Tolak Politisasi Agama, Ratusan Orang Geruduk Bawaslu Kota Solo

Jumat, 11 Januari 2019 12:16 Reporter : Arie Sunaryo
Tolak Politisasi Agama, Ratusan Orang Geruduk Bawaslu Kota Solo Demo di Bawaslu Solo. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Ratusan orang yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Damai Soloraya menggelar aksi di depan Kantor Bawaslu Kota Solo, Jalan Panembahan, Laweyan, Jumat (11/1). Dalam orasinya mereka menolak adanya politisasi agama.

Salah satu peserta aksi, Ahmad Farid Umar meminta agar Bawaslu bersikap tegas terhadap oknum yang menyebarkan berita bohong dan fitnah kepada masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden.

"Kami ingin Bawaslu bertindak tegas kepada penyebar hoax dan fitnah kepada capres dan cawapres. Kami juga minta Bawaslu mengawal pelaksanaan Pilpres 2019 aman dan damai," ujar Umar, saat berorasi.

Dengan ketegasan Bawaslu itu, diharapkan masyarakat bisa memilih calon pemimpin yang mereka kehendaki sesuai hati nurani masing-masing.

Menurut mereka, menjelang Pemilu 2019 banyak berita bohong dan fitnah yang disebarkan melalui akun media sosial yang meresahkan masyarakat. Bahkan berita bohong tersebut sudah seperti makanan sehari-hari karena semakin meningkat.

"Kami tidak menuduh tim sukses calon mana pun. Kami hanya meminta agar oknum-oknum penyebar berita bohong itu untuk segera ditindaklanjuti," tandasnya

Massa sekitar 300 orang itu melakukan orasi di atas mobil secara bergantian. Mereka minta berita bohong yang menyebar di facebook, twitter dan sebagainya segera ditindak.

"Kita hanya ingin pemilu ini berjalan damai, bersih, anti-hoaks dan anti-politik SARA," katanya lagi.

Ketua Bawaslu Kota Solo Budi Wahyono yang menemui para peserta aksi mengemukakan, pihaknya terus melakukan upaya pencegahan agar para calon tidak menggunakan agama sebagai politik praktis dan politik SARA.

"Kami mengajak masyarakat untuk ikut mengawal pelaksanaan Pemilu ini agar berjalan jujur dan adil," jelasnya. [rhm]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini