Menengok pengolahan limbah tahu Biolita Desa Kalisari

Senin, 30 November 2015 02:06 Reporter : Chandra Iswinarno
Menengok pengolahan limbah tahu Biolita Desa Kalisari Menengok pengolahan limbah tahu Biolita Desa Kalisari. ©2015 Merdeka.com/Chandra

Merdeka.com - Mendengar nama Desa Kalisari di Kecamatan Cilongok, semua orang akan mengidentikkannya dengan desa perajin tahu terbesar yang ada di Banyumas, Jawa Tengah. Industri kecil yang mampu menyerap pekerja dari wilayah desa setempat ini, dikenal sejak kali pertama muncul di tahun 1967-an.

Kepala Dusun I Desa Kalisari, Suwanto (47) menceritakan, keberadaan industri rumahan perajin tahu mengalami perkembangan yang cukup menjanjikan. Selain dikenal di pasaran, industri tahu ini mampu menopang kehidupan keluarga yang ada di Desa Kalisari.

"Tetapi ketika tahun 2007, saat mencapai produksi puncak muncul persoalan yang membuat sekeliling desa menjadi tidak nyaman. Persoalannya adalah limbah yang dihasilkan dari industri tahu tersebut," ucapnya.

Limbah yang menyebabkan persoalan lingkungan dan kesehatan masyarakat ini, pun juga mengganggu beberapa desa tetangga yang kerap mengeluhkan keberadaan industri tahu di wilayahnya. Mulai dari polusi udara, air hingga kebersihan lingkungan menjadi persoalan yang dihadapi desanya.

"Komplain limbah tahu datang dari desa tetangga, seperti Desa Ciroyom, Karanglo, Cikembulan. Bahkan warga di Desa Pancurendang hingga wilayah Kecamatan Ajibarang saat itu mengeluhkan limbah cair yang menyebabkan warga mereka tidak bisa memanfaatkan aliran sungai karena alirannya tercemar juga," ujarnya.

Tak hanya itu, polusi udara juga sempat dipersoalkan warga setempat kala itu. Ia mengemukakan, penguapan hasil olahan tahu juga menyebabkan tingginya kadar keasaman udara di wilayah tersebut. Termasuk persoalan kesehatan, banyak warga mengalami kudisan lantaran kerap mencuci tangan dan kaki di saluran air yang ternyata merupakan tempat aliran limbah.

"Sementara itu, tanaman padi yang ditanam di tanah bengkok desa juga pada tahun 2009 sempat mengalami puso (gagal panen) karena adanya limbah tahu . Karena dalam unsur tanahnya terdapat endapan asam yang membuat kadar keasaman tanahnya cukup tinggi," jelasnya.

Kondisi tersebut membuat warga berharap banyak adanya perubahan signifikan yang bisa menjaga kelangsungan produksi tahu rumahan dan sekaligus dampak lingkungan akibat limbahnya bisa berkurang. "Persoalan ini, kemudian diteliti oleh mahasiswa Unsoed (Universitas Jenderal Soedirman) yang saat itu sedang praktik Kuliah kerja Nyata (KKN) di desa kami," ucapnya.

Hasil penelitiannya kemudian diurai dan diidentifikasi. Setelah itu, jelasnya, seorang akademisi dari Unsoed kemudian mengajukan kerja sama dengan badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk mengolah limbah tahu. "Saat itu, Bu Rifda mengajukan kerja sama dengan BPPT untuk menanggulangi masalah limbah tahu," ujarnya.

Limbah Padat

Program KKN di Kalisari dimulai sejak 2008, diawali dengan program pemanfaatan limbah padat tahu menjadi berbagai olahan pangan kaya manfaat. Guru Besar Fakultas Pertanian Unsoed, Prof Rifdha Naulin mengemukakan kali pertama pemanfaatan limbah tahu yang dimanfaatkan adalah limbah tahu padat. Saat itu, ujar Suwanto, banyak limbah tahu padat yang dibuang atau dijual. [ang] SELANJUTNYA

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Banyumas
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini