Olah Sampah TPA Jadi Listrik, Solo Akan Jadi Percontohan

Kamis, 14 Februari 2019 21:40 Reporter : Arie Sunaryo
Olah Sampah TPA Jadi Listrik, Solo Akan Jadi Percontohan Bambang Brodjonegoro. ©staf humas kementerian PPN/Bapenas

Merdeka.com - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengapresiasi progres pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) TPA Putri Cempo Solo.

Menteri PPN atau Kepala Bappenas, Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro di sela kunjungannya ke PLTSa Putri Cempo mengatakan, dari 12 kota yang ditunjuk oleh pemerintah pusat untuk pengelolaan sampah menjadi tenaga listrik, hanya kota Solo yang sudah berhasil menerapkan sistem pengolahan gasifikasi.

"Meskipun listrik yang dihasilkan baru 5 megawatt atau separuhnya namun kami mengapresiasi progres ini. Apalagi mekanisme yang diterapkan di Solo berbeda dengan kota lainnya," ujarnya.

Menurut Bambang, ada dua hal penting yang membedakan pembangunan PLTSa di kota Solo dengan kota lainnya. Di Solo pengolahan dilakukan dengan menggunakan sistem gasifikasi, sehingga lebih ramah lingkungan. Dengan sistem gasifikasi ini, lanjut Bambang, ada dua hal yang dapat dicapai, yakni mengurangi sampah itu sendiri dan menghasilkan listrik yang terbarukan.

"Kami berharap Kota Solo dapat segera mengaplikasikan pengolahan PLTSa ini. Agar nantinya dapat ditiru oleh 12 kota lainnya yang juga menjadi percontohan," katanya.

Menteri juga berharap Kota Solo bisa menjadi business model. Bambang mengatakan, selama ini kendala di kota lain adalah masih adanya kebiasaan membuang limbah yang tidak ramah lingkungan dan masih mengeluarkan biaya tipping fee.

"Kalau di kota Solo semua masalah tersebut sudah terselesaikan," ucapnya.

Menurut dia, persoalan yang menjadi kendala penerapan di kota lainnya mengenai pengolahannya yang masih kurang ramah lingkungan dengan sistem insenerator. Dengan sistem ini, masih ada limbah berupa asap pembakaran dan limbah lainnya.

Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo menambahkan, ia berharap bisa melakukan paparan pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Bappenas. Sehingga pengelolaan sampah untuk menjadi sumber listrik yang terbarukan ini segera terealisasi.

"Selama ini kan masih ada kendala aturan mengenai BLPS (biaya layanan pengolahan sampah, red). Makanya kami mendorong pemerintah pusat. Dengan begitu kami lebih cepat untuk membuat regulasinya dalam perda," pungkas Rudyatmo.

Direktur Utama PT Solo Citra Metro Plasma Power (SCMPP) selaku Kontraktor Pelaksana Proyek PLTSa Putri Cempo, Erlan Suherlan menyampaikan, saat ini pihaknya sedang membangun miniplan yang akan menghasilkan listrik sebesar 150 kwh.

"Kami targetkan awal Maret nanti sudah berjalan, 150 Kwh ini sudah selesai semua secara fisik," katanya.

Sementara itu untuk tahap uji coba, kata Erlan, akan dilakukan pada tanggal 25 Februari selama lima hari sehingga awal bulan Maret sudah bisa menghasilkan listrik. Untuk menghasilkan 150 Kwh ini, lanjut dia, hanya butuh sekitar 10 ton sampah.

"Saat ini kami menggunakan sampah baru dulu. Kalau untuk tahap di TPA Putri Cempo belum, 150 Kwh ini kami pakai sendiri dulu," jelasnya lagi.

Erlan mengatakan nantinya PLTSa tersebut akan memproses sebanyak 450 ton sampah/hari dan menghasilkan listrik sebesar 10 MW. Untuk mencapai target tersebut, dikatakannya, SCMPP akan membangun fasilitas di TPA menjadi dua fase.

"Pada tahap pertama kami akan membangun fasilitas pengolahan sampah yang dapat menghasilkan 5 MW listrik untuk diekspor ke jaringan nasional," ucapnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan, pembangunan tahap pertama dimulai awal tahun ini dan diharapkan akan dimulai pada awal 2019 dan bisa beroperasi secara komersial pada tahun 2021. [eko]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini