Nasib ABK Indramayu, Terkatung-katung di Laut hingga Pulang Tinggal Nama

Sabtu, 9 Mei 2020 20:05 Reporter : Merdeka
Nasib ABK Indramayu, Terkatung-katung di Laut hingga Pulang Tinggal Nama Ilustrasi. ©2019 Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Karista begitu miris melihat pemberitaan di media massa tentang nasib ABK Kapal berbendera China yang mayatnya dilarung ke laut. Pria 45 tahunan ini terkenang saat dia masih menjadi ABK Kapal Dae hwa 302 berjenis longline.

Pria yang akrab dipanggil Sitong itu menjelaskan bahwa dia menjadi ABK di kapal tersebut sekitar tahun 2007 silam. Baru setelah 28 bulan, atau tepatnya tahun 2009 ia kembali ke Indonesia.

Warga Desa Jambe, Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu ini mengaku begitu berat bekerja menjadi ABK. Jam kerja yang mencapai 16 jam hingga gaji yang tak seberapa sudah menjadi konsekuensi tersendiri dalam pekerjaan itu.

"Kerja dari jam 12 sing bisa sampai pagi. Itu juga selesai mancingnya, belum lagi beres-beres peralatan bisa sampai jam 8-an," kata Sitong saat dihubungi Liputan6.com, Sabtu (9/5).

Sitong menuturkan, usai melaksanakan tugas tersebut dia langsung tertidur pulas. Karena saking capeknya setelah sejak siang dan malam berjibaku dengan pekerjaan menangkap ikan. Tak ada waktu untuk sekedar menikmati indahnya pagi di tengah samudera.

Menurut Sitong, ritme kerja seperti itu ia lalui sampai habis masa kontraknya. Melelehkan merupakan sebuah keniscayaan menjadi ABK di sana. Kalau ada pekerjaan lain yang bisa ia garap, mungkin ia tak akan memilih pekerjaan itu. Tapi nasib membuatnya tak bisa memilih.

"Gak ada waktu buat santai-santai kalau di Laut. Apalagi liburan," kata Sitong.

Sitong menceritakan, selama di berlayar tak ada waktu libur baginya. Kalaupun pancing sedang sepi ikan, kata Sitong ia dan 24 ABK lainnya di kapal berbendera Korea Selatan itu diminta untuk melakukan pekerjaan lainnya.

"Kalau bersandar bisa istirahat. Itu pun setahun sekali bahkan pernah sampai lebih," ungkapnya.

Perbulan kala itu ia diupah USD 150. Dengan asumsi kurs dolar terhadap rupiah kala itu masih sekitar Rp 9.000, per dolarnya ia masih dipotong oleh pihak perusahaan yang memberangkatkannya, yakni Rp 1.500 per dolarnya.

"Paling satu jutaan yang masuk ke kantong," kata Sitong.

Belum lagi, kata Sitong gajinya dipotong satu setengah bulan guna biaya keberangkatan dirinya di sana. Maklum, menurut dia saat berangkat ke sana ia tak mengeluarkan biaya. Semua biaya ditanggung perusahaan yang menyalurkannya, yakni PT. Kimco Citra Mandiri.

Baca Selanjutnya: Terpaksa Makan Babi...

Halaman

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. ABK Indonesia Jadi Budak
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini