Menkes Sebut Sulit Sadarkan Masyarakat Patuhi Prokes, Ini Penjelasan Sosiolog

Sabtu, 31 Juli 2021 20:17 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Menkes Sebut Sulit Sadarkan Masyarakat Patuhi Prokes, Ini Penjelasan Sosiolog Kemenkes Terima 500 Ton Oksigen dari Industri Nikel di Morowali. ©ANTARA/HO

Merdeka.com - Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Najib Azca mengungkap sejumlah alasan yang menyebabkan masih ada warga yang tidak disiplin protokol kesehatan. Salah satunya tingkat literasi yang masih rendah tentang Covid-19.

"Satu, rendahnya literasi kesehatan, literasi ilmu sehingga orang tidak yakin ini Covid benar atau tidak. Kan masih ada yang seperti itu," ujar dia kepada Merdeka.com, Sabtu (31/7).

Keadaan tersebut diperparah dengan situasi sosial politik Indonesia yang pernah terbelah akibat isu-isu politik. Akibatnya isu Covid dipakai untuk mendelegitimasi kelompok yang menjadi lawan politik.

"Kedua di masyarakat sendiri kadang-kadang masih ada semacam pembelahan sosial politik yang kadang berefek ke isu seperti ini. Mereka serba menentang apa saja yang dilakukan pemerintah atau kelompok politik yang berbeda," ujar dia.

"Yang tidak suka Pak jokowi misalnya, bagaimana caranya ini untuk mendelegitimasi Pak Jokowi. Siapa yang tidak suka tokoh Bupati, Pak anies Baswedan, juga begitu," ujar dia.

Menurut dia, ada beragam faktor penyebab masyarakat Indonesia tidak disiplin prokes. Kadang-kadang faktor-faktor tersebut berkelindan satu sama lain sehingga tidak bisa dibaca secara jernih.

"Kadang-kadang campur aduk. Ada problem sosial kesehatan, problem sosial ekonomi dengan problem sosial politik yang kadang-kadang berkelindan, saling sambung-menyambung. Kita kadang-kadang tidak bisa jernih bersikap," ungkap dia.

Menurut dia, langkah yang bisa dilakukan pemerintah yakni terus menggalakkan edukasi terkait Covid-19. Namun, dalam pelaksanaannya pemerintah tidak bisa bekerja sendiri.

"Edukasi dari pemerintah tentu harus dilakukan, tapi dalam pelaksanaan harus melibatkan tokoh-tokoh masyarakat. Di masyarakat tertentu mungkin tokoh agama yang paling berpengaruh, di kelompok lain mungkin kelompok adat yang paling penting. Negara tidak bisa sendiri menyelesaikan ini," tandas dia.

Diberitakan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap kunci Indonesia mampu keluar dari pandemi Covid-19. Dia mengakui pekerjaan ini tidak mudah dan perlu keterlibatan semua pihak, termasuk seluruh lapisan masyarakat.

Budi mengutip rekomendasi WHO, ada empat cara dalam mengendalikan pandemi. Pertama yakni dengan protokol kesehatan ketat (Prokes).

Menurut Budi, hal ini yang paling sulit dilakukan di Indonesia. Dia mengatakan, dalam hal ini tak membutuhkan bantuan ilmuan kedokteran, tapi sosiolog.

"Bagaimana caranya bisa mendidik, bisa mengedukasi, mengajak, mengimbau teman-teman kita agar selalu pakai masker, jaga jarak, kita bisa mengajari mereka ini adalah pengait riil, bukan konspirasi," jelas Budi dalam sebuah acara dengan para guru besar Universitas Airlangga dan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, dikutip Jumat (30/7).

Menkes cerita saat kunjungan di sebuah daerah bersama Gubernur Jatim. Saat itu dia menemukan, banyak masyarakat yang belum percaya bahwa ada penyakit Covid-19. Hal ini yang menjadi pekerjaan rumah bersama untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya Covid-19.

"Mengatasinya perlu pendekatan sosial, perlu keterlibatan semua rakyat. Itu perlu dibangun, kita belum berhasil menemukan model yang pas, enggak mungkin kita bisa lakukan ini sendiri," jelas Menkes Budi.

Cara kedua yakni mengenai testing, tracing dan isolasi. Dia juga mengakui, Indonesia masih lemah dalam melakukan hal tersebut.

Menurut Budi, testing dan tracing Indonesia masih di bawah rata-rata negara lain. Menurut dia, testing harus dilakukan berdasarkan kaidah epidemiolog.

Budi menjelaskan, seharusnya jika ada orang yang terkonfirmasi positif Covid-19, langsung dilakukan pelacakan ke mereka yang sudah kontak erat. Kemudian secara terorganisir melakukan tindak lanjut bagi mereka yang tertular, apakah harus dirawat di RS atau hanya isolasi mandiri.

"Ini merupakan salah satu titik kelemahan kita," jelas Menkes Budi.

Berikutnya adalah cara vaksinasi. Menurut dia, Indonesia termasuk negara yang lumayan cepat dalam program vaksinasi. Meskipun dia mengakui, bahwa vaksinasi bukan jadi faktor bisa mengendalikan Covid-19. Dia juga mendorong percepatan uji klinis dan produksi vaksin merah putih yang dikembangkan oleh Universitas Airlangga.

"Universitas Airlangga adalah yang paling maju dalam melakukan riset dan pengembangan vaksin," kata Budi.

Terakhir adalah terapi pengobatan. Menkes meminta Unair juga terlibat dalam membuat sebuah terapi yang bisa mengobati pasien Covid-19.

"Kalau bisa bekerja sama dengan kami, beri masukan, terapi apa memang memiliki kans besar mengurangi fatalitas di rumah sakit," jelas Menkes. [ded]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini