Pakar ITB: Bukan Jakarta, Ada 112 Daerah di RI yang akan Lebih Cepat Tenggelam

Senin, 2 Agustus 2021 15:48 Reporter : Merdeka
Pakar ITB: Bukan Jakarta, Ada 112 Daerah di RI yang akan Lebih Cepat Tenggelam Ancol diserbu wisatawan. ©Liputan6.com/Johan Tallo

Merdeka.com - Dalam pidatonya, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menyinggung analisis tentang tenggelamnya ibu kota Jakarta pada 10 tahun mendatang. Riset tersebut menyebutkan, perubahan iklim menyebabkan naiknya permukaan laut dan penurunan tanah yang terjadi di Jakarta.

Riset dari Global Positioning System (GPS), Interferometric Synthetic Aperture RADAR (InSAR) danLight Detection and Ranging (LiDAR) menyebutkan, penurunan tanah di Jakarta dapat mencapai 10 sentimeter per tahun. Serta, 20 persen wilayah Jakarta sudah berada di bawah laut. Sehingga hal ini bukan hanya edaran semata.

Namun, Ketua Lembaga Riset Kebencanaan IA ITB Heri Andreas, mengatakan, secara teknologi dan data satelit, potensi untuk ke arah Jakarta tenggelam itu memang ada. Namun 10 tahun mungkin terlalu cepat.

"Melalui model (riset) yang kita buat kita harus lebih khawatir di 2050. Namun itu namanya proyeksi. Apakah itu akan benar-benar terjadi? Belum tentu, karena di tengah jalan juga pasti akan ada upaya-upaya yang dilakukan untuk menghindari hal tersebut," ujar Heri saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (2/8).

Lebih dalam Heri menambahkan, Jakarta memang punya masalah tersendiri terhadap tata ruang seperti banyak orang yang mengambil air tanah, kurangnya lahan penghijauan, dan sebagainya. Belum lagi soal jumlah penduduk yang kian meningkat. Menurut datanya, penduduk DKI saat ini sudah mencapai 11,5 juta dengan luas daerah hanya 662 Km persegi.

Namun, menurutnya, bukan Jakarta yang lebih mengkhawatirkan, namun beberapa wilayah di Jawa Tengah seperti Pekalongan, Semarang, dan Demak.

"Penurunan tanah di sana lebih cepat dan besar. Wilayah-wilayah di bawah lautnya juga bisa lebih besar dari Jakarta serta masih ada 112 kabupaten kota yang berpotensi untuk tenggelam mulai dari Pantai Timur Sumatera, Pesisir Kalimantan, Pantura Jawa, sedikit di Sulawesi dan Papua," kata Heri Andreas.

Senada, Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti Nirwono Yoga, mengatakan, salah satu penyebab utama Jakarta terancam tenggelam adalah penyedotan/pemompaan air tanah yang tidak terkendali mulai dari tingkat rumah tangga, gedung perkantoran, perhotelan, pusat perbelanjaan, sampai dengan kawasan industri.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) juga berpendapat, bahwa Pemerintah pusat masih menganggap enteng isu perubahan Iklim, dan Indonesia adalah salah satu negara yang belum mendeklarasikan negaranya darurat iklim.

"Upaya penurunan emisi selain tidak serius juga tidak ambisius. Dibuktikan dengan rencana pemerintah yang terus membangun PLTU Baru. Sedangkan kita tahu salah satu penyumbang emisi terbesar di Indonesia adalah sektor energi, yakni PLTU," ujarnya melalui pesan teks.

Apa Solusinya?

Menurut Heri Andreas, bukan menjadi alasan kuat memindahkan ibu kota Jakarta hanya karena ancaman tenggelam. Apalagi, saat ini kondisi Jakarta sudah menjadi pusat bisnis dan industri.

"Secara analisa, tidak perlu pindah. Apalagi Jakarta sudah menerapkan kota ekonomi terbesar di Indonesia. Jadi tidak serta merta akan ditenggelamkan dan dipindah," ujarnya.

Selain itu, tanggul merupakan solusi umum serta berusaha untuk mengurangi penurunan tanahnya. Faktor dominan eksploitasi air tanah dengan mereduksi atau memberhentikan eksploitasi air tanah. Adanya program substitusi air tanah dengan pipanisasi, sumber-sumber air permukaan.

"Ke depannya pipanisasi akan dipercepat, pengadaan sumber-sumber air dari Jatiluhur, Waduk Karian. Memang sedikit terlambat prosesnya, Namun proses itu kan pasti butuh waktu," ujarnya.

Kata Biden

Dikutip dari situs resmi White House, whitehouse.gov pada Jumat (30/7) Biden mulai membahas isu perubahan iklim dengan menyampaikan bagaimana masalah tersebut memiliki dampak berbahaya yang sama terhadap semua negara.

"Tantangan iklim telah mempercepat ketidakstabilan di negara kita sendiri dan di seluruh dunia. Peristiwa cuaca ekstrem yang lebih umum dan lebih mematikan; kerawanan pangan dan air; naiknya permukaan laut, mengakibatkan perubahan iklim dan mendorong migrasi yang lebih besar dan menimbulkan risiko mendasar bagi komunitas yang paling rentan," kata Biden.

Biden selanjutnya menyinggung proyeksi tentang DKI Jakarta, yang diperkirakan bakal tenggelam dalam 10 tahun ke depan dan kemungkinan Indonesia harus memindahkan ibu kotanya.

"Tapi apa yang terjadi, apa yang terjadi di Indonesia jika proyeksinya benar bahwa, dalam 10 tahun ke depan, mereka mungkin harus memindahkan ibu kotanya karena mereka akan berada di bawah air?" imbuhnya.

"Itu penting. Ini adalah pertanyaan strategis sekaligus pertanyaan lingkungan," jelas Biden.

Reporter Magang: Leony [rnd]

Baca juga:
Penjelasan Pemprov DKI Penyerapan Anggaran Pengendalian Banjir Tidak Optimal
Anies Enggan Tanggapi Proyeksi Biden Soal Jakarta Tenggelam: Kita Urus Covid Dulu
Jakarta Kembali Diprediksi Tenggelam, Ini Tanggapan Walhi
DKI Sering Diprediksi Tenggelam, Pemerintah Diminta Siapkan Langkah Antisipasi
Wagub DKI Sanggah Joe Biden: Jakarta Tidak Tenggelam 10 Tahun Lagi
Biden Singgung Proyeksi Jakarta Bakal Tenggelam 10 Tahun Mendatang


Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini