Mendikbud Tarik Buku Tema Kelas V SD Lantaran Sebut NU Organisasi Radikal

Kamis, 7 Februari 2019 17:03 Reporter : Darmadi Sasongko
Mendikbud Tarik Buku Tema Kelas V SD Lantaran Sebut NU Organisasi Radikal Mendikbud tarik buku SD sebut NU organisasi radikal. ©2019 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy segera menarik buku tema kelas V Sekolah Dasar (SD). Penarikan dilakukan lantaran buku itu menyebut Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi radikal.

"Sudah ada kesepakatan dengan Kemendikbud, itu kita revisi. Revisi itu bisa secepatnya," kata Muhadjir Effendy di Dome Universitas Muhammadiyah Malang, Kamis (7/2).

"Dalam waktu dekat akan kita share (hasil revisi). Di web Kemendikbud ada soft copy. Hard copy kita tarik. Kita tarik dan nanti guru-guru bisa mengambil bagian itu dari website Kemendikbud. Yang penting harus segera ditarik," sambungnya.

Muhadjir mengatakan buku tersebut diterbitkan atau diproduksi berdasarkan Peraturan Menteri nomor 57 tahun 2014 sebagai bentuk implementasi dari kurikulum 2013. Kemudian direvisi dengan peraturan Menteri Pendidikan nomor 34 tahun 2016.

"Jadi sebelum saya menjadi menteri," tegasnya.

Muhadjir sendiri selama menjadi menteri mengaku belum pernah merevisi buku, kecuali penambahan melalui peraturan menteri nomor 24 tahun 2018. Desember lalu melakukan penambahan untuk mata pelajaran informatika.

"Jadi saya belum pernah melakukan revisi. Artinya buku itu sebelum saya, sudah ada," katanya menegaskan.

Mendikbud tarik buku SD sebut NU organisasi radikal 2019 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Kata Muhadjir, konteks kata radikal dalam buku tersebut sebetulnya adalah sejarah tentang perjuangan kemerdekaan nasional tahun 1920-an. Saat itu berdiri organisasi-organisasi yang oleh tim penulis dicirikan memiliki watak non kooperatif atau tidak mau berkompromi dengan pemerintah kolonial Belanda.

"Nah itu lah yang kemudian dikategorikan sebagai organisasi radikal. Jadi sebetulnya kata radikal itu dalam konteks melawan penjajah kolonial," katanya.

Lanjut Muhadjir, ketika buku itu disusun kata 'radikal' belum menjadi kata pejoratif. Tetapi sekarang ini kan radikal itu jadi sensitif.

"Kalau menurut ilmu bahasa itu kata amelioratif yang punya rasa baik. Sekarang ini kan jadi negatif, radikal itu. Ketika diajarkan kepada anak-anak bisa keluar konteks, bahkan bisa sebaliknya," katanya.

Muhadjir mengapresiasi munculnya masukan tersebut dari sejumlah guru. Sehingga langsung meresponnya sesuai dengan ketentuan.

"Karena itu saya mengapresiasi ada guru yang kritis menyampaikan kepada saya langsung tentang itu. Kenapa? Mereka tahu persis bagaimana suasana di lapangan kan. Karena itu saya respon, saya undang mereka yang terkait," pungkasnya.

Berikut ini teks isi buku tersebut:

Masa Awal Radikal
(Tahun 1920-1927-an)

Perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah pada abad ke-20 disebut masa radikal karena pergerakan-pergerakan nasional pada masa ini bersifat radikal/keras terhadap pemerintah Hindia Belanda. Mereka menggunakan asas nonkooperatif/ tidak mau bekerja sama. Organisasi-organisasi yang bersifat radikal adalah Perhimpunan Indonesia (PI), Partai Komunis Indonesia (PKI), Nahdlatul Ulama (NU), Partai Nasional Indonesia (PNI). [bal]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini