Ma'ruf Amin Ingin Santri Harus Pintar Mengaji dan Jadi Usahawan

Minggu, 20 Januari 2019 03:00 Reporter : Merdeka
Ma'ruf Amin Ingin Santri Harus Pintar Mengaji dan Jadi Usahawan Ma'ruf Amin di Bandung. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno selalu mendengungkan konsep ekonomi di setiap momen kampanyenya. Bahkan berbagai istilah dikeluarkannya. Menanggapi hal itu, Cawapres nomor urut 01, Ma'ruf Amin juga memiliki konsep ekonomi yang akan dibawanya nanti, jika terpilih di pemilu 2019. Hal ini disampaikan saat peresmian Kedai Kopi Abah, di Bandung.

"(Kopi Abah) ini gerakan para santri milenial yang mencoba supaya produktif. Memang saya bilang sama santri, jadi santri itu jangan jadi beban. Harus kreatif, harus membangun diri di bidang ekonomi, supaya mandiri," kata Ma'ruf di lokasi, Sabtu (19/1).

Dia menegaskan konsepnya bernama GUS IWAN yaitu Santri Bagus, Pintar Ngaji, Usahawan. Jadi ini akan menjadi ikon ke depan.

"Jadi santri bagus, pintar ngaji, usahawan. Jadi santripreneur, harus kita kembangkan. Dan supaya dapat kontribusi ke bangsa dan negara," ungkap Ma'ruf.

Ekonomi Umat

Dengan kemandirian tersebut, maka, lanjut dia, ekonomi arus baru Indonesia akan terwujud. Sehingga mencegah terjadinya kesenjangan.

"Kita luncurkan arus baru ekonomi Indonesia. Yaitu membangun ekonomi dari bawah, ekonomi umat. Sulaya yang bawah ini jangan lemah, tapi kuat. Kenapa umat, karena bagian terbesar bangsa ini umat. Kalau umat kuat, bangsa ini kuat. Kalau umat lemah, bangsa lemah," jelas Ma'ruf.

Dia menegaskan, ini dilakukan tanpa adanya benturan dan mensinergikan dengan semua pihak. Karenanya ekonomi umat harus didorong memberikan nilai tambah.

"Kita dorong agar ekonomi umat bisa produksi yang beri nilai tambah. Jangan sampai kita hanya jual bahan baku, yang tidak memiliki nilai tambah," jelas Ma'ruf.

Menurut dia, selain didorong menciptakan nilai tambah, juga mendorong pembinaan yang baik. Pasalnya, dengan cara inilah, bisa menguatkan produksi nasional Indonesia.

"Kalau ada kesengajaan, produk kita tidak berkualitas, tidak kompetitif, maka yang terjadi, kita hanya kebanjiran impor. Tidak bisa mengekspor, karena produk kita sangat lemah. Tapi kalau seimbang, maka akan terjadi keseimbangan antara impor dan ekspor. Ini akan menjadi negara yang kuat," pungkasnya.

Reporter: Putu Merta Surya Putra [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini