Mugiyanto tetap bertahan mencari kawan yang hilang

Sabtu, 17 Mei 2014 06:40 Reporter : Laurencius Simanjuntak
Mugiyanto tetap bertahan mencari kawan yang hilang Mugianto. ©istimewa

Merdeka.com - Sepinya kontrakan di Rusun Klender pada malam 13 Maret 1998 datang sebagai pertanda buruk bagi Mugiyanto. Di kawasan padat di Jakarta Timur itu, dia diculik 10 orang tentara, menyusul Nezar Patria dan Aan Rusdianto, teman satu kontrakannya.

Menyusuri malam Jakarta, Mugi, demikian aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) ini disapa, dibawa berturut-turut ke Koramil, Kodim Jakarta Timur, sampai di sebuah tempat penyiksaan yang dia tidak ketahui.

Di tempat X itu, Mugi  disuruh membuka sepatu dan celana, hingga tersisa hanya celana dalam. Dari situ, dia dipukul di bagian perut dan muka berkali-kali sampai terjatuh.

Mahasiswa Fakultas Sastra inggris UGM Yogyakarta ini kemudian ditidurkan terlentang di atas tempat tidur lipat dari terpal. Kedua kaki dan tanganya diikat pada tempat tidur.

"Saat itulah saya mulai diinterogasi dengan cara disetrum dengan alat setrum yang suaranya seperti cambuk," kata Mugi lewat kesaksian yang ditulisnya 8 Juni 1998 atau tiga hari setelah dia dilepas dari penculikan.

Bahkan, setelah menulis kesaksian tersebut, Mugi masih ragu akan kebebasannya dari hampir 3 bulan penculikan. Hal ini, katanya,  mengingat perkembangan kehidupan politik nasional yang masih belum menentu.

Kini, setelah 16 tahun rezim Soeharto tumbang, keraguan itu tentu sudah berlalu. Namun, konsistensi Mugi dalam mencari 13 rekannya yang masih hilang hingga sekarang tidak pernah surut.

Berbeda dari rekannya yang lain, Mugi tetap berada di jalur aktivisme. Dia memimpin Ikatan Keluarga Orang Hilang (Ikohi), lembaga yang didirikan korban dan keluarga penghilangan paksa 1997-1998 pada 17 September 1998.

Lewat lembaga itu, Mugi adalah salah satu orang yang mendorong dikeluarkannya rekomendasi DPR untuk kasus orang hilang pada 2009, kendati hal tersebut diabaikan oleh presiden. Pengadilan HAM Adhoc, sebagai salah satu rekomendasi, tidak juga digelar hingga kini.

Dalam hiruk-pikuk Pilpres 2014 ini, Mugi juga tetap konsisten memperjuangkan penegakan HAM. Sambil menyayangkan rekan-rekan seperjuangannya yang justru merapat ke Partai Gerindra, dia juga mengampanyekan tolak capres pelanggar HAM.

Pada saat Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, menulis 'Sajak Orang Hilan', Mugi pun bereaksi.

"Sampai kapan kau akan ingkari bahwa tuanmu menghilangkan kawan-kawan kami?" kata Mugi lewat media sosial. [did]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini