Mencari dalil tahlil

Sabtu, 1 Agustus 2015 10:07 Reporter : Anwar Khumaini
Ilustrasi berdoa. ©shutterstock.com/AJP

Merdeka.com - Akhir-akhir ini umat Islam sudah tidak banyak lagi yang memperdebatkan tentang boleh tidaknya tahlil, yasinan, qunut saat salat subuh, atau salat tarawih dan witir 11 atau 23 rakaat. Mereka lambat laun mulai melakukan apa yang selama ini mereka yakini.

Bahkan, fenomena yang terjadi justru menggembirakan. Orang Muhammadiyah mulai ada yang ikut tahlil, baik dengan tujuan cuma menghormati saudara atau kerabat saja, atau tujuan lainnya. Sementara orang NU juga banyak yang melakukan salat tarawih dan witir di bulan Ramadan 11 rokaat saja. Hal ini mungkin tidak terjadi pada beberapa dekade tahun sebelumnya.

Namun demikian, masih saja ada orang-orang yang tetap mempermasalahkan dan saling menyalahkan terkait bid'ah tidaknya ibadah-ibadah tahlil, qunut, yasinan di atas. Yang tidak sepakat dengan tahlil dan yasinan mengatakan bahwa yasinan dan tahlilan adalah bid’ah dholalah karena tidak pernah ada contohnya dari Rasulullah dan para sahabat. Tahlilan dan yasinan dianggap sebagai modifikasi ajaran Hindu dimana dilakukan pada 3,7 100, dan 1000 hari setelah orang meninggal dunia.

Sebenarnya apa definisi bid'ah? Menurut Imam Syafii, bid’ah adalah apa-apa yang diadakan yang menyelisihi kitab Allah dan sunah-Nya, atsar, atau ijma’ maka inilah bid’ah yang sesat. Adapun perkara baik yang diadakan, yang tidak menyelisihi salah satu pun prinsip-prinsip ini maka tidaklah termasuk perkara baru yang tercela.”

Sementara Imam Ibnu Rojab dalam kitabnya yang berjudul 'Jami’ul Ulum wal Hikam' mengatakan bahwa "bid’ah adalah apa saja yang dibuat tanpa landasan syari’at. Jika punya landasan hukum dalam syari’at, maka bukan bid’ah secara syari’at, walaupun termasuk bid’ah dalam tinjauan bahasa."

Dari segi bahasa, tahlil berasal dari kata: hallala, yuhallilu, tahlilan, yang berarti mengucapkan kalimat: Laa ilaha illallah. Kata tahlil dengan pengertian ini telah muncul dan ada di masa Rasulullah sebagaimana dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Muslim:

"Dari Abu Dzar radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: "Bahwasanya pada setiap tulang sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah, setiap bacaan tahlil itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu adalah sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat yang dilakukan seseorang dari sholat Dluha." (Hadits riwayat: Muslim).

Dalam hadits yang lain diriwayatkan, Nabi Muhamamd sangat menganjurkan umatnya untuk dzikir bersama:

"Dari Abu Sa'id al-Khudriy radliallahu 'anhu, Mu'awiyah berkata: Sesungguhnya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam pernah keluar menuju halaqah (perkumpulan) para sahabatnya, beliau bertanya: "Kenapa kalian duduk di sini?". Mereka menjawab: "Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya sebagaimana Islam mengajarkan kami, dan atas anugerah Allah dengan Islam untuk kami". Nabi bertanya kemudian: "Demi Allah, kalian tidak duduk kecuali hanya untuk ini?". Jawab mereka: "Demi Allah, kami tidak duduk kecuali hanya untuk ini". Nabi bersabda: "Sesungguhnya aku tidak mempunyai prasangka buruk terhadap kalian, tetapi malaikat Jibril datang kepadaku dan memberi kabar bahwasanya Allah 'Azza wa Jalla membanggakan tindakan kalian kepada para malaikat". (Hadits riwayat: Ahmad, Muslim, At-Tirmidziy dan An-Nasa'iy).

Jika kita perhatikan hadits ini, dzikir bersama yang dilakukan para sahabat tidak hanya sekedar direstui oleh Nabi Muhammad SAW, tetapi Nabi juga memujinya, karena pada saat yang sama Malaikat Jibril memberi kabar bahwa Allah membanggakan kreativitas dzikir bersama yang dilakukan para sahabat ini kepada para malaikat.

Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, juga dibahas keutamaan berdzikir secara berjamaah.

"Dari Al-Agharr Abu Muslim, sesungguhnya ia berkata: Aku bersaksi bahwasanya Abu Hurairah dan Abu Said Al-Khudzriy bersaksi, bahwa sesungguhnya Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Tidak duduk suatu kaum dengan berdzikir bersama-sama kepada Allah 'Azza wa Jalla, kecuali para malaikat mengerumuni mereka, rahmat Allah mengalir memenuhi mereka, ketenteraman diturunkan kepada mereka, dan Allah menyebut mereka dalam golongan orang yang ada disisiNya". (Hadits riwayat Muslim)

Dan masih banyak lagi hadts hadits shohih yang menjelaskan tentang ke utamaan dzikir berjama'ah. (Dari berbagai sumber) [war]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.