Menculik dan Memerkosa di Waktu Berurutan, Pecatan TNI Diduga Anut Ilmu Hitam

Kamis, 2 Mei 2019 12:30 Reporter : Merdeka
Menculik dan Memerkosa di Waktu Berurutan, Pecatan TNI Diduga Anut Ilmu Hitam Pecatan TNI pemerkosa bocah di Kendari. ©Liputan6.com/Ahmad Fua

Merdeka.com - Kasus penculikan dan pencabulan dilakukan seorang pecatan TNI inisial AP di Kendari terus didalami. Adapun korbannya adalah bocah sekolah dasar (SD) di sekitar Kendari.

AP kini sedang diperiksa Markas Polisi Militer Kodam XIV Hasanuddin Makassar. Komandan Kodim Kendari 1417 Kendari, Letkol Cpn Fajar Lutvi Haris Wijaya, menduga perbuatan asusila yang dilakukan selama kurun waktu enam hari itu memiliki tujuan tertentu.

"Kalau melihat jarak kejadian yang mepet sekali, tentunya ada hal yang harus dipertanyakan di situ," ujar Letkol Cpn Fajar Lutvi Haris Wijaya, Jumat (2/5).

Oleh karena itu, penyidik harus memastikan apakah pelaku melakukan itu karena kelainan jiwa atau ingin belajar ilmu tertentu. Jika ingin mempelajari ilmu hitam, diduga dia memiliki guru.

"Jika benar dia mau belajar ilmu tertentu, tentunya biasnya akan panjang dan kita akan cari siapa gurunya. Itu yang akan didalami penyidik nantinya," ujarnya.

Dia menambahkan, hasil pemeriksaan sementara, korban yang diculik anak ada yang orangtuanya berprofesi sebagai TNI adapula yang Polri. Saat ini korban sedang menjalani masa pemulihan dari trauma.

"Korban salah satunya kemenakan oknum anggota TNI, satu korban lainnya anak oknum anggota polisi," jelas dia.

Dia melanjutkan, Panglima Kodam XIV Hasanuddin melihat ini sebagai kasus besar yang melibatkan kesatuan TNI di wilayah Sulawesi Tenggara.

"Setelah selesai, akan dilaksanakan sidang militer. Surat pemecatannya sudah keluar. Sekarang tinggal sidang terkait hukuman apa yang nantinya yang akan diterima pelaku," ujarnya.

Usai diringkus di rumah warga, Rabu (1/4/2019), pelaku pedofil Adrianus Pattian langsung dibawa ke Markas Denpom Kendari. Bukannya mendatangi Polres Kendari, ratusan warga yang geram karena aksi pelaku sempat mengepung markas Denpom TNI selama beberapa jam.

Melihat peluang terjadinya kekacauan karena massa yang nyaris tak terkendali, Adrianus Pattian langsung dilarikan ke Bandara Udara Halu Oleo Kendari. Pelaku yang sudah babak belur diterbangkan ke Makassar.

"Namun, alasan diterbangkan ke Makassar bukan karena keamanan. Karena TNI masih bisa mengamankan warga, pelaku dibawa ke Makassar untuk menjalani proses pemeriksaan dan sanksi atas tindakannya di Pengadilan Militer," ujarnya.

Kapolres Kendari, AKBP Jemi Junaidi mengatakan, pihaknya sudah menyerahkan kasus kepada pihak TNI. Semua berkas, diserahkan dari Polres ke POM TNI.

"Semua berkas di Polsek, ada lima berkas diserahkan ke POM untuk dibawa ke pengadilan militer," ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Adrianus Pattian, pernah bertugas sebagai anggota TNI di Yonif 725 Woroagi sejak 2011. Pria kelahiran Romean, Kecamatan Morotai Maluku Tenggara pada 21 Januari 1994 itu ternyata hampir 10 kali melakukan aksi bejatnya.

Selain enam kali pencabulan terhadap bocah perempuan di Kendari sejak 20-29 April, Adrianus ternyata pernah melakukan percobaan pemerkosaan terhadap perempuan dewasa.

Dari informasi sejumlah pihak, dia pernah dihukum di kesatuannya pada 2017 dengan cara dibaluri sambal ditubuhnya. Pasalnya, pelaku sempat kedapatan berupaya melakukan percobaan pemerkosaan terhadap salah seorang perempuan dewasa.

Pada 2018, Adrianus juga pernah dikeroyok warga di sekitar tempatnya tertangkap di Wilayah Lorong 55 Kelurahan Wawowanggu Kecamatan Kadia. Saat itu, seorang perempuan lari dari dalam kamarnya karena hendak diperkosa pelaku.

"Kita pernah keroyok dia dengan warga lain. Dia mau sekap anak lorong, perempuan. Kita pukul lah," ujar warga Kadia, Asbar, Rabu (1/5/2019).

Selain itu, sejumlah laporan lainnya soal perilaku cabul Adrianus juga disebarkan. Meskipun belum ada pihak yang bisa dikonfirmasi.

Reporter: Ahmad Akbar Fua
Sumber: Liputan6.com [lia]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini