Menanam 5 Pohon Tiap Tahun Demi Melestarikan Hutan di Kalimantan Timur

Kamis, 7 November 2019 10:03 Reporter : Saud Rosadi
Menanam 5 Pohon Tiap Tahun Demi Melestarikan Hutan di Kalimantan Timur Warga Kampung Bidukbiduk Wajb Tanam 5 Pohon Tiap Tahun. ©2019 Merdeka.com/Saud Rosadi

Merdeka.com - Kampung Bidukbiduk merupakan salah satu dari 38 kampung di Berau, Kalimantan Timur, terpilih sebagai kampung iklim untuk menurunkan emisi karbon, karena dikelilingi hutan yang masih sangat luas. Menjaga kelestarian hutan, sudah jadi kebiasaan warga kampung setempat.

merdeka.com berkesempatan mengunjungi kampung Bidukbiduk, berjarak sekitar 235 kilometer dari Tanjung Redeb, pusat pemerintahan Kabupaten Berau.

Benar saja. Kampung Bidukbiduk yang berada di pesisir pantai, memang masih memiliki hutan yang cukup luas. Pepohonan menjulang tinggi khas hutan tropis, bisa terlihat dari kejauhan.

"Terpilihnya kampung Bidukbiduk sebagai kampung iklim, karena sebagai destinasi wisata, masih punya hutan bagus. Kita punya areal hutan lindung sekitar 2 ribu hektare, masih alami," kata Kepala Kampung Bidukbiduk Abdul Rakhman, di kantornya, Rabu (6/11).

Rakhman menerangkan, menjaga hutan, sudah menjadi kewajiban, sekaligus kebiasaan warga kampung. Bahkan, pemerintah kampung mengeluarkan aturan larangan merambah hutan.

"Aturan kami, lahan yang tidak digarap, diwajibkan kepada pemiliknya menanam 1 orang minimal 5 pohon. Kami juga siapkan bibit pohonnya. Juga, kami wajibkan menanam pohon karet," ujar Rakhman.

1 dari 1 halaman

Komitmen Melestarikan Alam

Kewajiban menanam pohon itu lanjut Rakhman, diterapkan bagi warga kampung setiap tahunnya. Komitmen warga setempat untuk menjaga dan melestarikan total kawasan bentangan alam seluas 14 ribu hektare, dilaksanakan dengan baik.

"Kampung Bidukbiduk ini, dihuni sekitar 600 kepala keluarga, sekitar 1.800 jiwa. Yang kami hadapi sekarang ini, bukan ancaman perambahan hutan. Tapi, ancaman abrasi pantai yang perlu mendapatkan perhatian," ungkap Rakhman.

"Untuk abrasi, perlu dapat kajian serius dari banyak pihak. Gelombang laut sampai ke pesisir ini, cukup besar. Utamanya, di pesisir utara Bidukbiduk. Meski memang itu musiman," tambahnya.

Setiap kejadian gelombang besar, sekitar 20-30 pohon kelapa di bibir pantai tumbang. "Kalau sementara dipasang beton (pemecah gelombang), justru mengurangi keindahan bibir pantai. Kan pantai indah yang kita jual kepada wisatawan," terangnya.

Di sisi lain, beragam suku hidup berdampingan dengan sangat baik di Bidukbiduk. Seperti suku Bugis, Bajau dan Mandar. "Sementara 60 persen masyarakat kami, merupakan nelayan sebagai sumber penghasilan utama masyarakat," kata dia. [gil]

Baca juga:
Walhi: Hukuman Pemerintah ke Pelaku Pembakar Hutan Seolah Galak Tapi Tak Menggigit
KLHK Diminta Objektif Selesaikan Masalah Batas Kawasan Hutan
Kementerian LHK: Perhutanan Sosial Merupakan Bagian Pemerataan Ekonomi
Pemerintah Tegaskan Selektif Dalam Proses Alih Fungsi Hutan
Jepang Ingatkan Pembangunan Pedalaman Ala Jokowi Jangan Korbankan Hutan
Ini 5 Hutan Kota Terbaik di Dunia
Jokowi Ingin Ada Pertemuan Rutin dengan Petani Bahas Perhutanan Sosial

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini