Mengais Rupiah dari Ukiran Akar Pohon Jati di Hutan Kebumen

Kamis, 13 Desember 2018 12:12 Reporter : Abdul Aziz
Mengais Rupiah dari Ukiran Akar Pohon Jati di Hutan Kebumen Seni patung karya warga Purbalingga. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Nyarjan Prianto (43) melewati jalan berliku sebelum memutuskan menekuni kerajinan seni patung akar. Dari keterampilan merangkai akar-akar pohon jati, ia pernah bekerja di galeri seni sebagai artisan.

Tiga tahun bekerja sejak tahun 2014 di Semarang, ia mendapati kenyataan pahit. Pembuatan satu patung berukuran 190 sentimeter diupah Rp 400 ribu. Sedangkan dari surat kabar dibacanya patung karyanya dibeli Rp 35 juta.

Pengalaman pahit itu membuat Prianto memutuskan pulang kampung ke Desa Kedungbenda, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga. Dia bertekad bekerja mandiri membuat patung akar. Padahal, kala itu, Prianto sama sekali tak punya modal uang. Ia pun masuk keluar hutan mencari akar-akar pohon jati.

"Bersama teman-teman di kampung saya ke hutan di Kabupaten Kebumen. Tekad saya sudah bulat. Saya ingin bekerja mandiri memanfaatkan bakat seni saya," ujar Prianto saat ditemui merdeka.com, di kediamannya.

Prianto sejak masa kanak memang menyukai seni. Dia takjub ketika suatu kali melihat lukisan Basoeki Abdullah dan Barli di lembaran-lembaran buku. Ia secara autodidak lalu belajar melukis dan mengukir. Tak peduli beberapa kali orang-orang di sekitarnya berkata aneh, Prianto terus mengasah keterampilannya.

Tapi nasib berkata lain. Tuntunan memenuhi ekonomi keluarga, membuat Prianto mesti mencari nafkah. Ia pun bekerja serabutan menjadi tukang bangunan. Kadangkala ia menerima permintaan menjadi tukang kayu untuk membuat perabotan.

"Di tahun 2013, saya memasang profil di iklan daring. Saya menyatakan memiliki keahlian melukis, mengukir dan memahat. Dari iklan itulah saya mendapat tawaran di galeri di Semarang," ujar Prianto mengenang pengalaman hidupnya.

Di galeri itu, Rianto dalam sebulan mengerjakan empat patung kerajinan. Upah yang ia dapat paling banyak Rp 1,6 juta. Selama 3 tahun, pekerjaan itu ia tekuni tanpa masalah. Sampai suatu ketika, ia merasa ada ketidakadilan yang ia dapatkan dari sang majikan terkait upah.

"Satu patung bisa dijual Rp 20 juta sampai Rp 30 juta. Sedang saya diupah Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu. Saya lalu memutuskan keluar, dan majikan saya sempat menawarkan kenaikan upah Rp 2 juta perpatung. Tapi saya punya harga diri. Jadi saya menolak," kata Prianto.

Di kediamannya, Rianto sejak 2017 lalu, mulai mengerjakan kerajinan patung akar seorang diri. Ia membuat figur satwa seperti ayam, serigala, elang atau kuda. Ia juga membuat figur tokoh fiktif Groot, manusia pohon yang populer di film Guardian of the Galaxy.

"Groot ini yang paling banyak diminati. Saya menjual kerajinan patung akar ini dengan memanfaatkan media sosial. Alhamdulillah peminatnya selalu ada," kata Prianto.

Prianto menjual kerajinan patung akar buatannya mulai dari ukuran kecil 50 sentimeter senilai Rp 500 ribu sampai ukuran besar 2 meter senilai Rp 7 juta. Ia menerima pesanan dari sejumlah orang dan mendapat apresiasi positif dari pemerintah setempat. Kepercayaan diri Prianto tumbuh bahwah bakat seninya ternyata bisa diterima oleh berbagai kalangan.

"Saat ini saya bekerja sembari merawat hobi. Setiap mengukir atau menata akar-akar saya merasa bahagia. Ini pekerjaan yang saya idam-idamkan sejak kecil," ujarnya.

Perjalanan hidup Prianto, pengrajin patung akar ini, menegaskan kebebasan dan ekspresi individual. Menenggelamkan diri dalam kerajinan seni, Prianto kini tengah menyiapkan membuat patung akar tokoh-tokoh nasional Indonesia seperti Soekarno, Hatta dan Jenderal Besar Soedirman.

"Ketekunan, kegigihan, saya rasa itu modal utama saya," kata Prianto. [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini