Menelisik aliran kepercayaan Sapta Dharma

Senin, 12 Mei 2014 12:31 Reporter : Jatmiko Adhi Ramadhan
Mistis. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock

Merdeka.com - Dalam kehidupan beragama memang manusia memiliki cara dan alirannya masing-masing. Dalam agama Islam, terdapat banyak sekali aliran yang menjadi kepercayaan dari setiap pemeluknya. Salah satu aliran kepercayaan masyarakat Indonesia adalah Kejawen.

Aliran Kejawen ini juga masih memiliki banyak macam dan ragam, salah satunya adalah aliran kepercayaan Sapta Dharma. Aliran Sapta Darma mewajibkan penganutnya untuk menyembah Hyang Maha Kuasa dan menjalankan hidupnya berdasarkan tujuh kewajiban suci (darma).

Dari berbagai sumber, Wahyu Sapta Darma diterima oleh Bapak Hardjosapoero di Pare, Kediri Jawa Timur pada jam 01.00 WIB, tanggal 27 Desember 1952 tepatnya malam Jumat wage. Hardjosapoero, nama aslinya Arjo Sopuro lahir pada tahun 1910 di Desa Semanding, sebelah Utara kecamatan Pare Kabupaten Kediri.

Menurut kerabat dari penganut aliran kepercayaan ini, Sri Murahmi (57), aliran kepercayaan ini menganut 3 cara sembahyang yaitu sujud, wewarah tujuh, sesanti.

"Ada tiga cara mereka menyembah tuhannya yaitu sujud, wewarah pitu (tujuh), dan sesanti," kata Sri saat dihubungi merdeka.com, Senin (12/5).

Para pemeluk aliran kepercayaan ini juga memiliki Tuhan. Tuhan menurut pemeluk agama ini, menurut Sri adalah sebuah zat yang mutlak dalam arti yang mendasar Allah Hyang Maha Kuasa adalah Zat yang bebas dari segala hubungan sebab akibat.

Biasanya menurut Sri, saat sembahyang penganut aliran kepercayaan ini duduk bersila dengan posisi sedekap mengarah ke timur dan berada di dalam ruangan kosong sendiri. Setelah melakukan posisi tersebut, penganut aliran ini akan secara pelan-pelan menjatuhkan kepalanya dari posisi duduk bersila tadi menuju sujud, dan biasanya proses ini membutuhkan waktu berjam-jam.

"Kalau sembahyang biasanya mereka duduk bersila dan sedekap di ruangan kosong lalu menjatuhkan kepalanya untuk sujud ke arah Timur. Ini biasanya lama berjam-jam saat proses menuju sujudnya," ujar Sri.

Penganut aliran kepercayaan ini juga memiliki tempat ibadah sama halnya dengan pemeluk agama lainnya. Sri mengatakan bahwa mereka biasanya mengunjungi tempat ibadahnya bernama Sanggar.

"Tempat ibadahnya namanya Sanggar, ada dua macam sanggar pertama Sanggar Candi Sapto Renggo dan Sanggar Candi Busono. Candi yang pertama hanya ada satu di Yogyakarta," Kata Sri. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Mistis
  2. Tradisi Jawa
  3. Tradisi Mistis
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini