Kaleidoskop 2019

Panas Dingin Hubungan Jokowi dan Prabowo Bersatu di Pemerintahan

Selasa, 31 Desember 2019 09:00 Reporter : Dedi Rahmadi
Panas Dingin Hubungan Jokowi dan Prabowo Bersatu di Pemerintahan Pertemuan Jokowi-Prabowo usai Pemilu 2019. ©2019 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Tahun 2019 akan berganti 2020. Tak sedikit kejadian dan peristiwa menghiasi tahun 2019, salah satunya hubungan panas dingin Joko Widodo alias Jokowi dan Prabowo Subianto.

Situasi bulan Januari 2019, sudah agak memanas menjelang debat pilpres. Saat itu keduanya diusung koalisi partai masing-masing sebagai calon presiden. Tim Jokowi dan Prabowo masing-masing menyiapkan 'peluru' untuk debat perdana yang mengusung tema hak asasi manusia, hukum, terorisme dan korupsi. Nada bicara Jokowi sempat meninggi usai ditanya Prabowo.

Prabowo menilai, penegakan hukum di rezim Jokowi belum adil. Karena ada kepala desa yang mendukungnya malah ditangkap, sementara yang dukung petahana tidak diproses hukum.

"Jangan menuduh seperti itu Pak Prabowo. Karena kita ini adalah negara hukum, ada prosedur hukum mekanisme hukum, kalau ada bukti sampaikan saja ke aparat, jangan kita sering grusa grusu menyampaikan sesuatu," jawab Jokowi dengan nada tinggi.

"Misalnya Jurkam Pak Prabowo, katanya dianiaya mukanya babak belur, kemudian konferensi pers akhirnya apa yang terjadi, ternyata operasi plastik. Ini negara hukum, kalau ada bukti silakan lewat mekanisme," tambah Jokowi.

Dalam debat pilpres kedua di bulan Februari, Jokowi dituding memakai alat bantu dengan earpiece oleh tim Prabowo. Sementara tim Jokowi serang Prabowo terkait Unicorn.

Saat mendekati Pilpres 2019, sejumlah survei menilai Jokowi mengungguli Prabowo. "Saya tidak percaya survei-survei itu, karena survei-survei itu dibayar," tegas Prabowo menanggapi hal itu.

Hingga akhirnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan secara resmi Jokowi menang Pilpres 2019. Jumlah suara sah tercatat 154.257.601. Sementara tidak sah 3.754.905.

"Pasangan nomor urut satu Joko Widodo dan Ma'ruf Amin 85.607.362 atau 55,50 persen dari total suara sah nasional. Pasangan nomor urut dua, 68.650.239 atau 44,50 persen dari total suara sah nasional," ujar Komisioner KPU, Evi Novita Ginting, Jakarta, Selasa (21/5) dini hari.

Baca Selanjutnya: Demo Membakar Jakarta...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini