Menkes Terawan Sebut Metode Plasma Darah Bisa Tekan Kematian Akibat Covid-19

Sabtu, 20 Juni 2020 15:34 Reporter : Aksara Bebey
Menkes Terawan Sebut Metode Plasma Darah Bisa Tekan Kematian Akibat Covid-19 Menkes Terawan dampingi Menteri PMK Muhadjir Effendy kunjungi RSHS Bandung. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Metoda plasma convalescent dinilai bisa meningkatkan peluang kesembuhan bagi pasien yang terpapar virus corona (Covid-19). Dengan kata lain, hal ini bisa menekan angka pasien yang dirawat hingga meninggal.

Hal ini mengemuka saat Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto dan Menteri PMK Muhadjir Effendy mengunjungi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Sabtu (20/6). Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil pun tampak hadir menemani mereka.

Terawan mengatakan metoda penyembuhan melalui plasma convalescent bisa membuat RSHS yang menjadi rumah sakit rujukan mampu mengurangi angka pasien yang dirawat karena terpapar virus corona.

"Kondisi ini jelas baik karena penurunan pasien yang dirawat bisa meminimalisir orang meninggal akibat virus tersebut. Ini membuat rumah sakit tidak penuh oleh pasien Covid-19, sehingga masih banyak waktu relaksasi," kata dia.

Sementara itu, Muhadjir menambahkan metoda penyembuhan plasma convalescent merupakan kemajuan dari rumah sakit yang ada di Indonesia termasuk RSHS dalam mengatasi virus.

"Penerapan pengobatan menggunakan plasma convalescent. Ini sudah dimulai (di beberapa Rumah Sakit di Indonesia, termasuk RSHS)," kata Muhadjir.

Ia mendorong agar metoda pengobatan ini bisa dilakukan secara masif dengan cara meminta Kementerian Kesehatan memberikan bantuan alat kepada seluruh rumah sakit rujukan Covid-19.

"Penerapan pengobatan menggunakan plasma ini yang direkomedasikan Kemenkes bisa digunakan untuk seluruh indonesia," ujar Muhadjir.

1 dari 1 halaman

Dari berbagai informasi yang berhasil dihimpun, diketahui, metoda ini menggunakan plasma darah pasien Covid-19 yang didonorkan untuk membantu pasien lain yang belum sembuh.

Prosedur terapi plasma darah ini dilakukan oleh para peneliti dari Washington University School of Medicine, yang mengklaim bahwa plasma darah milik pengidap virus corona yang sudah benar-benar pulih mengandung antibodi yang mampu melawan virus SARS-CoV-2.

Di samping itu, Gubernur Jawa Barat sekaligus Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat, Ridwan Kamil mengatakan pihaknya terus menggelar tes masif, salah satunya di kawasan puncak, Kabupaten Bogor.

"Kajian dari kami, banyaknya kasus impor yang datang (berasal) dari orang yang datang dari zona merah," kata dia.

Mobile Covid-19 Test yang dilengkapi dengan alat rapid test dan Alat Pelindung Diri (APD) bagi petugas yang mengambil spesimen disiapkan. Pembukaan sejumlah sektor harus disertai dengan peningkatan kewaspadaan.

Selain sebagai upaya pencegahan penularan Covid-19, pengetesan masif akan mendapatkan peta persebaran yang komprehensif, melacak kontak terpapar virus, mendeteksi keberadaan virus, dan memastikan status pasien.

"Inilah cara kami agar Adaptasi Kebiasaan Baru (berjalan), kewaspadaan tetap dijaga dan kasus bisa dikendalikan," ucapnya. [rhm]

Baca juga:
Kemenkes Klaim Penambahan Kasus Covid-19 DKI Sangat Rendah di 7 Hari Terakhir
Wagub DKI Klaim Sejumlah Pasar Sudah Terapkan Protokol Kesehatan
Jubir Covid-19: Beda Tes Masif dan Massal
Ikappi Sesalkan Pemerintah Tutup Pasar Tanpa Dialog

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini