Mengenal Fenomena Halo Matahari dan Penyebabnya

Senin, 31 Januari 2022 18:15 Reporter : Syifa Hanifah
Mengenal Fenomena Halo Matahari dan Penyebabnya Halo matahari. ©2013 Commons.wikimedia.org

Merdeka.com - Masyarakat Nusa Dua, Badung, Bali dibuat geger dengan kemunculan fenomena halo matahari pada Minggu (30/1). Fenomena alam tersebut membuat posisi matahari berada di tengah lingkaran besar menyerupai cincin.

Fenomena serupa pernah terjadi di banyak daerah. Lalu apa penyebab matahari dikelilingi lingkaran seperti cincin?

Koordinator Bidang Data dan Informasi Balai Besar MKG (BBKMG) Wilayah III Denpasar, Bali, I Nyoman Gede Wiryajaya, menjelaskan halo matahari adalah fenomena optis berupa lingkaran cahaya di sekitar matahari dikarenakan ada pembiasan sinar matahari oleh awan lapisan tinggi.

"Awan yang membiaskan sinar matahari itu biasa disebut awan tipis cirrus yang berada pada ketinggian sekitar 6.000 meter dari permukaan bumi. Cukup tingginya awan cirrus ini sehingga membentuk partikel yang sangat dingin dan biasanya berwujud kristal es," kata Wiryajaya saat dikonfirmasi, Senin (31/1).

Awan cirrus sangat dingin inilah yang membiaskan cahaya matahari. Sehingga membentuk seperti cincin yang melingkari matahari.

Proses Terjadinya Fenomena Halo Matahari

Dilansir dari situs BMKG, bmkg.go.id, fenomena halo matahari diawali dari adanya cahaya matahari yang kemudian direfleksikan atau dibiaskan oleh kristal-kristal es yang berbentuk batang atau prisma. Sinar matahari kemudian terpecah ke dalam beberapa warna dan dipantulkan ke arah tertentu di sekitar matahari dan menjadi cincin cahaya di sekitar matahari.

Fenomena halo matahari jarang muncul di daerah tropis, namun di belahan bumi lain seperti di Eropa peristiwa itu sering terjadi. Selain terjadi dalam bentuk lingkaran penuh dengan bagian pinggir berbingkai warna pelangi, halo bisa berwujud setengah lingkaran dengan pusat pada cahaya matahari.

Sedangkan untuk durasinya, ada yang berlangsung selama berjam-jam. Tetapi ada pula yang terjadi dalam waktu singkat. Hal ini tergantung dari posisi matahari dan dinamika awan cirrusnya.

Biasanya, kalau sudah beberapa saat setelah matahari bersinar dan memanaskan partikel air yang super dingin di awan cirrus, maka fenomena itu akan hilang.

Fenomena ini adalah peristiwa biasa seperti halnya pelangi dan bukan pertanda bencana, seperti gempa atau lainnya. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu panik atau terpengaruh dengan mitos atau informasi yang bisa menyesatkan terkait fenomena itu.

"Masyarakat diimbau agar tidak terpancing dan tidak menyebarkan informasi dari sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," kata Wiryajaya.

Bila ingin melihat halo matahari, warga diimbau untuk menggunakan alat. Gunanya, melindungi kedua mata dari pancaran sinar matahari langsung. Sementara itu, khusus bagi mereka yang ingin mengambil gambar halo dengan kamera SLR, sebaiknya tidak langsung membidik ke arah halo. Sebab, cahaya matahari akan masuk ke dalam lensa fokus dan dapat merusak retina mata.

[lia]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini