Mengenang M Natsir, ulama besar dan sebenar-benarnya jihad

Senin, 29 April 2013 01:01 Reporter : Ramadhian Fadillah
Mengenang M Natsir, ulama besar dan sebenar-benarnya jihad Mohammad Natsir. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Rakyat Indonesia tengah berduka karena Ustaz Jeffry Al Buchori meninggal dunia akibat kecelakaan motor. Ribuan orang berjejal mengantarkan Uje menuju peristirahatan terakhirnya. Sebaik-baiknya orang adalah orang paling berguna buat sesama.

Bicara dakwah di Indonesia tak bisa dilepaskan dari sosok Mohammad Natsir. Seorang ulama dan negarawan besar yang pernah dimiliki Indonesia.

Rasulullah SAW dalam sebuah hadits pernah berkata "Sebenar-benarnya jihad adalah mengatakan kebenaran di depan penguasa yang zalim." Natsir melakukan hal itu. Dia menjadi musuh dua rezim, Soekarno dan Soeharto.

Sosok Ustaz Jeffry Al Buchori di mata SBY
Media luar negeri juga beritakan meninggalnya Ustaz Jeffry

Natsir adalah perdana menteri pertama republik ini. Sebelumnya dia menjabat menteri penerangan. Kesederhanannya menjadi teladan sepanjang zaman. Natsir tak punya baju bagus, jasnya bertambal. Dia dikenang sebagai menteri yang tak punya rumah dan menolak diberi hadiah mobil mewah.

Lebih dari itu Natsir menunjukkan keteguhan. Di depan penguasa dia tak mau bermanis-manis. Natsir mengkritik Soekarno yang dekat dengan komunis dan dinilai mengabaikan kesejahteraan rakyat di luar Jawa. Natsir pun meninggalkan Jawa, bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PPRI).

Soekarno menganggap gerakan ini sebagai pemberontak. Dia mengirimkan tentara untuk melawan gerakan ini. PRRI kalah, Natsir menyerah dan dipenjara Soekarno. Partai Masyumi yang pernah dipimpinnya juga dibekukan. Padahal dalam Pemilu 1955, Masyumi menduduki posisi nomor dua.

Tuduhan Soekarno pada Natsir, kontra revolusioner.

Saat Soekarno tumbang, Natsir dibebaskan dari penjara 26 Juli 1966. Dia meneruskan aktivitas dakwahnya.

Tapi seiring waktu, Orde Baru di bawah Soeharto pun makin otoriter. Banyak kecurangan agar Golongan Karya menang Pemilu. Soeharto menganggap orang yang mengkritik dirinya sebagai penentang Pancasila.

Maka Natsir bergabung dengan Petisi 50. Bergabung dengan Jenderal Hoegeng, Letjen Ali Sadikin dkk yang mengkritik Soeharto. Saat itu tak ada yang berani bicara sekeras Petisi 50 pada Soeharto.

Lagi-lagi Natsir dapat hukuman atas keberaniannya. Masuk petisi 50 berarti masuk kuburan politik. Mereka dianggap musuh pemerintah. Natsir dilarang berpergian ke luar negeri, akibatnya banyak seminar internasional Islam yang tak bisa dihadirinya. Padahal sejak puluhan tahun lalu Natsir selalu ditunggu sebagai pembicara yang brilian dalam seminar-seminar internasional.

Natsir meninggal 6 Februari 1993. Kematiannya ditangisi jutaan rakyat Indonesia. Tapi Soeharto enggan memberikan gelar pahlawan pada salah satu bapak bangsa ini. Baru tahun 2008, sepuluh tahun setelah Soeharto lengser, pemerintah memberikan gelar pahlawan pada Mohammad Natsir.

Baca juga:
Uje wafat, Mendagri minta kepala daerah ingat mati

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini