Muhammadiyah Sesalkan Perlakuan Aparat ke Para Demonstran

Minggu, 11 Oktober 2020 09:36 Reporter : Merdeka
Muhammadiyah Sesalkan Perlakuan Aparat ke Para Demonstran Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas. Antara

Merdeka.com - Ketua PP Muhammadiyah sekaligus Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas menyesalkan dan menilai perlakuan aparat ke para pendemo begitu represif. Anwas Abbas menyinggung ketika bangsa Indonesia masih berada pada masa penjajahan.

"Di mana kompeni dengan beringas dan kasar serta dengan tidak mengenal rasa perikemanusiaan sedikit pun, memukul menendang dan menginjak-injak orang pribumi yang menentang dan memprotes kebijakan yang dibuat oleh 'si penjajah'. Tindakan biadab tersebut mereka lakukan tentu tujuannya adalah untuk membungkam kelompok pribumi supaya cengkeraman kekuasaan mereka sebagai penjajah di negeri ini semakin lebih kuat lagi," kata Anwar Abbas dalam keterangan tulis, Sabtu (10/10).

Dia juga mengingatkan akan makna dan pengamalan dari Pancasila, terutama sila kedua. "Ke mana nasionalisme dan hati nurani mereka. Ke mana sila-sila dari Pancasila yang sering mereka ucapkan setiap upacara tersebut, terutama sila keduanya yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab mereka tempatkan," tuturnya.

Anwar Abbas meminta para aparat yang mengamankan demonstrasi untuk bisa lebih bijak menangani massa aksi. Karena bagaimanapun massa aksi itu adalah rakyat Indonesia, bukan musuh dalam peperangan.

"Kita mengimbau kepada pihak kepolisian atau kepada siapa saja di negeri ini agar dalam bertindak dan menindak rakyat supaya terukur. Jangan sampai karena kemarahan dan kebencian kita kepada para demonstran atau kepada siapa saja lalu kita menjadi tidak berlaku adil terhadap mereka. Kita jangan menyamakan para demonstran tersebut seperti musuh dalam medan peperangan. Berbeda sekali," harapnya.

Sebelumnya, jutaan buruh melakukan aksi mogok nasional dan memilih turun ke jalan menolak RUU Cipta Kerja. Begitu juga elemen masyarakat lainnya, seperti pelajar dan mahasiswa. Namun tak sedikit, aksi demonstrasi yang semula damai berujung anarkis.

Di ibu kota, kerusuhan terus meluas di beberapa tempat hingga Kamis (8/10) malam. Bentrokan antara massa perusuh dengan aparat keamanan tak terhindarkan.

Sejumlah fasilitas umum tak luput dari amukan massa yang beringas. Gedung Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjadi salah satu sasaran amuk massa. Mereka melempari kaca gedung dengan batu dan benda keras lainnya. Mereka juga membakar sebagian bangunan.

Di Jakarta, polisi telah mengamankan 1.192 orang dalam aksi unjuk rasa. Mereka yang diamankan tersebut sebagian besar pada saat sebelum terjadi kerusuhan.

"Sampai dengan detik ini (Jumat) memang ada 1.192 kita amankan, sebelum dilakukan rusuh itu memang kita lakukan razia, kita melakukan razia karena memang kita ketahui pada pengalaman-pengalaman sebelumnya memang ada demo dan berakhir kerusuhan ada indikasi itu ditunggangi oleh orang-orang yang memang anarko," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus di Polda Metro Jaya, Jumat (9/10).

Yusri menjelaskan, mereka yang diamankan itu ada yang berasal dari Purwakarta, Kerawang, Bogor, Banten dan beberapa daerah lainnya. Hampir kebanyakan mereka yang diamankan itu masih berstatus sebagai pelajar Sekolah Tehnik Menengah (STM).

"Itu bukan dari kelompok buruh yang memang akan menyuarakan, tapi ada kelompok-kelompok sendiri yang datang untuk merusuh bahkan didominasi oleh anak-anak STM yang dia tidak tahu apa itu UU Ciptaker," jelasnya.

Reporter: Yopi Makdori [cob]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Muhammadiyah
  3. Demo
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini