Membandingkan aksi 212 dan 412

Senin, 5 Desember 2016 09:56 Reporter : Anwar Khumaini
Membandingkan aksi 212 dan 412 Aksi Kita Indonesia. ©2016 Merdeka.com/Yayu Agustina

Merdeka.com - Dua hari setelah berlangsung aksi damai 212, aksi tandingan juga dilakukan oleh massa yang menamakan diri 'Kita Indonesia'. Aksi yang diikuti oleh ribuan orang tersebut mengusung tema keberagaman sebagai ciri khas Indonesia, yang memiliki beragam budaya, suku, serta agama.

Aksi dijadwalkan dimulai sekitar puku 06.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB. Namun sejak pukul 05.00 pagi, massa sudah mulai berdatangan. Tepat pukul 11.00 WIB, sesuai jadwal massa mulai membubarkan diri.

Dalam aksinya, mereka melakukan parade keliling Bundaran HI sambil membawa spanduk bertuliskan "Beda Itu Indonesia". Ada berbagai macam parade yang memutari sekitaran Bundaran HI dari berbagai kesenian Indonesia, seperti dari Ponorogo, Papua, Bali, dan masih banyak lagi. Peserta yang mengikuti aksi ini berasal dari berbagai kota di Indonesia, seperti Bali, Jambi, Surabaya, dan kota-kota lainnya di Indonesia.

Aksi "Kita Indonesia" digelar di sekitaran Bundaran HI, Sarinah, dan Patung Kuda, juga mendapat antusias yang tinggi dari para peserta dan juga pengunjung Car Free Day. Selain itu, massa yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia ini sebagian besar dari para pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk maju di Pilgub DKI 2017 nanti.

Mereka mengenakan atribut partai, seperti Partai Nasdem dan Partai Golkar. Padahal berdasarkan Pergub DKI, arena Bundaran HI yang sedang berlangsung Car Free Day dilarang untuk kegiatan politik.

Berdasarkan Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta No. 12/2016 tentang Pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) pasal 7 ayat 2 disebutkan bahwa HBKB tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan partai politik dan SARA serta orasi ajakan yang bersifat menghasut.

Mengomentari hal ini, Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta, Fayakhun Andriadi mengatakan, orang-orang yang beratribut partai hanya tengah bersenang-senang saja bukan sedang berpolitik.

"Kalau emang mau diambil ya ambil saja. Teman-teman ini hanya ingin identitasnya diketahui makanya pakai atribut partai. Tapi kami tidak ada kampanye politik, hanya saling ketemu satu sama lain. Have fun saja," ujarnya di Bunderan HI.

Secara keseluruhan, aksi berjalan dengan tertib dan lancar, meski dalam foto-foto yang beredar di media sosial, banyak taman yang rusak akibat diinjak-injak oleh massa, serta sampah berserakan di beberapa titik di sekitar Bundaran HI. Dari jumlah massa, jumlahnya mencapai ribuan tapi masih di bawah 100 ribu.

Jika dibandingkan dengan aksi 212 yang berlangsung pada Jumat (2/12) lalu, aksi Minggu kemarin kalah semarak. Aksi yang diikuti oleh ratusan ribu orang, bahkan bisa sampai satu juta lebih orang ini tampak lebih tertib, meski jumlah massa lebih banyak.

Aksi damai umat Islam pada 2 Desember (212) kemarin menuai simpati dari berbagai kalangan. Aksi Jumat lalu tersebut merupakan aksi pengerahan massa terbesar dalam sejarah Indonesia. Tak sedikit yang mengatakan, aksi 212 mirip dengan pelaksanaan ibadah haji di Makkah, dimana jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia berkumpul di Tanah Suci. Seperti halnya yang diungkapkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Merdeka.com memantau dari pagi pelaksanaan aksi damai di Monas. Sejak pagi, ribuan orang mulai berbondong-bondong dari berbagai penjuru menuju Monas. Pukul 08.00 WIB, Jumat (2/12), dari arah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, tampak ratusan orang berjalan kaki. Mereka membawa bekal apa adanya, berbaju putih, tampak dengan semangat menelusuri sepanjang pinggiran Jalan Raya Pasar Minggu yang sedang macet. Beberapa di antara mereka tampak membawa kue serta air mineral untuk dibagi-bagikan secara cuma-cuma.

Di Monas dan sekitarnya dari pagi sudah mulai nampak ramai oleh peserta aksi. Sedangkan di Jalan Sudirman-Thamrin, di pagi hari massa tampak tertib berjalan kaki menuju Monas. Mereka tidak sampai memenuhi semua badan jalan.

Tapi kondisi berbeda tampak di siang hari, terutama jelang salat Jumat. Ratusan ribu orang mulai memadati kawasan silang Monas. Bahkan lantaran jumlah massa sangat banyak, Monas tak mampu menampung hingga massa meluber ke jalan sepanjang Jalan MH Thamrin hingga ke Bundaran Hotel Indonesia. Cuaca mendung yang berangsur hujan deras tak membuat mereka bergeming. Mereka tetap duduk di shaf-shaf menghadap kiblat, sambil menunggu salat Jumat dimulai. Tak sedikit yang komat kamit, memanjatkan doa sambil memejamkan mata.

Saat salat jumat mulai, massa pun mulai khusyu mengikuti ibadah. Meski hujan deras, mereka berbasah-basahan mendengarkan khatib ceramah dengan berapi-api. Hujan deras, kian membuat salat Jumat kemarin terasa begitu syahdu.

Jika peserta aksi damai laki-laki melaksanakan salat Jumat, peserta perempuan tampak minggir, mencari tempat untuk sekadar berteduh dari hujan yang cukup deras. Karena tak banyak tempat berteduh, tak sedikit dari para peserta aksi wanita yang kehujanan, tapi tampak pasrah. Malahan mereka tampak menikmati pemandangan ratusan ribu orang bersujud di sepanjang Jalan Thamrin hingga Monas.

Usai salat, massa dengan tertib langsung membubarkan diri. Ada yang langsung pulang, banyak juga yang masih berada di tempat menikmati sajian makan siang gratis dari para donatur.

Singkatnya, aksi 212 lebih banyak diisi dengan doa, sementara aksi 412 lebih banyak menampilkan sisi keberagaman budaya Indonesia yang memang memiliki kekayaan budaya patut dibanggakan. [rhm]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini