Menlu Sebut Vaksinasi Covid-19 di ASEAN 8,91%, Masih Jauh dari Target WHO

Jumat, 11 Juni 2021 00:00 Reporter : Intan Umbari Prihatin
Menlu Sebut Vaksinasi Covid-19 di ASEAN 8,91%, Masih Jauh dari Target WHO Menlu Retno Marsudi rapat di DPR. ©Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan pasokan vaksin Covid-19 dari jalur bilateral maupun multilateral akan terus dilakukan pemerintah. Namun, Menlu mengungkapkan fakta bahwa masih terjadi kesenjangan distribusi vaskin Covid-19.

"Dari sekitar 2,2 miliar dosis vaksin yang telah disuntikkan, 75 persen berada hanya di 10 negara maju dan hanya 0,4 persen yang berada di negara-negara berpenghasilan rendah. Dari perhitungan persentase vaksinasi terhadap populasi, kawasan Amerika Utara telah memvaksinasi 64,33 persen dari total populasi," kata Retno dalam akun YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (10/6).

Dia membeberkan di kawasan Eropa telah memvaksinasi 52,85 persen dan persentase di kawasan Afrika baru mencapai 2,86 persen. Selanjutnya wilayah ASEAN 8,91 persen. Angka itu masih kurang dari target yang diharapkan WHO.

"Angka tersebut masih jauh dari target WHO yaitu diharapkan setidaknya 10 persen penduduk di setiap negara telah divaksin pada September dan 30 persen pada akhir Desember tahun ini," ungkapnya.

Demi mengurangi tingkat kesenjangan, Retno mengatakan Covax Facility telah mendorong mekanisme dose-sharing atau berbagi vaksin. Beberapa negara seperti AS, Jepang, Denmark, Belgia, dan Spanyol akan menyalurkan ekstra vaksin yang dimiliki melalui Covax facility.

"Dengan mekanisme Covax facility ini maka negara-negara tersebut menyumbang vaksin yang dimiliki kemudian dikelola oleh Covax facility untuk dibagikan kepada negara lain yang memerlukan," ungkapnya.

Retno mengatakan Indonesia sebagai salah satu co-chairs Covax AMC Engagement Group, memiliki tanggung jawab moral besar untuk perjuangkan akses setara terhadap vaksin untuk semua negara.

Sebagai salah satu co-chairs Covax AMC Engagement Group, Indonesia berperan aktif mengupayakan penghapusan HAKI untuk produk dan teknologi yang digunakan untuk penanganan pandemi Covid-19.

"Pembahasan awal terhadap tractate proposal ini di WTO kemungkinan akan dimulai pada tanggal 17 Juni 2021," ungkapnya.

Retno berharap negosiasi terhadap proposal ini dapat diselesaikan dalam waktu cepat. Sehingga bisa membantu meningkatkan produksi dan distribusi vaksin secara signifikan.

Sementara itu, dia juga mengingatkan kepada masyarakat terus melakukan protokol kesehatan. Sebab hingga sekarang hampir 175 juta orang di seluruh dunia telah terinfeksi covid-19 dan lebih dari 3,7 juta telah kehilangan nyawanya.

"Pemerintah akan terus bekerja keras untuk mengatasi pandemi ini. Termasuk melalui vaksinasi dan pelaksanaan protokol kesehatan. Dukungan penuh masyarakat akan menjadi elemen penting berhasilnya upaya ini," harap Retno.

Dia menjelaskan beberapa negara yang telah melakukan vaksinasi secara luas berhasil menurunkan angka penyebaran virus secara signifikan. Seperti Eropa, Inggris yang telah mampu menurunkan kasus harian di angka 5.000-an dari sebelumnya 60.000 kasus per hari setelah dosis vaksin yang diberikan mencapai 101,51 persen populasi.

Kemudian di kawasan Amerika, AS mampu menurunkan kasus per harinya dari sekitar 300.000 menjadi 12.000 per hari.

"Setelah dosis vaksin yang diberikan mencapai 91,57 persen populasi. Artinya, vaksinasi adalah salah satu cara untuk menekan jumlah kasus dan melawan pandemi. Sebelum mencapai angka persentase vaksinasi yang besar, upaya untuk menekan laju penyebaran virus masih harus dibarengi dengan pelaksanaan prokes secara ketat," bebernya. [ray]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini