Nestapa warga Riau akibat kabut asap hingga kecam pemerintah

Selasa, 15 September 2015 05:38 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo, Abdullah Sani
Nestapa warga Riau akibat kabut asap hingga kecam pemerintah kabut asap di Riau. ©2015 merdeka.com/muhammadun

Merdeka.com - Kejadian itu selalu berulang saban tahun. Seakan tidak pernah ada jalan keluarnya. Akibat amukan api di lahan perkebunan dan hutan, dampaknya sampai membuat korslet hubungan dengan negara tetangga.

Namanya kabut asap. Wujudnya putih, dan mudah melayang di angkasa. Namun bila jumlahnya terlampau banyak, justru membahayakan bagi manusia.

Warga di sejumlah daerah di Sumatera, seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, nampaknya sudah akrab dengannya. Mereka tidak bisa berbuat banyak karena bencana melanda begitu dahsyat.

Menurut Wali Kota Pekanbaru, Firdaus, Kota Pekanbaru sudah tidak layak lagi dihuni oleh manusia. Sebab, akibat kabut asap dari kebakaran lahan dan hutan membikin Particulate Matter (PM10) melejit hingga angka 1.051,71, atau udara sudah dalam level sangat berbahaya.

"Sementara aturan Menteri Lingkungan hidup nomor 45, tentang ambang batas Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) PM10 hanya boleh 300-an. Kondisi kualitas udara saat ini sudah tidak layak dihuni lagi," kata Firdaus di Pekanbaru, Riau, seperti dilansir dari Antara, kemarin.

Sempat juga beredar surat bernada protes kepada pemerintah, entah siapa penulisnya, terkait kabut asap. Isinya menyatakan, kabut asap merupakan ulah manusia juga. Namun sayang, pemerintah sebagai pelaksana peraturan seolah tutup mata atas hal itu, dan lebih sibuk mengurus konflik politik di ibu kota.

Presiden Joko Widodo pun rencananya bakal meninjau lokasi kebakaran hutan di Riau dan beberapa wilayah di Sumatera. Sebab, sudah ada ratusan titik api yang menyebabkan kabut asap.

"Pak Presiden sangat concern pada masalah kebakaran hutan, dan beliau sebetulnya malah akan berangkat ke Riau," ujar Kepala badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, Jumat (4/9).

Sayang sampai saat ini, janji itu belum ditepati. Hal itu jelas membuat geram warga masyarakat.

Nando, warga kabupaten Kampar menginginkan Presiden Jokowi ikut merasakan penderitaan rakyat akibat pekatnya kabut asap.

"Biar ikut merasakan kabut asap, Pak Jokowi datanglah ke Riau, jangan hanya ngomong aja di media, kami butuh bukti, bukan janji," kata Nando kemarin. [ary] SELANJUTNYA

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini