Nahas karutan, bawa napi liburan berujung hilang jabatan

Jumat, 23 September 2016 10:17 Reporter : Lia Harahap
Nahas karutan, bawa napi liburan berujung hilang jabatan Ilustrasi penjara. ©2012 Shutterstock/rook76

Merdeka.com - Setiap napi hendaknya mendapat perlakuan yang sama. Namun apa yang dilakukan Kepala Rutan Soppeng, Makassar bernama Irpan seolah membeda-bedakannya.

Dia mengajak belasan napi liburan ke Lejja, tempat wisata pemandian air panas yang cukup terkenal di sana. Tak cuma berendam air panas, napi juga diajak karaoke dan makan ikan bakar. Bahkan kabarnya, saat acara nyanyi bersama itu juga disediakan minuman keras.

Liburan tak biasa yang dia sediakan untuk napi ketahuan setelah dilaporkan masyarakat dan polisi menangkap mereka.

"Kemudian dilakukan pengembangan dan ditemukan 13 orang dalam Hotel Hakata Lejja bersama Kepala Rutan. Dalam hotel itu ditemukan bir dan ballo," kata Kapolres Soppeng AKBP Dodied Prasetyo Aji.

Dijelaskan Dodied, laporan serupa sudah beberapa kali dia terima. Irpan diketahui sering membawa keluar napi untuk bersenang-senang.

"Sebenarnya sejak beberapa bulan lalu kami menerima banyak laporan kalau ada napi yang dibawa keluar, hanya saja kami tidak dapat bukti kuat. Dan kemarin laporan kita terima lagi, saya langsung perintahkan Kepala Satuan Reskrim, AKP Ahmad Rosma untuk turun melakukan pengecekan ke Lejja, lokasi wisata itu dan ditemukan para napi mandi di kolam dan sebagian lagi di hotel," sambungnya.

Setelah menangkap Irpan dan sejumlah napi, langsung diserahkan ke Kanwil Kemenkum dan HAM Soppeng. Irpan menjalani pemeriksaan intensif.

Dalam pemeriksaan yang dilakukan padanya, Irpan mengaku napi yang dibawanya adalah napi asimilasi. Dia membantah napi yang dia bawa keluar melakukan pesta miras.

"Tidak ada miras karena yang kita bawa ke Lejja itu hanya ikan yang kemudian kita bakar-bakar difasilitasi oleh teman dari BKSDA," kata Irpan.

Irpan juga berdalih ajakan jalan-jalan untuk memenuhi janjinya. Sebelumnya dia menjanjikan napi yang mau memperbaiki lapas akan diganjar hadiah jalan-jalan.

"Sejak awal saya tugas Juni lalu, saya melihat kondisi rutan banyak kerusakan dan perlu pembenahan. Saya langsung minta narapidana untuk membantu lakukan perbaikan. Saat itulah janji untuk bawa mereka jalan-jalan kalau pekerjaannya bagus. Saat menunaikan janji itu, ada dua pilihan. Pertama, harus memenuhi janji dan kedua, kalau memenuhi janji berarti membuat pelanggaran. Hingga akhirnya saya memilih memenuhi janji ke para narapidana itu. [lia] SELANJUTNYA

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini