Merawat Lingkungan ala Anak Milenial

Rabu, 8 Juli 2020 08:03 Reporter : Aksara Bebey
Merawat Lingkungan ala Anak Milenial Siska Nirmala. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Sampah atau limbah yang merusak lingkungan menjadi permasalahan yang seakan tidak menemukan ujung. Kondisi ini bisa berubah menjadi lebih baik dengan kemauan antarindividu mengubah kebiasaan untuk menekan pencemaran. Atau, memanfaatkan limbah hingga bernilai rupiah.

Dalam konferensi internasional pembangunan laut berkelanjutan di Kota Oslo, Norwegia, tahun lalu, disebut bahwa Indonesia menjadi negara kedua penghasil sampah terbanyak di dunia, setelah China.

Hal ini disadari oleh Siska Nirmala yang menganggap bahwa budaya di Indonesia masih sangat bergantung pada makanan kemasan. Banyak yang terpaku pada pola recycle. Tapi, faktanya kurang dari 10 persen yang bisa terdaur ulang.

Terlebih, masyarakat saat ini seakan tidak bisa lepas dengan barang yang sekali pakai. Tidak mudah menemukan makanan tanpa plastik di supermarket walaupun itu sayur dan buah hingga tanpa disadari, tempat pembuangan sampah mulai meluap, menyebar hingga pegunungan dan laut.

Dasar itulah yang membuatnya aktif menerapkan gerakan zero waste. Gerakan ini adalah filosofi gaya hidup mendorong siklus hidup sumber daya sehingga produk bisa digunakan kembali atau menghindari plastik yang hanya digunakan sekali.

"Momen ini dimulai saat ia mendaki Gunung Rinjani pada tahun 2011, sampah plastik bertebaran, bertumpuk di bagian puncak. Dari sana saya mulai belajar, cari tahu apa itu zero waste, hingga menerapkannya hingga sekarang," kata dia saat dihubungi, Selasa (7/7).

Setelah bisa konsisten menerapkannya dalam gaya hidup, ia mulai mencoba menularkannya pada orang-orang terdekat. Caranya tidak dengan menggurui, karena ia sadar pemahaman mengenai lingkungan hidup atau pencemaran tidak bisa disamaratakan.

"Kalau mengubah pasti susah, apalagi kultur Indonesia yang sangat terbiasa dengan kantong plastik. Saya coba perlihatkan apa yang saya terapkan di lingkungan keluarga, ibu, suami. Hal-hal yang kecil, kalau belanja bisa pakai kantong kain. Atau kalau belum terbiasa, bisa gunakan plastik, tapi bawa dari rumah. Seperti itu aja. Atau bawa botol minum sendiri," ucap dia.

"Sedikit-sedikit. Kasarnya, kalau mau ngeracunin orang lain, harus tau awarness-nya dari mana. Levelnya masih jauh atau mulai aware. Harus disesuaikan. Tidak semua harus disampaikan secara data bagaimana bahaya pencemaran," ia melanjutkan.

Gerakan itu akhirnya menuntun Siska meluncurkan buku berjudul 'Zero Waste Adventure' pada tahun 2017, hingga dipercaya menjadi pembicara dalam seminar untuk komunitas anak muda di berbagai kota di Indonesia. Sesekali ia menjadi pemateri dalam pelatihan di sekolah tingkat menengah atas.

Alumnus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) jurusan Sastra Inggris ini menyatakan, orang yang fokus pada isu zero waste jika dibandingkan secara jumlah penduduk Indonesia masih minoritas. Namun ia menyadari, perubahan pola hidup yang ramah lingkungan ini butuh waktu panjang.

"Saya mulai fokus (menerapkan gaya hidup zero waste) dari tahun 2012, mudah-mudahan suatu saat, mungkin 100 tahun lagi pas saya meninggal kondisinya bisa lebih baik, banyak yang peduli. Singapura juga bisa berubah menjadi negara yang masyarakatnya peduli lingkungan butuh waktu beberapa tahun, bahkan lompat generasi," terang dia.

Indikasi perubahan pun ia sebut sudah mulai terlihat. Pola hidup sehat dan cinta lingkungan sudah menjadi trend. Dari sisi kebijakan pemerintah pun mulai ada yang mendukung dengan menerapkan aturan-aturan yang mendukung perbaikan sistem pengelolaan sampah.

"Salah satunya penerapan larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai di beberapa daerah. Yang paling anget Jakarta baru per Juli ini resmi aturannya. Meski emang masih jauh sekali perjalanannya. Tapi ya yang namanya birokrasi memang bergeraknya lama sekali karena banyak faktor ini itu. Yang pasti sih enggak usah tunggu pemerintah bergerak duluan. Justru kita sebagai individu punya kekuatan untuk membuat perubahan," imbuhnya.

1 dari 1 halaman

Mainan Anak dari Kardus Bekas

eni nuraeni

©2020 Merdeka.com

Semangat untuk mencintai lingkungan bisa pula menjadi peluang untuk menciptakan pundi rupiah. Seperti yang dilakukan oleh Eni Nuraeni (33) yang memanfaatkan kardus bekas menjadi mainan edukatif anak bernama Kakardusan Cardboard Toys berlokasi di kawasan Gegerkalong, Kota Bandung.

Bisnis ini bermula pada tahun 2015 saat ia memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai akuntan sebuah perusahaan. Suatu hari, ia mencoba membuat mainan hasil dari berselancar di internet.

"Aku kan kerja di Bekasi sebagai akuntan. Aku enggak setiap hari ketemu anak. Bahkan, saya mulai aktif kerja waktu anak saya masih berusia tiga bulan. Akhirnya, setelah pertimbangan matang, saya memutuskan keluar kerja untuk fokus menjadi ibu rumah tangga, ngurus anak," kata dia.

"Lalu, suatu ketika, saya iseng buka ponsel, googling. Ada mainan dari kayu tapi mahal. Saya lalu coba bikin dari kardus. Saya warnain sambil ditemani anak. Eh anak saya suka dan minta dibuatin lagi," ia melanjutkan.

Mainan yang dibuatnya dengan berbagai bentuk disesuaikan dengan perkembangan anak. Dari mulai puzzle, boneka, robot, rumah mini, hingga patung manusia lengkap dengan anatomi, semuanya dibuat dari kardus bekas. Momen-momen pembuatan mainan yang diabadikan dalam sebuah foto dan diunggah di media sosial mendapat respons dari orang-orang terdekat.

Karena pesanan makin banyak, Ibu dari Elora Najma (5) ini menggelutinya dengan serius di sela menjadi ibu rumah tangga. Pesanan datang bahkan datang dari Bali, Kalimantan, bahkan Jepang dan Singapura.

"Mainan itu enggak harus mewah, yang penting anak itu senang. Apalagi ini ramah lingkungan. Saya juga mulai pilih dan bersihkan kardus. Catnya juga yang ramah buat anak. Rate harganya Rp35 ribu sampai Rp500 ribu bergantung tingkat kesulitannya," kata dia seraya menyebut informasi mengenai produknya bisa dilihat di akun Instagram @kakardusan. [cob]

Baca juga:
Mengolah Sampah Jadi Berkah
Inspirasi dari Bekas Bungkus Kopi
Si Sarjana Pengubah Wajah Bantaran Kali Cisadane
Dianggap Gila karena Urusi Sampah
Tangan Terampil Dede 'Sulap' Limbah Plastik

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini