaman

Upaya Pencarian Vaksin Covid-19

Ilmuwan di seluruh dunia kini tengah berpacu membuat vaksin Covid-19. Kini, beberapa vaksin tersebut telah melakukan uji klinis ke manusia, dan hasilnya cukup efektif.

"Penelitian ini akhirnya rampung dan terbukti vaksin ini aman. Para sukarelawan akan diizinkan pulang pada 15 Juli dan 20 Juli," kata Smolyarchuk yang mengepalai Pusat Penelitian Klinik Kedokteran di Universitas Sechenov kepada kantor berita TASS, Minggu (12/7).

Sukarelawan tetap akan berada dalam pengawasan medis setelah diizinkan pulang.

Tahap pertama penelitian vaksin Covid-19 di Universitas Sechenov dimulai pada 18 Juni lalu dengan memberikan vaksin kepada 18 sukarelawan. Kelompok sukarelawan kedua yang terdiri dari 20 orang kemudian diberi vaksin pada 23 Juni.

Tujuan utama tahap uji coba klinis ini adalah untuk mengetahui apakah vaksin ini aman bagi manusia dan hasilnya sukses, kata Alexander Lukashev, direktur Institut Kedokteran Parasitologi, Tropik, dan Penyakit Serangga di Universitas Sechenov.

Rusia mengizinkan uji klinis terhadap dua kandidat vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Nasional Gamaleya untuk Epidemiologi dan Mikrobiologi.

Vaksin pertama diuji coba di Rumah Sakit Militer Burdenko. Vaksin kedua diuji coba di Universitas Sechenov, Moskow. Setelah divaksin, semua sukarelawan tetap berada dalam masa isolasi di rumah sakit selama 28 hari.

Hasil awal menunjukkan vaksin Covid-19 yang disuntikkan kepada sukarelawan di Rusia memperlihatkan tubuh mereka mengembangkan imunitas terhadap virus corona. [fik]

Baca juga:
Menyusul Sang Ayah, Kepala Bappeda Jawa Timur Meninggal karena COVID-19
Tertular Covid-19 dari Ayah, Kepala Bappeda Jatim Meninggal Dunia
Pemerintah Harus Sadar Kasus Covid-19 Terus Bertambah Bukan Menurun
Pemprov Jabar Kehabisan Bahan Medis Tes PCR, Pengujian Spesimen Bisa Menurun
Meraba Kapan Pandemi Reda, Wabah Covid-19 di Mata Para Peramal Super Amerika

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini