Mengunjungi museum PETA, tempat Soedirman & Soeharto dilatih

Senin, 17 Februari 2014 06:02 Reporter : Mustiana Lestari
Museum PETA. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Kota Bogor menyimpan sejarah penting perkembangan kemiliteran pertama di Indonesia. Tentara Pembela Tanah Air (PETA) bentukan Jepang berdiri di Bogor tahun 1943. Para tentara ini dididik sedemikian keras oleh tentara Jepang hingga menghasilkan perwira hebat sekelas Jenderal Soedirman.

Tempat latihan para calon perwira PETA tersebut kini bernama Museum PETA. Beralamat di Jalan Jenderal Sudirman, Bogor. Pengunjung langsung disambut gagahnya patung Sudirman dan Supriyadi yang berdiri di depan museum tersebut.

"Selamat datang di Museum PETA," sambut Kepala Museum PETA Lettu Suroso kepada merdeka.com di lokasi, Bogor, Rabu pekan lalu.

Berbagai relief tampak menghiasi tembok-tembok museum itu. Relief ini mengisahkan bagaimana pelatihan dan perjuangan PETA saat itu. Tak ketinggalan juga perjuangan Shodancho Supriyadi memimpin pemberontakan PETA di Blitar.

Tanggal 14 Februari 1945, Supriyadi mengobarkan pemberontakan pada tentara Jepang. Dia marah melihat penindasan Jepang pada rakyat Indonesia. Kemarahan Supriyadi juga dipicu sikap tentara Jepang yang melecehkan wanita di Indonesia.

"Museum ini diresmikan sebagai museum pada 18 Desember tahun 1995 untuk mengenang, melestarikan perjuangan yang telah dilakukan mantan tentara PETA kemudian bergabung badan keamanan rakyat kemudian jadi cikal bakal TNI. Ada 14 diorama dan 14 relief di sini," jelas Lettu Suroso.

Pria berbaju loreng ini kemudian mengantar merdeka.com masuk ke dalam museum. Bukan hanya diorama, di dalamnya ada juga contoh baju tentara PETA mulai dari yang berpangkat Chudancho (komandan kompi), Shodancho (komandan peleton), Daidancho (komandan batalyon).

Menurut Suroso, masih banyak tradisi pelatihan PETA yang diadopsi sampai hari ini oleh TNI.

"Pelatihannya ada jasmani dan rohani sampai sekarang masih diterapkan juga di TNI. Kegiatan diisi nilai kejuangan dan patrotiotisme atau juga bangun di pagi hari dan selesai kegiatan sampai malam sama seperti tentara," sambung dia.

Banyak pengunjung menyangka Museum PETA hanya terdiri di satu ruang sempit yaitu ruangan yang hanya menampilkan diorama, senjata dan baju tentara PETA. Tetapi nyatanya Museum ini punya luas satu hektar dengan banyak barak bekas tentara PETA.

"Semula luas tempat pelatihan PETA 13,7 hektar. Kemudian berubah 1 hektar untuk museum dan sisanya untuk Pusdik Zeni dan Kodim. " lanjut dia.

Tercantum nama-nama perwira bekas PETA seperti Soeharto dan Sudirman di beberapa barak. Konon barak tersebut merupakan barak tempat tinggal para tokoh tersebut. Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam barak ini sebab beberapa barak tersebut dialihfungsikan sebagai tempat tinggal anggota Pusat Pendidikan Zeni. Di sekitaran barak juga terlihat beberapa tentara tengah berolahraga.

"Tata ruang memang diubah di dalamnya bekas KNIL dulu terus PETA dan oleh pemerintah kita jadi Danpusdik. Lalu tata ruang berubah lagi tahun 95 dipugar juga disesuikan dengan museum. Ada pemugaran tetapi secara garis besar masih utuh masih asli masih seng-seng," tutup dia.

Kebanyakan pengunjung yang datang adalah anak sekolah. terutama jelang hari-hari bersejarah seperti kemerdekaan, peringatan pemberontakan PETA atau hari pahla [ian]

Topik berita Terkait:
  1. PETA
  2. Sejarah Indonesia
  3. Soeharto
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini