KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Menyingkap fakta di balik gorengan dicampur plastik

Senin, 18 Mei 2015 08:00 Reporter : Nuryandi Abdurohman
Gorengan. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Bagi Anda penikmat gorengan mesti lebih teliti untuk menikmati cemilan berbahan dasar terigu ini. Sebab, beberapa penjual masih ada menggunakan beragam cara agar dagangannya cepat laris. Tak jarang, penjual gorengan nakal itu masih ada yang memakai bahan berbahaya untuk campurannya.

Seorang penjual gorengan berinisial AM, yang ditemui merdeka.com, Kamis (14/5) kemarin, membuat sebuah pengakuan mengejutkan. Dia tak menampik mengenai kabar banyaknya penjual gorengan yang mengolah dagangannya dengan minyak dicampur plastik.

AM pun mengaku menjual gorengan dengan bahan campuran plastik. Dengan campuran plastik olahannya tersebut terasa lebih garing dan renyah, sehingga cukup laris.

"Kalau pakai plastik, jadinya kriuk-kriuk dan lebih enak," kata AM, yang mengaku biasa menjual dagangannya di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur ini.

Seorang ahli kimia dari Universitas Padjajaran, Bandung, Nurdiani Fadylla mengatakan, gorengan yang diolah dengan plastik dan minyak sangatlah berbahaya bagi tubuh. Menurut dia, antara saat plastik di masukan ke dalam minyak panas di penggorengan sebenarnya kedua senyawa itu tidak larut menjadi senyawa yang baru, bahkan cenderung terpisah.

"Plastik itu mengandung polimer dan banyak macamnya. Contohnya PVC atau polyvinil klorida, ada juga etilen dan polietilen," ungkap Nurdiani saat dihubungi oleh merdeka.com.

Nurdiani mengatakan, plastik yang sering digunakan tukang gorengan nakal itu sangat rentan terhadap panas. Pada suhu di bawah 100 derajat celcius, sudah dapat dipastikan plastik akan mengalami kerusakan. Sedangkan minyak panas di dalam penggorengan menghasilkan suhu yang mencapai 300 derajat celcius.

"Karena tingkat kepolarannya berbeda, minyak dan plastik tidak larut, tapi meleleh. Kepolaran plastik yang lebih kecil mengakibatkan ia akan menempel pada gorengan. Hasilnya, gorengan itu jadi ada kandungan plastiknya, makanya jadi lebih renyah dan cantik," ungkap Nurdiani.

Jika didiamkan cukup lama, kata dia, gorengan yang diolah menggunakan minyak dicampur plastik akan terlihat banyak bercak putih. "Itulah, plastik juga akan cepat menjadi zat padat lagi, bercak putih itu adalah plastik yang sudah membeku karena suhunya yang merendah," lanjutnya.

Ketika ditanya mengenai bahayanya plastik yang masuk ke dalam tubuh manusia, Nurdiani mengungkapkan bahwa adanya zat asam (Ph=2) sebenarnya mampu melarutkan zat apapun di dalam lambung. Namun, dengan materi plastik yang masuk ke dalam tubuh itu justru akan mengganggu pencernaan tubuh.

Sebab, lanjut dia, senyawa plastik yang sangat reaktif dapat langsung bereaksi dengan banyak jenis zat termasuk dengan protein atau bahan lain yang mengandung elektrofil atau bersifat parsial positif.

"Jadi pasti mengganggu metabolisme tubuh, atau bahkan menghasilkan radikal bebas yang bisa memicu sel kanker," kata dia.

Menurut Nurdiani, ada cara yang dapat membedakan gorengan dengan berbahan dasar plastik dan minyak. Salah satu gorengan berbahan dasar plastik dan minyak itu dapat dilakukan dengan cara dibakar.

"Jadi, jika dibakar, plastik akan bereaksi dengan oksigen. Kalaupun itu terjadi, gorengan mungkin hanya akan meleleh seperti plastik pada umumnya," ujar Nurdiani.

Untuk menekan penjual gorengan nakal itu, Nurdiani melihat peran Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sangatlah penting. BPOM diminta lebih peka terhadap para pedagang nakal tak terkecuali gorengan.

Sayangnya, BPOM berdalih bahwa urusan gorengan pinggir jalan ini bukan menjadi urusan mereka. "Untuk gorengan yang diolah dengan plastik, itu bukan kewenangan BPOM. Karena BPOM mengawasi makanan olahan yg dikemas, bukan yang siap saji," kata salah satu staff humas BPOM, Nelly saat dihubungi merdeka.com. [gil]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.