Modus Karyawan Pungli Sopir Kontainer di Tanjung Priok, Tak Beri Uang Tak Dilayani

Jumat, 11 Juni 2021 13:30 Reporter : Bachtiarudin Alam
Modus Karyawan Pungli Sopir Kontainer di Tanjung Priok, Tak Beri Uang Tak Dilayani Aktivitas JITC. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus membeberkan modus ke-49 karyawan yang kerap melakukan (pungutan liar) pungli sebagaimana dikeluhkan para sopir kontainer kepada Presiden Joko Widodo saat kunjungan ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara pada Kamis (10/6) kemarin.

"Kemarin ada kegiatan tatap muka Presiden RI dengan para sopir truk kontainer di Pelabuhan. Di mana ada satu keluhan dari sopir truk tentang adanya pungli-pungli yang dilakukan oleh para karyawan-karyawan dan juga para preman-preman yang ada di jalanan," kata Yusri saat jumpa pers di Mapolres Metro Jakarta Utara, Jumat (11/6).

Modus pungli yang dilakukan para karyawan pelabuhan dimulai saat sopir memasuki pelabuhan. Salah satu sekuriti akan meminta Rp5.000 kapada para sopir. Kemudian, masuk ke pos kedua sopir truk kontainer masih harus membayar Rp2.000, hingga ke pos ketiga kembali harus membayar Rp2.000 sampai Rp5.000.

"Masuk ke pos keempat, angkat kontainer crane itu minimal Rp5.000 (angka minimal). Terakhir di luar harus bayar lagi Rp2.000," sebut Yusri.

Yusri mengatakan pada lokasi tempat kejadian perkara pertama di PT Greeting Fortune Container setidaknya sudah terdapat lima kali titik pungli yang harus dibayar para sopir kontainer.

"Jadi total itu di Fortune ini sekitar Rp13 ribu satu hari per satu kendaraan. 1 Hari itu bisa 500 kendaraan kontainer, sehingga sekitar Rp5,5 juta yang harus dikeluarkan para sopir-sopir totalnya," ujarnya.

Sedangkan untuk lokasi kedua, lanjut Yusri, di PT Dwipa Kharisma Mitra Jakarta, pungli juga terjadi di sedikitnya empat pos lokasi titik pungli yang dialami para sopir kontainer.

"Belum lagi di luar premanisme-premanisme yang dijalan mulai dari 'Pak ogah', sampai sengaja dibuat macet nanti diketok-ketok itu. Ini juga diamankan mereka semuanya," kata Yusri.

Yusri menambahkan, bila para sopir kontainer menolak untuk membayar, para pelaku yang merupakan karyawan ini nantinya akan menghambat hingga memutar balik kendaraan kontainer tersebut.

"Bahkan dengan gampangnya, Rp5.000 ditolak sama mereka nanti kalau sudah Rp20.000 baru diangkat oleh operator (crane). Jadi dikumpulkan ke dalam satu kantong plastik barang baru diangkat.

"Sama dengan di pos-pos lainnya di dus-dus itu jadi masuk (sopir) itu tinggal masukkan, kalau tidak masukkan uang tidak akan boleh, disuruh putar balik sama mereka. Ini keluhan dari sopir truk kepada presiden dan perintah dari Pak Kapolri ke Pak Kapolda, kami akan mengungkap ini semua," tambah Yusri.

Sementara hasil dari pungli yang mencapai jutaan rupiah itu tidak disetorkan kepada perusahaan tempat para pelaku bekerja. Kata Yusri, uang hasil pungli ini nantinya akan dibagi-bagi kepada setiap pelaku setelah jam kerja piket mereka selesai.

"Ini bukan mereka-mereka ditaruh (uangnya) masuk kantor, jadi ini ditaruh masuk di satu tempat. Nanti setelah lepas piket baru mereka bagi," kata Yusri.

Oleh sebab itu, Yusri menyampaikan pihaknya akan menindaklanjuti dan menggelar rapat bersama perusahaan untuk menindaklanjuti keterlibatan 49 karyawan yang terlibat pungli tersebut.

"Ini rata-rata karyawan-karyawan semuanya ini. Saya katakan ada sekuritinya, kita akan rapat dengan stakholder terkait apa pokok masalahnya kenapa sampai terjadi macet," kata Yusri.

Nantinya, pembahasan rapat bersama pihak perusahaan akan menindaklanjuti terkait indikasi permainan pada saat pintu masuk yang memakai barcode. Lantaran di situ, kendaraan seperti sengaja diperlambat jika tidak memberikan uang, sehingga timbulkan kemacetan.

"Saya ambil contoh satu, misalkan portal dengan menggunakan barcode itu 1 setengah menit, padahal setiap hari itu banyak kendaraan kontainer bagaimana itu bisa macet," tuturnya.

"Apakah memang di situ ada tindakan pelaku-pelaku yang coba bermain di situ tapi ada indikasi di situ dicoba bermain (pungli) dengan barcode, ada indikasi petugas di situ kalau tidak dibayar barcodenya tidak akan jalan itu. Jadi jangan main-main akan kami tindak tegas," pungkas Yusri.

Polisi Amankan 49 Pelaku

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol, Yusri Yunus menyampaikan ke-49 pelaku pungli ini merupakan para karyawan dari dua kelompok di pos, Depo PT Greeting Fortune Container dan lokasi kedua di Depo PT Dwipa Kharisma Mitra Jakarta.

"Kami amankan ini ada 49 orang karyawan dengan perannya masing-masing dan kelompok-kelompok masing di pos-pos ini, di dua PT di sini PT DKM (Dwipa Kharisma Mitra) dan juga PT DFC (Depo PT Greeting Fortune Container) yang diamankan," kata Yusri saat jumpa pers, di Mapolres Metro Jakarta Utara, Jumat (11/6).

Ke-49 pelaku ini yang berhasil ditangkap ini merupakan angka kumulatif dari hasil tindak lanjut pertama Polres Metro Jakarta Utara yang menangkap 12 di TKP PT DFC dan 16 orang di PT DKM. Sementara untuk Polsek Cilincing menangkap 6 pelaku dan Polsek Tanjung Priok mengamankan 15 pelaku.

"Ini mereka (para pelaku ditangkap) di pos-posnya masing dari mendekati pos Tanjung Priok, sampai mengangkat barang tersebut. Ini yang dilakukan para pelaku dengan pungli," ujarnya.

Para pelaku diancam dengan pasal 368 KUHP tentang tindakan menguntungkan diri sendiri dengan ancaman maksimal 9 tahun penjara. [bal]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini