Pabrik PCC di Semarang beromzet Rp 2,7 miliar per bulan

Senin, 4 Desember 2017 11:58 Reporter : Dian Ade Permana
Pabrik PCC di Semarang beromzet Rp 2,7 miliar per bulan Konpers pabrik PCC di Semarang. ©2017 Merdeka.com/Dian Ade Permana

Merdeka.com - Omzet pabrik pil PCC (Paracetamol Caffein Carisoprodol) yang digerebek di Jalan Halmahera No. 27 semarang Timur, Semarang, mencapai Rp 2,7 miliar per bulan. Omzet itu hasil penjualan pil di Kalimantan dan Sulawesi.

Kepala badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso mengatakan, pengakuan pemilik pabrik, Djoni dan pemodalnya Sri Anggono, pabrik ini baru beroperasi tiga bulan. Namun, melihat peralatan kerja yang ada, Budi Waseso tidak yakin pabrik tersebut belum lama beroperasi.

"Semua bilang begitu kalau tertangkap, pasti bilang baru mulai," jelasnya, Senin (4/12).

Budi Waseso mengatakan dalam sehari pabrik ini mampu memproduksi satu juta pil. Dengan demikian, dalam satu bulan bisa membuat 30 juta pil.

"Dijual dengan harga Rp 3.000 hingga Rp 6.000 per pil. Ada paket hemat dan paket komplit yang sudah bentuk tablet," ungkapnya.

Dari buku catatan milik tersangka, pil tersebut rutin dijual ke Kalimantan. Bahkan mereka memiliki agen-agen yang mengedarkan pil PCC. Pengiriman menggunakan ekspedisi jalur darat dan laut.

"Satu dus isinya 20.000 butir pil. Ini ada satu orang yang terima 50 dus, berarti kan satu juta pil. Dari catatan nama penerima ada Haji, Ariel, Yadi, dan Yoko, nanti kita usut tuntas. Mereka terima 20 dos dan 40 dos," ungkap Budi Waseso.

Besarnya omzet tersebut berimbas pada upah yang diterima para pekerja. Gaji minimal yang diterima pekerja adalah Rp 4 juta hingga Rp 9 juta. Budi Waseso juga menyatakan akan melakukan penelusuran terhadap rekening dan catatan telepon para tersangka. Tidak menutup kemungkinan ada indikasi Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

"Lihat saja, mereka semua badannya gemuk-gemuk karena makmur terima uang dari penderitaan anak cucu. Konsumen obat ini kan kebanyakan anak SD dan SMP. Di Kendari ada 62 anak yang bertingkah seperti zombie. PCC ini efeknya seperti flaka dan tembakau gorilla," papar Budi Waseso.

Dia mengatakan, pembuatan pil ini tidak menggunakan ilmu farmasi. "Mereka meracik ini ngawur, hanya berdasar perkiraan dan pengalaman. Bukan pemain baru ini, alat ada ukuran dan timbangan. Ini kan butuh keahlian," paparnya.

Seperti diketahui, tim gabungan BNN, Mabes Polri, dan Polda Jateng menggerebek pabrik pembuatan pil PCC. Penggerebekan dilakukan Minggu (3/12) di Semarang dan Solo. Ada 14 tersangka yang ditangkap, selain pekerja, tim gabungan juga menahan pemilik pabrik dan pemodal. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini