Marzuki tuding Pius ngotot minta jatah proyek gedung DPR?

Kamis, 14 November 2013 12:23 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Marzuki tuding Pius ngotot minta jatah proyek gedung DPR? Marzuki Alie diperiksa KPK. ©2013 Merdeka.com/M. Luthfi Rahman

Merdeka.com - Ketua DPR Marzuki Alie geram ketika disebut dapat jatah dalam proyek pembangunan gedung DPR sebesar Rp 250 juta. Dia justru mengklaim sebagai salah satu penggagal proyek senilai Rp 1,8 triliun itu.

Marzuki yang juga menjabat sebagai ketua BURT DPR itu malah melempar tudingan tersebut ke wakil ketua badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR. Namun ia tak menyebut siapa orang yang ngotot agar pembangunan gedung itu dilanjutkan, padahal banyak kejanggalan yang ia endus kala itu.

Lalu siapa yang ngotot agar pembangunan gedung baru DPR itu diteruskan? Benarkah Marzuki berdebat dengan anggota Fraksi Partai Gerindra Piyus Lustrilanang, yang saat itu menjadi wakil ketua BURT?

Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Martin Hutabarat membantah jika partainya saat itu ngotot untuk meneruskan proyek pembangunan gedung DPR. Dia bahkan yakin jika Pius tak terlibat seperti apa yang dikatakan Marzuki Alie tersebut.

"Dia enggak terlibat sama sekali. Yang ngotot untuk melanjutkan kan banyak, yang ngotot menolak di paripurna saya," jelas Martin di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (14/11).

Martin pun menegaskan jika Gerindra saat itu tegas menolak pembangunan gedung baru DPR tersebut. Terkait dengan sikap Pius yang diketahui mendukung, dia berkilah, itu adalah sikap pribadi sebagai pimpinan BURT saat itu.

"Dibuat pernyataan resmi fraksi kita, menolak pembangunan itu resmi, Pius kan dia memimpin mewakili wakilnya Pak Marzuki pimpin tim di BURT, dia selalu mengatakan dia melaksanakan sebagai pimpinan, itu yang saya katakan," ujar dia.

Seperti diketahui, Marzuki marah saat namanya dicatut pihak tertentu telah menerima jatah sebesar Rp 250 juta dari proyek pembangunan gedung DPR baru itu. Dia mengaku sempat memaki wakil ketua BURT yang ngotot untuk menggolkan pembangunan gedung itu.

"Saat rapat BURT, saya meminta agar proyek Gedung DPR ini ditunda dan disosialisasikan lagi ke publik. Wakil Ketua BURT komplain dengan saya, bahwa mereka sudah rapat berkali kali, saya tidak bisa seenaknya memutuskan untuk menunda, BURT itu kolektif kolegial bukan otoritas Ketua BURT. Saya jawab, silakan saja ke Sekjen, tapi saya perintahkan Sekjen tetap sosialisasi. Saat sosialisasi itulah respons publik yang marah dan itu menjadi alasan untuk menunda pelaksanaan tender," kata dia.

"Saya lupa waktunya, saat tender proyek itu tertunda, datang salah satu Fraksi ke saya memprovokasi kesempatan bagi saya selaku Ketua DPR apabila Gedung DPR selesai dibangun, maka tandatangan Marzuki Alie akan terpampang sepanjang sejarah di gedung DPR baru itu. Saya mengerti maksud fraksi tersebut dan saya senyum senyum saja.

Selanjutnya datang lagi satu Fraksi lainnya dengan membawa USD 50 ribu dalam map (saya tidak melihatnya), protes mereka terima terlalu kecil padahal mereka akan hajatan nasional, infonya atas perintah saya. Saya tanya info itu dari mana. Disebutkan dari salah satu wakil Ketua BURT," tegas dia.

"Saya panggil wakil Ketua BURT itu, saya maki maki dan saya minta di-clear-kan bahwa saya tidak ada kaitan apapun dengan itu, Kalau mau nyolong jangan bawa-bawa nama orang lain. Kalau tidak saya akan buka, walaupun saya tidak memegang buktinya, karena USD 50 ribu itu dibawa kembali fraksi tersebut," pungkasnya. [ren]

Topik berita Terkait:
  1. Marzuki Alie
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini