Mengenal Masa Inkubasi Varian Omicron

Senin, 17 Januari 2022 14:12 Reporter : Supriatin
Mengenal Masa Inkubasi Varian Omicron Penumpang Kereta Commuter Line di Stasiun Tanah Abang. ©2022 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Dunia terus meneliti karakteristik Covid-19 varian Omicron. Tidak hanya meneliti kemampuannya dalam menurunkan efikasi vaksin atau meningkatkan fatalitas, tapi juga masa inkubasi.

Masa inkubasi dimaknai sebagai waktu yang diperlukan sejak tertular atau terinfeksi virus hingga menimbulkan gejala. Masa inkubasi setiap virus berbeda. Namun pada umumnya sekitar 1 sampai 14 hari.

Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan, masa inkubasi Omicron belum bisa dipastikan. Berdasarkan riset di Jepang, Omicron masih berpotensi memiliki viral load atau infeksius yang tinggi pada hari ke-7 sampai 9.

"Bahkan sebagian kecil masih ada potensi (infeksius) lebih dari 10 hari," katanya kepada merdeka.com, Senin (17/1).

Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung ini menyebut, masa inkubasi Omicron bergantung pada pasiennya. Jika pasien memiliki masalah kesehatan mendasar seperti komorbid atau belum divaksinasi, kemungkinan masa inkubasinya lebih lama.

"Belum ada yang jadi satu patokan pasti (masa inkubasi Omicron) ini enggak akan lebih dari 10 hari, akan lebih dari 3 hari, 5 hari. Karena variasi dari berbagai riset ini menunjukkan dari yang 1, 2, 3, sampai 14 hari ada," jelasnya.

Dicky menuturkan, masa inkubasi virus sangat penting dalam pengambilan kebijakan penanganan pandemi. Umumnya, kebijakan yang diambil merujuk pada masa inkubasi terlama.

Misalnya, jika masa inkubasi virus antara 1 sampai 14 hari, maka pemerintah menentukan kebijakan merujuk pada masa inkubasi 14 hari.

"Jadi kalau strategi kesehatan masyarakatnya harus selalu mengambil paling panjang, rata-rata yaitu 14 hari. Itu paling memberikan pengamanan lebih tinggi," ujarnya.

Data Kementerian Kesehatan 12 Januari 2022, kasus Omicron di Indonesia menembus 572 orang. Jumlahnya bertambah 66 dari data 10 Januari 2022 yang tercatat masih 506 kasus.

2 dari 2 halaman

Omicron Terus Meningkat

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmidzi mengatakan, penambahan 66 kasus Omicron berdasarkan hasil pemeriksaan pada 12 Januari 2022. Tercatat 33 kasus dari pelaku perjalanan internasional dan 33 orang transmisi lokal.

Dari seluruh kasus Omicron, 339 orang menjalani karantina di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran. Sementara sisanya menjalani karantina di rumah sakit yang ditunjuk oleh Satgas Penanganan Covid-19.

Terkait dengan kondisi pasien, Nadia menyebut tidak ada perbedaan karakteristik gejala antara kasus perjalanan luar negeri dan transmisi lokal. Sebagian besar gejalanya ringan dan tanpa gejala. Gejala paling banyak yang dialami pasien adalah batuk, pilek, dan demam.

"Dari hasil pemantauan di lapangan, mayoritas gejalanya ringan dan tanpa gejala. Jadi belum butuh perawatan yang serius," katanya melalui keterangan tertulis, Jumat (14/1).

Dia menambahkan, peningkatan kasus Omicron dalam beberapa waktu terakhir berimplikasi pada lonjakan kasus harian nasional. Bahkan proporsi varian Omicron jauh lebih banyak dibandingkan varian Delta.

"Dari hasil monitoring yang dilakukan Kemenkes, kasus probable Omicron mulai naik sejak awal tahun 2022. Sebagian besar dari pelaku perjalanan luar negeri, hal ini turut berdampak pada kenaikan kasus harian Covid-19 di Indonesia," jelasnya.

Menghadapi lonjakan kasus Covid-19, Nadia memastikan Kementerian Kesehatan akan meningkatkan pelaksanaan 3T yakni Testing, Tracing dan Treatment. Terutama di daerah yang berpotensi mengalami penularan kasus Covid-19 tinggi.

"Langkah antisipasi penyebaran Omicron telah kita lakukan dengan menggencarkan 3T terutama di wilayah Pulau Jawa dan Bali," ujarnya.

Untuk testing, Kemenkes telah mendistribusikan kit S Gen Target Failure (SGTF) ke seluruh laboratorium pembina maupun laboratorium pemerintah dan memastikan jumlahnya mencukupi.

Kapasitas pemeriksaan PCR dan SGTF juga diupayakan untuk dipercepat, sehingga penemuan kasus bisa dilakukan sedini mungkin.

Sementara untuk tracing, Kemenkes akan meningkatkan rasio pada daerah yang jumlah kasus positifnya lebih dari 30 orang untuk mencegah penyebaran yang semakin luas. Proses tracing akan turut melibatkan TNI, Polri, dan masyarakat.

Selanjutnya treatment, Kemenkes menjamin ketersediaan ruang isolasi terpusat maupun isolasi mandiri untuk kasus gejala ringan dan tanpa gejala, sementara untuk gejala sedang dan berat telah disiapkan rumah sakit dengan kapasitas tempat tidur yang mencukupi. Dengan demikian, pasien terkonfirmasi positif bisa menjalani isolasi dengan baik guna memutus mata rantai penularan Covid-19.

Mengingat varian Omicron jauh lebih cepat menyebar dibandingkan Delta, Nadia mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan dan segera mendapatkan vaksinasi Covid-19. [rnd]

Baca juga:
Wagub DKI Ajak Masyarakat Antisipasi Lonjakan Omicron
Thailand Laporkan Kematian Pertama karena Covid-19 Varian Omicron
Deltacron, Bisakah Terjadi di Dunia Nyata atau Jadi Ancaman Varian Berikutnya?
Omicron Meningkat, Wagub Tegaskan DKI Memenuhi Syarat Gelar Sekolah Tatap muka
Wagub Riza: DKI Jakarta Siap Berperang Lawan Omicron
Perayaan Imlek di China Dibayangi Omicron

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini