Ngariung merdeka.com, Ridwan Kamil beberkan sejarah Bandung

Sabtu, 27 Februari 2016 13:01 Reporter : Andrian Salam Wiyono
Ngariung merdeka.com, Ridwan Kamil beberkan sejarah Bandung Ridwan Kamil. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Di sela kesibukannya sebagai Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil menyempatkan hadir dalam acara 'Ngariung Sareng Kang Emil' di Tjendana Bistro, Jalan Sukajadi, Bandung, Jumat (26/2) malam yang digelar KLNetwork dan merdeka.com. Di hadapan sekitar 30-an komunitas yang hadir, Emil begitu akrab disapa membeberkan sejarah Bandung sampai orang doyan nongkrong di Kota Kembang ini.

Sebagai orang yang juga lama berkecimpung di komunitas, Bandung Creatif City Forum (BCCF), Emil diawal pemaparannya merasakan kenyamanan.

"Dengan komunitas saya merasa satu frekuensi," katanya membuka paparan, disambut riuh komunitas.

"Sebelum saya bicara lebih jauh tentang Bandung, semua harus tahu dulu sejarah Bandung," ujarnya yang mengenakan batik gelap plus peci.

Bandung yang kini berkembang pesat dan memiliki penduduk 2,5 juta jiwa, siapa kira dulunya adalah sebuah danau besar akibat letusan Gunung Sunda. Sampai pada akhirnya Bandung memiliki sekitar 40 sungai kecil-kecil.

Tak ada kerajaan di Bandung. Kerajaan hanya berdiri di sekeliling Bandung, seperti Garut, Bogor, Sumedang dan lainnya.

"Bandung itu nol kilometer. Baru 1810 Daendles datang, awalnya ke Dayeuhkolot (Kabupaten Bandung)," katanya.

"Namun Dayeuhkolot sering terkena banjir. Jadi di Dayeuhkolot, Bandung Selatan, sudah terjadi sejak jaman Belanda".

Akhirnya meneer Belanda itu, memerintahkan mencari titik nol baru di kawasan Bandung. 0 kilometer kini ada di Alun-Alun Bandung, yang kini juga menjadi ikon kota.

"Karena dari nol, Bandung didesain dari nol. Di kilometer nol dibangun pasar, alun-alun, Masjid Agung, penjara Banceuy dan pendopo. Itulah rumus Belanda dalam membangun sebuah kota," terangnya.

Puncak keemasan pembangunan Bandung terjadi pada 1920-an. Waktu itu, kata Emil, banyak seniman atau ilmuwan Eropa yang datang ke Bandung. Mereka mencurahkan segala ekspresi seninya. Di bidang arsitektur, mereka banyak membangun gedung-gedung dengan berbagai gaya arsitektur, antara lain gaya hybrid, klasik, neoklasik dan lainnya.

"Maka 1920 Bandung disebut Paris van Java karena keren pisan," ujarnya.

Paris van Java hanya dihuni 300 ribu penduduk, meningkat tajam dibanding sekarang yang mencapai 2,5 juta. Setelah kemerdekaan, lanjut Emil, Belanda pergi. Sementara pola pembangunan peninggalan Belanda ditinggalkan.

Menurutnya, faktor cuaca menjadi alasan utama orang nyaman datang dan tinggal di Bandung. Cuaca Bandung yang sejuk, kata dia, melahirkan orang-orang yang rileks, ramah. Beda dengan daerah dengan cuaca panas yang pembawaannya cenderung temperamen.

"Di Bandung maju mundur jalan-jalan enak seperti kata Syahrini. Bandung enak untuk kontemplatif, merenung kemudian melahirkan karya. Itu kenapa banyak lahir budayawan dari Bandung, karena Bandung enak untuk berpikir," jelasnya.

Survey majalah Rolling Stones, kata dia, menyimpulkan bahwa kreativitas warga Bandung timbul karena kebiasaan nongkrong sambil ngobrol, bertukar ilmu dan wawasan kemudian membuat karya. "Makanya jumlah komunitas di Bandung lebih dari 5.000," katanya.

Nongkrong dan kreativitas menjadi kultur orang Bandung. Dari situ banyak tumbuh grup-grup atau komunitas hobi, sosial, ekonomi, seni dan lainnya.

"Jadi penjelasan saya ke Merdeka.com begitulah kultur Bandung. Saat saya sebelum wali kota sata jadi dosen dan aktif di komunitas, di organisasi BCCF," katanya, kepada jajaran redaksi KLN dan merdeka.com yang menghadiri acara. Hadir CNO KLN Wens Manggut, Pemimpin Redaksi merdeka.com Didik Supriyanto, Redaktur Eksekutif Ramadhian Fadillah, Redaktur Pelaksana Muhammad Hasist.

Setelah menjadi Ketua BCCF, sambung dia, dirinya mendirikan Indonesia Berkebun. Komunitas ini berbasis media sosial Twitter. Jadi dia mengaku, menjadi wali kota tidak lepas dari hobinya yang kerap bertukar pikiran dengan orang kreatif lainnya.

"Jadi nongkrong dengan hal positif, bertukar pikiran, kaya saya gini bicara paling tidak 10 persennya bisa diserapkan," tuturnya sembari bercanda. [dan]

Topik berita Terkait:
  1. Ridwan Kamil
  2. Merdeka Bandung
  3. Bandung
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini