Mengenal budaya Matung, gotong royong sembelih sapi untuk Lebaran

Selasa, 5 Juli 2016 13:05 Reporter : Darmadi Sasongko
Mengenal budaya Matung, gotong royong sembelih sapi untuk Lebaran Tradisi Matung di Malang. ©2016 merdeka.com/darmadi sasongko

Merdeka.com - Budaya Matung secara turun-temurun berkembang di masyarakat Lamongan, Jawa Timur, khususnya masyarakat pesisir laut. Warga secara bergotong royong akan menyembelih sapi untuk memenuhi kebutuhan daging menyambut Lebaran Idul Fitri.

Istilah Matung berasal dari kata patungan yakni beberapa orang yang mengumpulkan sejumlah uang untuk membeli sapi. Setelah disembelih, daging kemudian dijual secara eceran pada masyarakat sekitar.

Sumulyo (60) menceritakan, masyarakat sudah terbiasa membeli daging lewat cara matung. Kebiasaan itu sudah turun-temurun, bahkan tidak tahu sejak kapan budaya itu dimulai.

"Kalau saya sekitar 10 tahun terakhir, tetapi bapak dan mbah-mbah saya sudah melakukan ini," kata Sumulyo di sela memotong sapi di Dusun Widhe, Desa Sedangharjo, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Selasa (5/7).

Sumulyo yang juga seorang jagal mengungkapkan, dua cara proses membelian sapi matung, yakni sapi dibeli secara patungan atau disediakan jagal. Bedanya, kalau sapi disediakan jagal keuntungannya masih harus dibagi lagi dengan jagal.

Tetapi kalau dibeli oleh para pematung, cukup dibagi beberapa orang tersebut. Besar kecilnya keuntungan para pematung tergantung kejelian tafsiran harga sapi.

Matung sendiri selalu dilaksanakan sehari sebelum Idul Fitri, tetapi jauh sebelumnya sudah tersebar kabar orang-orang yang akan matung. Warga sudah tahu lokasi penyembelihan, bahkan harga daging per kilogramnya.

Saat hari penyembelihan, warga akan berbondong-bondong datang ke lokasi, menyaksikan penyembelihan dan antri mengambil daging pesanan. Warga yang sudah memesan akan mendapat prioritas, sementara yang lain akan masuk daftar cadangan.

Suliono (32) warga Desa Lembor, Kecamatan Brondong mengaku mengantre sejak pukul 05.30 WIB, saat sapi mulai disembelih. Ia bersama istrinya telah mendatangi tiga pematung, namun jatah sudah habis.

Keluarga Suliono berniat membeli 3 Kg daging dan 1 Kg balungan (tulang) yang akan dibagi dengan keluarga mertuanya. Sudah kebiasaan untuk menyambut Idul Fitri, menikmati masakan berbahan daging.

"Tadi di sana harganya Rp 120 ribu, tetapi di sini dapat Rp 110 ribu per kilogram," katanya.

Karimah (60) warga Dusun Pambon, Desa Brengkok mengaku lebih suka membeli daging dengan cara matung. Alasannya, dagingnya masih segar, selain itu lebih murah dan tidak jauh-jauh harus ke pasar.

"Gotong-royong juga, untungnya untuk tetangga sendiri," tegas Karimah yang membeli daging lebih banyak untuk kegiatan usai salat Idul Fitri. [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini