Maria Pauline Ditangkap, DPR Minta Penegak Hukum Usut Dalang Kasus Pembobolan BNI

Jumat, 10 Juli 2020 17:41 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
Maria Pauline Ditangkap, DPR Minta Penegak Hukum Usut Dalang Kasus Pembobolan BNI Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad. ©2020 Liputan6.com/yopi

Merdeka.com - Buronan kasus pembobol BNI senilai Rp1,7 triliun Maria Pauline Lumowa ditangkap setelah 17 tahun menjadi buronan. Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, meminta aparat penegak hukum terus mendalami apakah masih ada pelaku utama selain Maria.

"Menurut catatan kami, memang harus didalami lebih lanjut apakah pelaku utama itu memang pelaku utama atau kemudian masih ada dalang atau pelaku utama yang sampai saat ini masih aman-aman saja oleh aparat penegak hukum," kata Dasco di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (10/7).

"Harapan kami ditangkapnya ibu Maria ini dapat membuka tabir gelap yang selama 17 tahun ini tidak bisa kita ketahui kebenaran dari kasus tersebut," tambahnya.

Dasco meminta kepada aparat penegak hukum untuk kembali melakukan sinergi dan berupaya menangkap para buronan lain.

"Dengan upaya yang serius para buronan-buronan yang belum ditangkap itu bisa kemudian dengan kerjasama yang baik bisa dipulangkan atau ditangkap oleh aparat penegak hukum," kata Dasco.

Politikus Partai Gerindra itu mengapresiasi aparat penegak hukum yang bekerja dengan gigih dan berhasil menangkap Maria.

"Kami apresiasi kepada aparat penegak hukum yang telah bersinergi dan dengan gigih, selama 17 tahun akhirnya kemudian yang bersangkutan bisa dibawa kembali ke Tanah Air untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya," tuturnya.

Maria Pauline Lumowa merupakan pembobolan kas BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif. Pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, Bank Negara Indonesia (BNI) mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau sama dengan Rp1,7 triliun dengan kurs saat itu kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

Aksi PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari 'orang dalam' karena BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd, Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd, dan The Wall Street Banking CoRpyang bukan merupakan bank korespondensi BNI.

Pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor.

Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri, namun Maria Pauline Lumowa sudah lebih dahulu terbang ke Singapura pada September 2003 alias sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri.

Selama buron, Maria sempat bolak balik Singapura-Belanda. Maria diketahui sudah menjadi warga negara Belanda sejak 1979. Pemerintah Indonesia juga sempat meminta Kerajaan Belanda untuk mengekstradisi Maria namun ditolak.

Maria akhirnya ditangkap di Serbia oleh NCB Interpol Serbia di Bandara Internasional Nikola Tesla Serbia pada 16 Juli 2019. Penangkapan berdasarkan red notice yang diterbitkan Interpol pada 22 Desember 2003. [lia]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini