Orderan Sepi, Perajin Tenun Ikat di Kediri 'Putar Otak' Produksi Masker

Kamis, 9 April 2020 05:05 Reporter : Imam Mubarok
Orderan Sepi, Perajin Tenun Ikat di Kediri 'Putar Otak' Produksi Masker Produksi masker tenun di Kediri. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Jika biasanya tenun ikat dibuat baju, sepatu, scarf dan tas, kini sejumlah perajin di Kota Kediri memproduksi masker berbahan dasar kain khas Kota Kediri, Jawa Timur tersebut. Empat mesin jahit bergerak lincah di Rizki Tailor, salah satu penjahit di Desa Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Seminggu terakhir, mereka mendapatkan pesanan 8.000 lembar masker dari Pemkot Kediri sehingga harus mengejar target produksi.

Sebetulnya, tidak hanya empat penjahit yang membuat masker, ada 12 orang lainnya mengerjakan proyek ini di rumah masing-masing. Penjahit yang mulai sepi order, kini bergerak kembali.

"Sudah tiga minggu ini orderan sepi. Malah yang sudah order pun belum diambil, jadinya ya belum dibayar. Untunglah ada pesanan masker ini," kata Samsul Hadi, salah satu penjahit di Rizki Taylor yang sudah 30 tahun menjadi penjahit, Rabu (8/4).

Salah satu pengusaha tenun di Kediri, Siti Ruqoyah memutar otak untuk bisa tetap menggaji penenunnya. Ia coba membuat beberapa lembar masker dari kain sisa.

Kemudian masker ini dilihat oleh Nur Muhyar, Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan dibawa ke Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar.

Pemkot Kediri kemudian memesan 8.000 lembar masker tenun ikat kediri untuk dibagikan ke warga. Bukan hanya membagikan masker yang berguna untuk mencegah penyebaran virus corona, namun juga turut menggerakkan perekonomian yang sempat berhenti.

"Sudah tiga minggu ini tidak ada pembeli sama sekali. Sementara saya tidak mungkin tidak menggaji penenun dan saya akan terus mempertahankan mereka untuk tetap berproduksi agar tetap bisa makan," kata Ruqoyah.

Dia mengeluarkan uang minimal Rp20 juta per minggu untuk menggaji penenun. Jumlah itu biasanya bisa tertutup dengan hasil penjualan kain tenun. Namun ketika tidak ada pembeli, dia terpaksa mengambil tabungan yang mulai menipis.

Dengan pesanan masker ini, 200 lembar tenun ikat per hari bisa terjual untuk dibuat masker sehingga ekonomi berputar. Tidak hanya Ruqoyah, penenun lain pun bisa memasok tenunnya melalui KUB (Kelompok Usaha Bersama) sehingga produksi masih terus berjalan.

Setelah Pemkot memesan, berbagai pesanan pun datang dari berbagai instansi dengan jumlah ribuan. Selain itu juga orderan datang dari para pembeli personal atau eceran. Ruqoyah mematok harga Rp7.500 per lembar bila membeli minimal 10 lembar dan Rp8.000 per lembar untuk eceran.

"Harapan kita dengan kegiatan ini yang bisa kita gerakkan bukan hanya ekonomi penenun, tetapi juga para tukang jahit dan toko-toko penyedia aksesorisnya seperti toko karet, benang, dan kain tlisir. Dengan demikian juga akan ada efek daya beli masyarakat yang tetap terjaga," kata Nur Muhyar. [cob]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini