Muhammadiyah Dukung Bentuk Tim Investigasi Kasus Tewasnya 6 Laskar FPI

Selasa, 8 Desember 2020 08:41 Reporter : Intan Umbari Prihatin
Muhammadiyah Dukung Bentuk Tim Investigasi Kasus Tewasnya 6 Laskar FPI Potret Anggota Laskar Jaga Ketat Markas FPI. Liputan6.com/Faizal Fanani ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’ti mendesak polisi transparan dan terbuka dalam tragedi penembakan anggota Front Pembela Islam (FPI) di tol Jakarta-Cikampek, Senin (7/12) dini hari. Terlebih, ada dorongan dibentuk tim investigasi agar beda versi polisi dan FPI dalam tragedi itu benar terungkap secara transparan.

"Sebaiknya kepolisian bersikap terbuka dan merespon permintaan investigasi secara positif untuk menjawab berbagai spekulasi di masyarakat yang menengarai polisi telah melakukan kekerasan," kata Mu'ti kepada merdeka.com, Selasa (8/12).

Mu'ti juga mengapresiasi langkah FPI untuk meminta komnas HAM mengusut tuntas kasus tersebut. Tidak hanya itu, dia juga merespon positif sikap Komnas HAM yang mau membentuk tim investigasi.

"Itu inisiatif dan jalan penyelesaian yang damai dan elegan," kata Mu'ti.

Sementara itu, dia meminta kepada masyarakat khususnya umat islam agar tidak terprovokasi dengan kabar tidak jelas. Serta menyikapi secara jernih.

"Kepada seluruh masyarakat, khususnya umat Islam, agar menyikapi masalah dengan jernih dan tenang serta tidak terprovokasi oleh berita yang tidak jelas sumbernya dan belum pasti kebenarannya," ungkap Mu’ti.

Diketahui, polisi menembak mati 6 orang laskar FPI yang sedang mengawal perjalanan Habib Rizieq Syihab ke suatu tempat. Polisi mengaku terpaksa melakukan tindakan tegas tersebut karena diserang senjata api dan senjata tajam.

Namun FPI membantah klaim polisi itu. FPI menyebut, para laskar tak dibekali senjata api. Malah, polisi berpakaian preman itu yang dianggap menyerang lebih dulu. [rnd]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini