KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Menengok Mahasiswa Thailand Selatan di Indonesia saat Lebaran

Sabtu, 2 Agustus 2014 15:01 Reporter : Imam Mubarok
Para mahasiswa asal Thailand Selatan di Kediri. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Lebaran Idul Fitri identik dengan berkumpulnya keluarga untuk saling memaafkan dan bersuka ria setelah melaksanakan puasa sebulan penuh di Bulan Ramadan. Tapi tidak bagi puluhan mahasiswa asal Thailand Selatan, yang terpaksa menikmati lebaran hanya dengan teman-temannya sesama mahasiswa di Kediri, Jawa Timur.

Pertemuan merdeka.com dengan puluhan mahasiswa Thailand yang sedang tugas belajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri ini secara tidak sengaja pada Sabtu malam (1/8), saat mereka sedang makan malam di warung kaki lima.

Sepintas tak ada yang membedakan mereka dengan orang Kediri atau orang Jawa Timur pada umumnya, mulai dari wajah dan cara berpakaian, begitu juga keramahannya saat bertegur sapa. Kalau ada membedakan hanyalah bahasanya yang terdengar aneh di telinga orang Indonesia.

Setelah menyapa dengan salam “Assalamualaikum” di tambah salam yang biasa diucapkan penduduk Thailand “Sawaddi kab”, obrolan bersama mereka dimulai. Meski baru setahun di Indonesia, dengan bahasa Indonesia yang sangat terbatas akhirnya wawancara bisa dilakukan selama kurang lebih dua jam.

Sirajuddin, mahasiswa asal wilayah Songkhla, Thailand Selatan yang menjadi juru bicara mewakili kawan-kawannya dari wilayah Patani, Thailand Selatan, menceritakan mereka adalah utusan dari Majelis Agama di Thailand Selatan yang ditugaskan belajar di Indonesia.

“Kami yang dikirim ke Indonesia ini dibagi di tiga tempat yakni di STAIN Kediri, STAIN Tulungagung. Majelis Agama ada yang mengirim ke Al-Azhar dan beberapa universitas lain di jazirah Arab,” kata Siraj pada merdeka.com.

Meski boleh dibilang bersekolah di luar negeri, mereka mengaku bukanlah anak-anak orang kaya. Mereka berasal dari desa yang rata-rata pekerjaan orang tua mereka petani, pedagang dan swasta lainnya. Mereka tinggal di wilayah pedesaan.

“Sebulan kami hanya dijatah 3000 bath (setara dengan Rp 1 juta) sehingga harus kami cukup-cukupkan.Beruntung sekolah di STAIN kami gratis atas kerjasama Pemerintah Thailand dan Indonesia,” tambah Siraj.

Selain Sirajuddin ada lagi Suhaila salah satu mahasiswi asal Thailand Selatan yang mengaku sudah rindu dengan saudara-saudaranya di Thailand semenjak ia tinggalkan tanah airnya setahun lalu.

Masih menurut Suhaila, diriya dan kawan-kawannya harus menyelesaikan pendidikan di Indonesia selama 4 tahun dan baru bisa kembali ke Thailand. Ada hal yang mengganjal ketika moment lebaran jauh dari orang tua dan saudara-saudaranya.

“Kami selalu keluar bersama dengan berkelompok, sebab inilah keluarga kami di Thailand yang di sini. Semua sudah seperti saudara, ini sekaligus hiburan bagi kami saat jauh dari orang tua dan saudara apalagi di saat lebaran Idul Fitri seperti ini. Hanya telpon saja yang mengobati kerinduan kami,” kata Suhaila dengan mata sembabnya
menyimpan kerinduan.

Berbekal Keterangan Izin Tinggal Sementara (KITAS), para mahasiswa asal Thailand ini sudah mengenal banyak budaya dan wilayah di Jawa Timur. Meski harus terpisahkan jauh dengan orang tuanya mereka bangga bisa belajar di Indonesia untuk mendalami ilmu di STAIN di beberapa fakultas, mulai Syari’ah, Tarbiyah dan Ushuluddin.

Meski mereka dibesarkan di beberapa pesantren di wilayah Thailand Selatan yang 80 persen penduduknya beragama Islam dan diajari kitab kuning, namun hingga kini mereka mengaku terkendala dengan bahasa Jawa yang digunakan untuk menerjemahkan kitab kuning yang dibacakan oleh para kiai saat mengaji.

Habib, salah satu mahasiswa asal Patani, mengaku dulu dirinya ketika datang kali  pertama di Indonesia langsung menjadi santri di Ponpes Al-Amin Rejomulyo Kota Kediri di bawah asuhan KH Anwar Iskandar.

“Karena terkendala bahasa kami akhirnya pindah ke rumah penduduk untuk kost, bahasa Jawa untuk memberi makna kitab adalah kendala yang terberat bagi kami,” ujar Habib.

Meski tidak tinggal di pesantren, namun mereka mengaku masih menerapkan norma-norma agama yang diajarkan saat mereka “nyantri” di pesantren di Thailand. Salah satunya adalah menjaga cara berpakaian.

“Khusus bagi kami kaum perempuan yang berjilbab hukumnya wajib, inilah yang membedakan kami di Thailand antara orang muslim dan nonmuslim. Tetapi di Indonesia kami sulit membedakan, sebab ada juga perempuan yang tanpa jilbab ternyata beragama Islam dan ada juga yang beragama lain,” Sindir Suhaila mengakhiri perbincangan dengan merdeka.com. [ren]

Topik berita Terkait:
  1. Thailand
  2. Mahasiswa
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.