Menpora sambangi Soeharto, mantan atlet berprestasi yang jadi tukang pijat

Selasa, 24 Juli 2018 16:27 Reporter : Moch. Andriansyah
Menpora sambangi Soeharto, mantan atlet berprestasi yang jadi tukang pijat Menpora kunjungi Soeharto. ©2018 Merdeka.com/Moch Andriansyah

Merdeka.com - Selama seminggu terakhir ini, di media sosial (Medsos) ramai membicarakan nasib miris Soeharto (68), mantan atlet khusus penyandang disabilitas atau paralympian asal Surabaya, Jawa Timur.

Terkait berita viral atlet berprestasi ini, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi pun tergerak hatinya untuk menyambangi rumah Soeharto di Gang X, Jalan Putat Jaya Barat C, Kecamatan Sawahan, Surabaya.

Kepada Soeharto, Nahrawi menjanjikan bantuan uang tunai plus perbaikan rumah. "Kami akan berupaya memberikan perhatian kepada mantan atlet yang lama-lama," janji menteri asal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini, Surabaya, Selasa (24/7).

Soeharto, meski menyandang disabilitas, merupakan atlet berprestasi. Di masa mudanya, sederet penghargaan baik nasional maupun internasional pernah diraihnya.

Medio 1976, suami Astutik (75) ini berhasil mengoleksi dua medali perunggu dari cabang olahraga (cabor) lari cepat dan tolak peluru FESPIC Games Jakarta. Setahun kemudian, 1977, dia kembali menorehkan prestasi di event FESPIC Games di Australia.

Saat mewakili Indonesia di ajang tersebut, kakek kelahiran Probolinggo ini memperoleh medali emas di cabor lempar lembing dan dua perunggu untuk nomor pancalomba.

Selanjutnya, di kejuaraan dunia ISOD Games yang digelar di Inggris, Soeharto kembali mempersembahkan medali perak untuk nomor lempar lembing bagi Indonesia.

Dan atas prestasi gemilangnya itu, di tahun 1980, Presiden Soeharto menganugerahkan penghargaan kepada kepada sang Maestro yang memiliki nama sama dengan penguasa Orde Baru tersebut.

Sayang, karena faktor usia yang semakin tua, Soeharto memutuskan mengurangi aktivitas di dunia olahraga yang memberinya banyak medali. Dia hanya mengikuti kompetisi-kompetisi lokal di daerah saja dengan alasan: olahraga hanya memberinya prestasi. "Karena enggak ada apa-apanya, cuma medali," kenang Soeharto.

Dari atlet jadi tukang pijat

Selebihnya, di masa tuanya, Soeharto yang tinggal bersama istrinya di Jalan Putat Jaya Barat itu mengais rezeki sebagai tukang pijat. Ini terlihat dari tulisan yang tertera di papan kecil di depan rumahnya yang reot: "Panti Pijat Tongkat Putih Korps Masseur Tunanetra Surabaya".

Karena hanya menggantungkan hidup sebagai tukang pijat dan uang sewa rumah di Probolinggo, Soeharto tidak mampu merawat 'istana' kecilnya yang bocor ketika musim hujan. Apalagi untuk merawat istrinya yang tengah sakit.

Soeharto mengaku, kalau istrinya menderita sakit tumor dan hanya bisa merawatnya sendiri di rumah. "Istri saya banyak penyakitnya, kena tumor terus jatuh dan enggak bisa jalan," ungkapnya.

Sementara hadiah dari Menpora di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga tak bisa bertahan seumur hidup. "Karena kebutuhan lebih banyak, uang sewa rumah cepat habis. Pijat juga sepi," tuturnya.

Nasib miris Soeharto yang viral di Medsos inilah yang kemudian memanggil pihak Pemkot Surabaya sebagai 'dewa penolong'.

Dua hari lalu, atau tepatnya hari Minggu tanggal 22 Juli, Pemkot Surabaya membawa istri Soeharto ke rumah sakit agar mendapat perawatan yang layak. Kemudian hari ini, giliran Menpora Imam Nahrawi yang menyambangi Soeharto. [rzk]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini