Mereka yang mengecam walk out Ananda saat Anies pidato di Kanisius

Rabu, 15 November 2017 07:16 Reporter : Dedi Rahmadi
anies baswedan di merdeka.com. ©2017 Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Merdeka.com - Komponis dan juga pianis Ananda Sukarlan salah satu alumni yang mendapat Penghargaan Kanisius dalam rangka memperingati 90 tahun berdirinya Kolese Kanisius di Hall D JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu (11/11) malam. Namun saat Gubernur DKI Anies Baswedan berpidato, Ananda dan beberapa alumni lain walk out (WO) dari ruangan tersebut.

Ananda mengaku walk out sebagai bentuk kritik kepada panitia Kanisius tersebut. Karena menurut Ananda, jabatan yang diraih Anies diraih dengan cara yang tidak fair.

Dia menegaskan tak ada muatan politis dalam aksinya kemarin. Ananda menyebut tindakan itu sebagai kritik almamaternya untuk lebih selektif mengundang tamu di masa depan.

"Saya itu mengkritik (konstrukttif) justru almamater saya sendiri loh. Untuk lebih selektif mengundang di masa depan. Self criticism," kata Ananda dikutip dari akun twitter @anandasukarlan, Senin (13/11).

"Saya WO bukan supaya keren, bang. Saya sudah keren sebelum WO, bahkan lahirpun sudah keren," tambah dia.

Ternyata tindakan Ananda tersebut mendapat kecaman dari berbagi pihak termasuk budayawan Franz Magnis-Suseno. Romo Magnis, panggilan akrabnya, menyebut tindakan itu memalukan.

"Namun apa yang terjadi kemudian - bukan salah Panitia! - menurut saya memalukan dan sangat saya sesalkan. Yaitu, begitu Gubernur bicara, sebagian besar hadirin, mengikuti Bapak Ananda Sukarlan, meninggalkan ruang," tulis Romo Magnis dikutip merdeka.com, Selasa (14/11).

"Andaikata Gubernur mengatakan sesuatu yang tidak senonoh/jahat/menghina, walkout dapat dibenarkan. Tetapi walkout kemarin menunjukkan permusuhan terhadap pribadi Gubernur merupakan suatu penghinaan publik. Kok bisa? Di negara mana pun, di luar pertemuan polltik, hal itu jarang terjadi."

Romo Magnis menuturkan Ananda memiliki hak untuk menolak Anies. Namun dia sangat menyayangkan sebagian peserta menggunakan kesempatan acara Kanisius untuk menunjukkan permusuhan terhadap Gubernur DKI.

"Saudara Ananda Sukarlan berhak menolak Anies. Sebagai seorang Muslim ia tidak perlu dicurigai bersikap sektarian. Namun saya tetap tidak dapat menyetujui kelakuannya. Tamu harus dihormati, tamu datang karena diundang panitia, maka semua yang ikut undangan panitia, harus menghormati tamu pun pula kalau secara pribadi tidak menyetujuinya. Silahkan panitia dikritik. Tetapi menginisiasikan suatu demonstrasi penghinaan terbuka terhadap Gubernur DKI saya anggap penyalahgunaan kesempatan."

Senada dengan Romo Magnis, budayawan Eros Djarot mengkritik apa yang dilakukan Ananda Sukarlan dan sejumlah rekannya. Eros menyebut hal itu sebagai 'kekerasan' budaya. Eros pun bertanya apakah meninggalkan tamu undangan saat berpidato juga termasuk dalam nilai-nilai di Kanisius?

"Saya yakini bukan ajaran dan perilaku yang berpijak pada ajaran sang Juru Selamat... yang begitu indah dan menghadiahkan kepada kehidupan ini musik yang penuh cinta kasih sehingga setiap telinga yang mendengar akan merasakan betapa damai itu indah...memaafkan itu indah...menebar kasih itu indah...!" tulis Eros.

Eros mengungkapkan kritik tersebut dari seorang sahabat yang bermusik hanya dengan pengetahuan dan kebisaan yang sangat sederhana dan terbatas. "Tapi menjadi pengagum Jesus sang pejuang kemanusiaan yang penuh damai sehingga layak saya jadikan sumber inspirasi di banyak lagu-lagu yang saya ciptakan.... Sekalipun saya pengikut Muhammad SAW," tambahnya. [ded]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.