Menengok Ramadan di Aljazair, sukacita menyambut bulan suci

Sabtu, 20 Juli 2013 07:03 Reporter : Ramadhian Fadillah
Menengok Ramadan di Aljazair, sukacita menyambut bulan suci pemandangan aljazair (arabiangazette.com). ©arabiangazette.com

Merdeka.com - Umat Muslim Aljazair sukacita menyambut Bulan Suci ramadan. Mereka tetap gembira menjalankan puasa di musim panas, dengan suhu bisa mencapai 45 derajat. Waktu puasa pun lebih panjang daripada di Indonesia. Umat Muslim di Aljazair rata-rata berpuasa lebih dari 16 jam.

Muhammad Nur Hayid, Warga Negara Indonesia yang kini tinggal di Aljazair menceritakan suasana Ramadan di sana. Termasuk soal makanan khas dan kebudayaan negara di pesisir laut tengah Afrika itu.

"Dalam jadwal resmi yang dikeluarkan oleh Kemenag Aljazair, imsak pada tanggal 1 ramadan itu jam 3.38 sementara magribnya jam 20.12. Sekitar 16 jam." kata Muhammad Nur Hayid kepada merdeka.com, Jumat (19/7).

Menurut Hayid, warga Aljazair sangat antusias dengan datangnya bulan ramadan. Mereka berpegang dalam Islam itu ada Hadits Rasulullah yang artinya barang siapa senang dan bangga dengan datangnya bulan ramadan, dia akan masuk surga dan diharamkan jasadnya dari api neraka. Hadits inilah yang mendasari semangat orang muslim menyambut Ramadan.

"Mereka saling menyapa 'Ramadan Karim', atau 'Ramadan Mubarok', atau 'Saha Ramdankum'. Di beberapa wilayah seperti provinsi Ghardayya, ada festival keliling anak anak dalam menyambut Ramadan, tetapi ini tak besar hanya level kecamatan. selebihnya ya biasa, penyambutan dilakukan di masing masing keluarga," jelas ayah tiga putri ini.

Beda daerah tentu beda tradisi. Untuk Aljazair, tak ada acara ngabuburit atau sahur keliling seperti di indonesia. Di sini yang umum terjadi semua keluarga masyarakat Aljazair selalu berusaha berbuka puasa bersama dengan anggota keluarganya. Setiap menjelang buka puasa, jalan-jalan yang biasanya macet menjadi longgar.

Rakyat Aljazair malah suka menggelar acara sampai sahur di hotel-hotel atau di restoran besar dengan tema Saharat Ramadiniyah (begadang di bulan ramadan). Acaranya makan-makan, minum kopi dan teh dan mendengarkan musik sampai menjelang sahur.

"Ini tentu berbeda dengan di Indonesia, dimana ngabuburit dilakukan sebelum buka dan setelah terawih diisi dengan acara tadarus Alquran Jadi di Aljazair, kehidupan masyarakatnya justru hidup di malam hari setelah buka sampai sahur ketimbang di siang hari, karena untuk siang hari kebanyakan mereka tidur dan istirahat bagi yang tak bekerja. Jam kerja di bulan Ramadan biasanya mulai jam 9.30 sampai jam 3 sore," jelas Hayid.

Soal menu berbuka biasanya warga Aljazair meneguk air putih, jus, kopi, teh dan kurma. setelah itu makan surbah, sebab bulan puasa adalah bulan makan surbah. Ini makanan khas yang seperti wajib disantap oleh setiap orang Aljazair ketika berbuka.

"Bentuknya seperti sup tapi kental dengan campuran daging sapi, atau kambing atau ayam sesuai selera dan beberapa sayur mayur serta gandum yang sudah digilas dan hums (kacang kapri) dan ditaburi seledri). Makanan ini biasanya disantap dengan burek (seperti lumpia semarang tapi kulitnya agak keras sedikit, jadi renyah kalau dimakan) dan hubz (roti yang panjangnya setengah meter sebesar lengan)," jelasnya.

Orang Aljazair juga menyantap halawiyyat (manisan), seperti zalabiyya, kulbullus, baklawa, dan lainnya. Semua itu berbentuk jajanan yang rasanya terlalu manis untuk ukuran orang Indonesia. Sementara minumnya, kebanyakan suka mengonsumsi halib (susu), kopi kental manis (expresso) dan syei binnak nak (teh dengan daun mentol) atau syai maison, teh khas aljazair yang pekat yang tak ada di Indonesia.

Banyak suka duka bagi warga negara Indonesia menjalankan ibadah puasa di ALjazair. Walau waktu puasa lebih panjang dan panas, Hayid mengaku senang-senang saja. Untuk makanan diakuinya sulit beradaptasi dengan makanan setempat.

"Kami orang indonesia biasanya juga membuat acara khusus seperti buka puasa bersama secara bergantian atau di KBRI dengan makanan dan menu buka yang khas Indonesia mulia dari kolak, es buah, jajanan, buah buahan sampai menu makanan besar dari sate, sop, dadar, pecel dan menu ala indonesia lah," bebernya.

Khusus untuk di Aljazair, KBRI Alger memfasilitasi buka puas bersama warga 4 kali selama ramadan setiap hari kamis dan dilanjutkan dengan tarawih dan kultum bersama. sementara untuk hari senin, hanya tarawih bersama saja. Di luar hari itu, ada undangan dari WNI yang di Aljazair untuk buka puasa bersama secara bergantian, baik oleh lokal staf maupun home staf KBRI Alger.

"Yang pasti kita dapat pengalaman baru, ilmu baru dan budaya baru. Kalau tak masak sendiri menu Indonesia, puasa di sini akan teras berat bagi kita karena tak ada restoran yang sesuai selera Indonesia," tutup Hayid sambil tertawa.

Selamat puasa, Ramadan Karim! [ian]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini