Menyingkap sepak terjang Jhon Kei di Nusakambangan

Kamis, 7 Desember 2017 06:00 Reporter : Abdul Aziz
john kei divonis 12 tahun. ©2012 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Di penjara Permisan Nusakambangan, uang merupakan kekuatan yang paling besar untuk memperoleh pengaruh sesama napi. Di luar penjara, nama Jhon Refra Kei boleh jadi sangat disegani atau lebih tepat ditakuti. Napi kelas kakap ini dikabarkan dekat dengan sejumlah petinggi, memiliki bisnis jasa pengamanan di Ibu Kota dari Priok hingga Tanah Abang.

Tapi kehidupan di dalam penjara, tak peduli soal kehebatan sepak terjang Jhon Kei di dunia kekerasan Ibu Kota. Perkawanan terbentuk lebih mudah jika ada lembar-lembar uang. Sebab itu pula, tersangka perkara pembunuhan Direktur Sanex Steel, Tan Hary Tantono, dikenal bersikap loyal. Ia terkesan menghambur-hampurkan uang ke beberapa napi.

Ada cerita tersendiri soal sikap loyal Jhon Kei. Saban mendatangi kantin lapas, ia selalu membeli 15-20 potong ayam goreng. Jelas, lauk itu bukan semata untuk mengenyangkan perut dirinya sendiri. Bisa dikata, pria asal Maluku itu menghidupi sejumlah napi. Di penjara Permisan, mereka disebut-sebut sebagai kelompok Jakarta-Ambon terdiri dari 15 sampai 20 orang. Jhon Kei menjadi pemimpin mereka.

"Tagihan di kantin tiap bulan untuk Jhon Kei bisa Rp 10 juta," kata sumber merdeka.com di dalam lapas yang enggan disebut namanya.

Menolak tunduk

Riwayat Jhon Kei sebagai napi di Nusakambangan, bermula pada 2 Maret 2014. Ia dipindah dari Rutan negara Salemba, Jakarta. Kedatangan Jhon Kei sejak awal di pulau bui Nusakambangan sudah menimbulkan geger.

Ketika itu, ia menolak berjalan jongkok saat diminta menuju kapal Pengayoman IV yang akan menyeberangkannya menuju dermaga Sodong Pulau Nusakambangan. Ia seakan ingin menggambarkan dirinya sebagai orang yang tidak pernah tunduk. Tak ayal, penolakan itu sempat memancing emosi petugas sehingga sempat terjadi ketegangan.

Tiga tahun mendekam di Nusakambangan, Jhon Kei merupakan sosok yang banyak tak disenangi. Ia kerap membuat keributan-keributan sesama napi. Ia juga dikatakan pandai memprovokasi para napi lain sehingga menimbulkan gesekan konflik antar napi. Sikapnya yang sok jagoan dan berperilaku layaknya bos, membuat ia memiliki banyak musuh.

"Karena sering buat ribut itulah, Jhon Kei menghuni kamar tahanan sendirian di sel tempo lapas Permisan. Kalau digabungkan dengan napi lain pasti ada saja keributan," lanjutnya.

Sebab banyak napi yang tak menyenanginya, sempat tersiar gosip, Jhon Kei pernah mengajukan pindah ke Lapas Sukamiskin di Bandung. Merdeka.com mencoba mengonfirmasi kebenaran informasi ini ke Koordinator Lapas Se-Nusakambangan dan Cilacap, Sudjonggo, tapi telepon dan SMS tak pernah dibalas. Merdeka.com juga berupaya menghubungi Tofik Chandra, pengacara yang pernah menjadi kuasa hukum Jhon Kei. Sayang, Tofik tak bisa memberi keterangan apapun.

"Saya sudah tidak lagi jadi pengacaranya (Jhon Kei). Sudah lama sekali gak berhubungan," kata Tofik singkat melalui sambungan telepon, Selasa (14/11).

Sosok Jhon Kei, memang tak lepas dari gosip. Belum lama ini, pada Rabu 13 September 2017, ia pernah dikabarkan berniat menjadi Muslim. Saat itu, Koordinator Lapas Se-Nusakambangan dan Cilacap, menegaskan kabar itu bohong. Tak pernah ada laporan tentang niat perpindahan agama dilakukan oleh napi yang pernah dijuluki sebagai Godfather of Jakarta itu.

Diserang Kelompok Napi Teroris

Pertikaian antar napi di Lapas Permisan Nusakambangan pada Selasa (7/11) yang mengakibatkan satu orang tewas, juga tak lepas dari sosok Jhon Kei. Hari itu, pagi pukul 07.30, Jhon Kei belum beranjak keluar dari selnya. Tak diduga, serombongan napi teroris mendekat ke kamar napi kelas kakap itu lantas melempari Jhon Kei dengan batu.

"Penyebabnya apa, saya tidak tahu pasti. Sepanjang pengetahuan saya, memang banyak napi yang tak menyukai Jhon Kei. Orangnya sok jagoan," kata informan merdeka.com.

Di antara rombongan napi teroris itu, pemandangan yang tak biasa, ikut bergabung pula pimpinan kelompok Jawa yakni Jhon Tris. Padahal, kelompok teroris tergolong kumpulan napi yang tak mudah didekati juga membangun pergaulan. Tapi di kalangan napi mereka cukup disegani karena dinilai sangat kompak. Sedang para sipir memandang mereka sulit diatur, tapi tak mudah diperingati sebab dalam perlindungan sejumlah pengacara.

Kehadiran Jhon Tris itulah, yang memantik sakit hati kelompok Jhon Kei. Kabar Jhon Kei diserang pun meluas ke para napi. Informasi itu berarti pula mencoreng harga diri kelompok Jakarta-Ambon. Jhon tris lantas jadi sasaran satu-satunya pembalasan sebab menyerang kelompok teroris tak memungkinkan karena mereka telah dimasukkan ke dalam sel.

"Insiden di pagi hari itu yang kemudian jadi sebab pertikaian antar napi pukul 12.30," lanjutnya.

Berniat lakukan pembalasan, kelompok Jhon Kei dari lantai atas penjara Permisan berbondong-bondong ke lantai bawah hendak menyerang Jhon Tris. Sedang kelompok Jhon Tris sudah bersiap di lantai bawah. Saat dua kelompok bertemu, baku hantam tak terelakkan.

Meski diserang rupanya kelompok Jhon Tris tak mudah ditundukkan. Justru sebaliknya kelompok Jhon Kei dipaksa mundur. Dalam pertikaian itu Jhon Kei dikabarkan mengalami luka di pelipis dan tangan. Sedang satu kawannya, yakni Tumpur Biondi alias Bondi, penghuni kamar blok Rajawali Lapas Kelas II A Permisan Nusakambangan terbunuh akibat luka tusukan di punggung.

"Jhon Kei ada di posisi belakang saat pertikaian. Seperti seorang jenderal," kata sumber merdeka.com di dalam lapas yang enggan disebut namanya.

Bapak angkat Bondi

Bondi yang tewas, pada teman-temannya sesama napi, sering mengungkapkan bahwa Jhon Kei ia anggap sebagai bapak angkatnya. Menurut sumber merdeka.com, bisa jadi hal ini hanya pengakuan sepihak Bondi. Pasalnya, saat Bondi terbunuh, Jhon Kei justru tak memperlihatkan rasa kesedihan.

Tapi kehilangan orang dekat secara tragis, memang bukan pengalaman pertama bagi Jhon Kei. Pada 8 Juni 2004, kakak kandungnya Walterus Refra terbunuh saat terjadi bentrokan antara kelompok Jhon Kei dan Basri Sangaji di depan Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Pada 31 Mei 2013, giliran adik kandungnya yakni Tito Refra Kei tewas ditembak orang tak dikenal. Ketika itu sang adik tengah bermain kartu di toko kelontong di dekat kediamannya di Kota Bekasi.

Jhon Kei kini meringkuk di Lapas Batu usai pertikaian yang menyebabkan tewasnya Bondi. Ia hidup dari skandal ke skandal yang memang tak jauh-jauh dari bentrokan, penagihan utang dan jasa pengawalan lahan dan tempat. Hidup di balik bui dan divonis 12 tahun dalam kasus pembunuhan yang dilatarbelakangi tunggakan pembayaran jasa penagihan utang Rp 600 juta, Jhon Kei nyatanya tetap tak jauh-jauh dari bentrokan. Kisah hidup di mana konflik, darah dan kekerasan telah menjadi bagian yang menyatu dalam riwayat hidupnya. [cob]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.