Menjadi Abdi Anak-Anak Papua

Minggu, 26 April 2020 12:33 Reporter : Merdeka
Menjadi Abdi Anak-Anak Papua Ibu Guru Diana mengajar anak-anak Papua. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Mengabdi 15 tahun di pelosok negeri bukan perkara mudah. Rindu keluarga, hingga menghadapi wabah penyakit menjadi tantangan tersendiri.

Tarmin, seorang guru telah mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk mengajar di bumi Cendrawasih sejak 2005. Dia adalah guru di SMPN 1 Kpudori, Kampung Puweri, Distrik Supiori Utara, Papua. Sebuah daerah yang ditempuh sekitar tiga jam dari Biak menggunakan jalur darat.

Tarmin berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dia awalnya khawatir masyarakat tempatnya bekerja tak bisa menerima kehadiran orang asing di situ. Tapi faktanya, masyarakat setempat ramah dan baik.

"Kalau dengan penduduk di sana cukup ramah, cukup baik. Kalau dengan perkembangan sekolahnya itu didukung sama masyarakat setempat, sehingga kami sebagai pendatang sangat mendukung," ungkapnya, Kamis (24/4).

Tarmin menuturkan, bahwa dulu ia layaknya guru SD yang mesti mahir menguasai mata pelajaran lain. Saat itu kendati Tarmin mengajar untuk mata pelajaran Bahas Inggris, namun karena jumlah guru sangat sedikit, akhirnya ia dituntut serba bisa.

"Dulu kita merangkap-rangkap pak kalau ngajar karena gurunya kurang. Misalnya kaya guru SD gitu, kaya guru PKN yang berkaitan kaya Penjaskes, Prakarya. Kaya saya Bahasa Inggris saya ngajarnya bisa mapel lain lagi, satu atau dua lagi," paparnya.

Hidup di pedalaman jauh berbeda dengan di kota. Semua serba terbataa, baik dari sarana maupun prasarana pendidikan atau tempat tinggal.

Apalagi, ketika Tarmin pertama datang ke desa tersebut. Menikmati listrik hanya bisa beberapa kali dalam satu minggu. Lebih sering menggunakan pelita sebagai penerangan dibandingkan listrik. Sebab listrik di sana kerap padam.

"Sekarang sudah ada listrik 24 jam, tapi tergantung cuacanya juga pak. Di Papua kan berbeda dengan daerah lain kalau angin, hujan pasti pihak PLN kan mematikan jaringan ke sana. Kalau pohon roboh kan takutnya terjadi kebakaran atau apa," kata Tarmin.

Tarmin sebelumnya bekerja sebagai pemandu wisata. Dari pengalaman itu, Tarmin belajar banyak, hingga bisa bertahan hidup di pedalaman yang minim fasilitas.

1 dari 5 halaman

Tantangan Berat

Momen yang paling ia ingat saat kali pertama mengunjungi tempat itu adalah mabuk perjalanan. Berkendara lima jam di mobil, Tarmin melewati jalanan dengan medan yang begitu terjal hingga mobilnya tergoncang dengan kerasnya.

Bukan cuma itu, Tarmin juga kesulitan mencari beras, makanan pokoknya sehari-hari. Beras hanya ditemui di Biak atau lima jam perjalanan dari tempatnya tinggal. Lauk-pauk pun hanya diperoleh dari Biak.

"Dalam sehari itu hanya ada satu kali angkutan (dari dan menuju Biak), jadi di sana hidupnya benar-benar kaya zaman dulu," ungkapnya.

Saking sulit dan mahalnya kebutuhan pokok, terpaksa Tarmin mengonsumsi Mi Instan.

"Kalau kita gak ada uang, gaji guru kontrak juga kami dulu nerimanya bisa sekali lima bulan, enam bulan," jelasnya.

"Jadi kami bertahan hidup paling lama kan pake mi instan itu kan, mi goreng itu," sambungnya.

Di samping itu, kata Tarmin para orangtua murid pun yang tinggal di pulau-pulau kecil di sekitar Supiori kerap membawakan ia dan kawan-kawannya ikan hasil tangkapan mereka.

Tarmin mengatakan, memang dulu masih banyak murid yang berasal dari pulau-pulau di sekitar sana. Mereka pun disediakan mess untuk tempat menginap. Karena jika bolak-balik cukup membutuhkan banyak waktu. Belum lagi risiko terjangan ombak kala menyeberang ke pulau tempat tinggal mereka.

Kini di pulau itu sudah ada sekolah, sehingga anak-anak di sana tak lagi bersekolah ditempatnya bekerja.

2 dari 5 halaman

Rindu Keluarga

Ujian terberat mengabdi bagi pendidikan di pedalaman, menurut Tarmin adalah membunuh rasa kangen terhadap keluarga di Bima. Dulu saat statusnya lajang, dia masih kerap menghubungi sang ibu di rumah.

Dia mengenang susahnya mencari alat komunikasi untuk mengobati rasa rindu dengan orangtua.

"Jadi kami sama teman-teman tuh inisatif ah kalau udah dua minggu, sebulan harus telepon orangtua," paparnya.

Hanya untuk melepas rindu saja butuh perjuangan. Karena di tempatnya tak ada sinyal, ia terpaksa mencari tempat yang banyak terdapat sinyal ponsel.

Karena sulitnya transportasi di sana, kata Tarmin, ia bersama teman-temannya terpaksa menumpangi mobil truk yang kerap melewati daerah tersebut.

"Truknya ngangkut pasir atau bebatuan yaudah kita naik itu. Sopirnya pun ngerti, Pak boleh kita numpang ya mau ke tempat yang ada sinyal, oke boleh gitu," katanya.

Karena banyaknya yang menumpang sementara tempat duduk di jok mobil depan tidak memadai, kata Tarmin seringkali dirinya naik di bak yang terisi pasir.

Orangtuanya di seberang kerap mengkhawatirkan dirinya. Nama ia selalu meyakinkan bahwa suatu saat keadaan akan berubah.

"Saya tidak menceritakan kondisi saya kepada orangtua saya. Karena pasti mereka sedih, cukup kami saja yang tahu. Karena pernah ada orang yang datang ke saya, 'aduh dek kalau ini diceritain ke orangtua kamu pasti dia sedih', ya jangan karena di kampung kan gak pernah pergi tinggal yang jauh," ungkapnya.

3 dari 5 halaman

Sempat Mau Menyerah

Sempat terbersit untuk menyerah, pulang kampung kembali ke rumahnya di Bima. Mengajar di sana, dekat dengan orangtua. Namun panggilan yang kuat yang terus menahannya untuk tetap sampai saat ini mengajar anak-anak di pedalaman.

Dia mengaku sedih dan tak tega untuk meninggalkan para murid di sana. Meskipun ia akui saat itu gaji sebagai guru di sana jauh dari kata cukup. Namun Tarmin tetap mengirimkan sebagian besar gaji yang ia dapatkan untuk orangtuanya di rumah.

"Itu kami lebih mementingkan orangtua, misalnya dulu pernah terima berapa saya 70 persennya saya serahkan kepada orangtua. Karena saya ngerasa segini masih bisa lah saya cari-cari pemasukan lain," ungkapnya.

Di samping mengajar, kata Tarmin, ia mencari sampingan dengan menjual berbagai macam barang seperti parfum dan lainnya.

"Kadang nge-MC juga pak. Lumayan lah dibayarnya sekitar seratus ribu, dua ratus ribu," ungkapnya.

4 dari 5 halaman

Diserang Malaria

Tarmin juga menceritakan, dirinya pernah terkena penyakit khas tanah Papua, yakni malaria. Saat itu atau tepatnya tahun 2007, Tarmin terserang malaria tropika plus 4 yang dikenal sebagai malaria paling ganas.

"Saya kena pak malaria tropika plus 4 udah kaya orang gila pak saya. Terus saya dibawa turun (ke kota)," ungkapnya.

Karena tak kunjung sembuh Tarmin pun diobati di kampung halamannya di Bima. Dan bersyukur bahwa satu tahun kemudian ia bisa beraktivitas kembali normal.

"Saya sakit dulu tuh hampir setahun," katanya.

Tapi itu tak membuatnya menyerah. Dia kembali ke tanah Papua untuk mengajarkan anak-anak di sana.

5 dari 5 halaman

Cinta Anak-anak Papua

Ada hal lain yang membuat Tarmin betah tinggal di Supiori dengan segala keterbatasannya. Semangatnya untuk membagikan ilmu begitu besar.

Terlebih lagi kepada para anak-anak di Papua yang fasilitas pendidikannya masih minim kala itu.

"Saya yang paling utama membagikan ilmu ini, sampai sekarang pun saya harus membagikan ilmu tanpa dibayar pun mau saya. Saya jujur ilmu saya sedikit makanya saya harus belajar banyak," cetusnya.

Tarmin berkomitmen dengan dirinya bahwa apapun yang terjadi ia harus membagikan ilmu kepada anak-anak di sana. Dari komitmen itulah sampai saat ini ia masih dengan ikhlas mengabdi bagi pendidikan untuk anak-anak Papua.

Ada momen yang begininya cukup membanggakan, yakni kala para anak didiknya bisa mengenyam pendidikan hingga ke jenjang pendidikan tinggi. Tarmin bahkan mengaku sudah banyak murid-muridnya yang bisa mendapatkan beasiswa untuk studi ke luar negeri.

"Walaupun kita makanannya sagu, kelapa kering tapi kita juga bisa membuktikan diri di dunia ayo lihat kami bahwa anak Papua juga bisa gitu, itu slogannya kami dulu," ungkapnya.

Bagi Tarmin tak ada yang lebih mengharukan bagi dirinya di saat para anak didik bisa menjadi manusia-manusia yang berguna bagi sesama manusia maupun nusa dan bangsa.

Reporter: Yopi Makdori

Sumber: Liputan6.com [rnd]

Baca juga:
Nestapa Guru Honorer di Tengah Pandemi
Menikmati Belajar dari TV Selama Pandemi Corona
Mendikbud: Dana BOS Boleh Buat Bayar Honor Guru dan Beli Paket Internet
PUPR Rehabilitasi 2 RS di Palu untuk Jadi Rumah Sakit Rujukan Corona
KPAI Terima Banyak Aduan Orangtua soal Program Belajar dari Rumah ala Kemendikbud

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Pendidikan
  3. Sosok Merdeka
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini